oleh

Doa Alumni Ponpes Besar Ini Khusus untuk Kemenangan Gus Ipul-Puti

-Berita Terkini-8 kali dibaca

JEMBER – Jelang Istighotsah Kubro bertajuk “Mengetuk Pintu Langit” di Lapangan Jackcloth, Jember, ratusan alumni pondok pesantren (ponpes) besar di Jawa Timur berkumpul di Ponpes Nurul Islam, Antirogo, Kecamatan Sumbersari, Minggu (15/4/2018).

Di Ponpes asuhan KH Muhyiddin Abdusshomad ini, mereka khusus mendoakan pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Saifullah Yusuf (Gus Ipul) dan Puti Guntur Soekarno, agar menjadi pemimpin Jawa Timur melalui Pilkada 2018.

Para alumni tersebut di antaranya dari Ponpes Lirboyo Kediri, Ponpes Zainul Hasan Genggong Probolinggo, Ponpes Sidogiri Pasuruan, Ponpes Ploso, Kediri, dan Ponpes Annuqayah Sumenep.

Hadir juga para kyai pengasuh ponpes, di antaranya KH Mutawakkil Alallah (Ponpes Zainul Hasan, Genggong), KH Anwar Iskandar (Ponpes Al Amin, Ngasinan, Kediri), KH Nawawi Abdul Jalil (Ponpes Sidogiri, Pasuruan), dan KH Fahrurrozi (Ponpes An Nur, Bululawang, Malang).

Sedangkan Gus Ipul dan Puti tampak hadir bersama Fatma Saifullah Yusuf, dan Nyai Juwariyah Fawaid Syamsul Arifin, Pengasuh Ponpes Salafiyah Syafi’iyah, Sukorejo, Situbondo.

Acara itu juga dihadiri jajaran pengurus partai pengusung, seperti dari PDI Perjuangan, PKB, PKS, dan Gerindra. Doa untuk kemenangan Gus Ipul-Mbak Puti dan untuk kelancaran istighosah ini dipimpin Kyai Muhyiddin.

Usai berdoa, Gus Ipul pun mengatakan, bahwa Istigosah Kubro sebagai pengganti kampanye akbar ini adalah atas saran para kyai. Dia pun bersyukur dukungan dari para ulama dan kyai terus bertambah untuk pasangan calon nomor urut dua.

“Alhamdulillah dukungan para ulama dan kyai terus bertambah. Kami akan selalu nderek dhawuh kyai sepuh,” ucap Gus Ipul.

Dia juga menyampaikan terima kasih, karena beberapa ulama yang dahulunya belum bergabung, kini bisa satu pandangan paslon nomor 2. “Ini merupakan anugerah dan barokah dari para kyai,” sebut keponakan KH Abdurrahman Wahid (Gusdur) ini.

Pengasuh Ponpes Genggong KH Hasan Mutawakkil Alallah mengatakan, Jawa Timur menjadi barometer nasional. Hal ini dilihat dari kondusivitas yang terjaga.

“Mengapa bisa seperti itu? Salah satunya, karena masyarakat Jawa Timur masih patuh kepada kyai. Sehingga kalau ada konflik, bisa diredam dengan cepat,” jelasnya.

“Sehingga, ketaatan kepada kyai adalah kebutuhan. Kalau kita mau selamat, salah satunya adalah patuh dengan ulama,” imbuh Kyai Muttawakil.

“Amplop putih jangan sampai luntur, disimpan di atas sumur. Gus Ipul dan Mbak Puti Guntur, Insya Allah, akan membuat Jawa Timur makmur,” tutup Kyai Muttawakil sambil berpantun. (goek)

rekening gotong royong