Jumat
16 Oktober 2026 | 5 : 22

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Eri Cahyadi: Kota Modern Tak Boleh Kehilangan Jati Diri Budaya

pdip jatim 261017 apeksi 1

SINGKAWANG – Kemajuan sebuah kota tidak cukup diukur dari jalan yang mulus, gedung yang menjulang, atau pesatnya pembangunan infrastruktur. Bagi Eri Cahyadi, kota yang benar-benar maju adalah kota yang mampu berkembang tanpa kehilangan identitas dan warisan budayanya.

Pesan itu disampaikan Ketua Dewan Pengurus Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (Apeksi) yang juga Wali Kota Surabaya tersebut saat menghadiri Forum Rembuk Kebudayaan Kota Kita di Kota Singkawang, Kalimantan Barat, Jumat (16/10/2026).

Eri mengingatkan, modernisasi perkotaan tidak seharusnya hanya berorientasi pada pembangunan fisik. Kebudayaan lokal perlu menjadi bagian dari arah pembangunan agar perubahan zaman tidak mengikis sejarah dan nilai-nilai yang tumbuh di tengah masyarakat.

“Kami ingin sampaikan bahwa kami di setiap kota yang ada di Apeksi, modernisasi kami itu bukan hanya memperkuat identitas dari segi beton, aspal dan bangunan tinggi, tapi kami ingin membalut kota kami dengan budaya,” kata Eri.

Menurutnya, budaya bukan sekadar pelengkap dalam agenda pemerintahan atau kegiatan seremonial. Kebudayaan merupakan bagian penting yang membentuk karakter kota sekaligus memperkuat ikatan sosial masyarakat.

“Kota yang hebat dan kota yang modern adalah kota yang bukan melupakan budayanya,” imbuhnya.

Eri meyakini, pembangunan yang berpijak pada budaya memungkinkan kota terus bertumbuh tanpa tercerabut dari akar sejarahnya. Identitas lokal justru dapat menjadi kekuatan untuk membangun karakter daerah dan mendukung kesejahteraan masyarakat.

“Ketika budaya ini menjadi satu kekuatan besar, maka insya Allah kota itu akan tumbuh tapi tidak akan pernah melupakan sejarahnya. Maka di situlah kota itu akan menjadi kota yang kuat. Dan saya yakin dengan budayalah kota ini akan semakin sejahtera,” ujarnya.

Karena itu, pelestarian budaya tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah. Masyarakat dan berbagai pemangku kepentingan perlu terlibat agar tradisi, sejarah, dan nilai-nilai lokal tetap hidup dalam keseharian warga.

“Karena budaya adalah jiwa utama dalam membangun karakter kota,” tuturnya.

Di forum tersebut, Eri juga mengajak para wali kota anggota Apeksi memperkuat kerja sama dalam menghadapi persoalan daerah. Salah satunya penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), yang membutuhkan kepedulian serta dukungan lintas wilayah.

Menurutnya, daerah yang menghadapi bencana tidak semestinya dibiarkan berjuang sendiri. Solidaritas antarpemerintah kota diperlukan agar dukungan dapat diberikan kepada daerah yang membutuhkan.

“Hari ini ketika kita diuji Tuhan dengan Karhutla, maka seyogyanya seluruh wali kota yang ada di Indonesia bersatu padu menguatkan saudara-saudara kita. Kita masih teringat ketika ada bencana di Aceh bagaimana Apeksi ini menjadi satu kekuatan menguatkan sahabat-sahabat kita,” katanya.

Eri juga mendorong pertukaran pengalaman dan praktik baik antarkota. Setiap daerah memiliki keunggulan yang dapat dipelajari dan dikembangkan di wilayah lain, sesuai dengan kebutuhan serta karakter masing-masing.

“Kami tidak bisa berdiri sendiri, karena apa yang ada di kelebihan di Kota Singkawang pasti akan diambil oleh Aceh. Apa yang ada kelebihan di Jayapura pasti kami ambil di Surabaya. Apa yang ada di Surabaya akan ambil Salatiga,” ujarnya.

Bagi Eri, kekuatan Apeksi bukan terletak pada persaingan untuk menentukan kota yang paling unggul. Organisasi tersebut justru harus menjadi ruang bagi pemerintah kota untuk berbagi pengetahuan, saling membantu, dan memperkuat kapasitas masing-masing.

“Karena buat kami kesempurnaan wali kota-wali kota itu adalah ketika kota yang memiliki kelebihan, bisa memberikan kelebihan itu kepada kota-kota yang lainnya,” tegasnya.

Ia berharap kolaborasi antarkota terus diperkuat untuk mendorong pembangunan berkelanjutan yang berorientasi pada kesejahteraan masyarakat.

Kemajuan, dengan demikian, bukan hanya tentang perubahan wajah kota secara fisik, melainkan juga kemampuan merawat budaya, memperkuat solidaritas, dan menjaga jati diri daerah.

“Karena Apeksi hadir untuk kota bukan siapa yang terbaik di antara kita, tetapi bagaimana kita maju bersama dan bagaimana Apeksi bisa membawa kota-kota ini menjadi kota yang lebih baik untuk masyarakatnya masing-masing,” pungkasnya. (gio/pr)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

EKSEKUTIF

Eri Cahyadi: Kota Modern Tak Boleh Kehilangan Jati Diri Budaya

SINGKAWANG – Kemajuan sebuah kota tidak cukup diukur dari jalan yang mulus, gedung yang menjulang, atau pesatnya ...
KABAR CABANG

DPC Lamongan Bantu Air Bersih 6 Desa Terdampak Kekeringan

LAMONGAN – Memasuki puncak musim kemarau yang dipicu fenomena iklim El Nino, Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI ...
EKSEKUTIF

Pantau Pasar Tradisional, Wabup Antok Minta Dinas Cari Strategi Stabilkan Harga Daging Ayam

NGAWI – Wakil Bupati Ngawi Dwi Rianto Jatmiko meminta organisasi perangkat daerah (OPD) terkait mencari strategi ...
LEGISLATIF

Data Desil Bansos Bermasalah, Sri Untari Dorong Pemutakhiran Lebih Cepat

JAKARTA – Ketidakakuratan data kesejahteraan dan lambatnya pemutakhiran berisiko membuat bantuan sosial (bansos) ...
EKSEKUTIF

344 Koperasi Desa Merah Putih di Kediri Harus Kantongi SLF Sebelum Beroperasi

KEDIRI – Pemerintah Kabupaten Kediri memastikan 344 unit Koperasi Desa Merah Putih (KDKMP) yang telah disiapkan ...
KRONIK

Perhatikan Nasib Ibu Saena dan Delapan Anaknya, Hakim: Kami Bantu Fasilitasi Pendidikan Mereka

BANGKALAN – Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Bangkalan, Nur Hakim, memberikan perhatian terhadap kondisi ibu ...