oleh

Di Depan Puti, Warga Tempeh Lumajang Keluhkan Biaya Pendidikan

-Berita Terkini-20 kali dibaca

LUMAJANG – Calon Wakil Gubernur Puti Guntur Soekarno kembali dikeluhi warga soal biaya pendidikan putra-putrinya.

Dalam pertemuan dengan warga Tempeh Kidul, Lumajang, Selasa (13/3/2018), seorang warga mempertanyakan ikhwal biaya pendidikan kepada Puti.

Dia berharap pasangan Cagub-cawagub Saifullah Yusuf – Puti Guntur Soekarno menggratiskan biaya pendidikan, khususnya di SMA-SMK yang saat ini dikelola Pemprov Jatim.

Menurut Puti, pasangan nomor urut dua bakal mengangkat program pendidikan gratis untuk SMA/SMK di Jawa Timur.

Program tersebut diberi nama Dik Dilan atau pendidikan gratis dilanjutkan.

“Sekarang ini SMA/SMK Negeri yang dikelola Pemprov Jawa Timur ditarik biaya. Ini memberatkan masyarakat. Apakah nanti Mbak Puti punya rencana menggratiskan?” tanya warga tersebut.

Puti menegaskan, wajib belajar 12 tahun menjadi program Presiden Jokowi. Karena itu pelaksanaannya harus diamankan di Jawa Timur.

“Gus Ipul dan saya telah sepakat untuk menggratiskan kembali SMA/SMK Negeri yang dikelola Pemprov Jawa Timur. Ini diperlukan anggaran sekitar Rp 1,5 triliun,” ungkap Puti.

Komitmen Gus Ipul dan Puti Guntur itu sudah dituangkan dalam dokumen visi-misi keduanya, yang diserahkan ke KPU Jawa Timur.

“Kami menyebutnya program Dik Dilan. Singkatan dari pendidikan gratis dilanjutan,” kata Puti.

Dengan jaminan kebijakan itu, Puti Guntur berharap, kelak ke depan putri-putri di Jawa Timur dapat menempuh tuntas pendidikan 12 tahun. Kendala-kendala biaya diatasi dengan arah kebijakan yang pro-rakyat.

“Karena pemerintah kota dan kabupaten juga telah membuat kebijakan pendidikan gratis untuk SD dan SMP. Sedang SMA/SMK Negeri menjadi tanggung jawab Pemprov Jawa Timur,” jelasnya.

Selain sekolah negeri, Gus Ipul dan Puti Guntur telah merencanakan pemberian subsidi untuk Madrasah Aliyah dan SMA/SMK swasta. “APBD Jawa Timur cukup untuk membiayai kebijakan itu,” ujar dia.

Di Tempeh Kidul, cucu Bung Karno itu juga bertemu dengan para pengrajin batik tradisional. Ia bercerita, saat Bung Karno menjadi presiden, ada kebijakan nasional untuk menjadikan batik sebagai pakaian nasional.

“Saat itu batik menjadi alat pemersatu bangsa,” kata Puti.

Seorang pengrajin pun mengusulkan agar kelak siswa-siswa sekolah di Jawa Timur diwajibkan untuk mengenakan pakaian batik tradisional.

“Aspirasi itu saya catat, Bu. Mohon doa restu dan dukungan untuk Gus Ipul dan saya,” ucapnya. (goek)