oleh

Daya Dukung Sungai Merosot Akibat Penyempitan dan Pencemaran

pdip-jatim-eddy-paripurnaSURABAYA – Daya dukung sungai di Jatim merosot karena menyempitnya bantaran sungai dan tercemarnya air sungai oleh limbah industri dan domestik. Akibatnya, lahan kritis meluas di sekitar wilayah sungai, banjir dan kekeringan.

”Kali Brantas dan Bengawan Solo itu sudah tercemar berat, nilai Storet-nya (Metode untuk menentukan status mutu air) minus 64 sampai minus 166. Juga masih ada ribuan hektar lahan kritis, banjir dan kekeringan,“ kata Drs H Eddy Paripurna MSi, Ketua Komisi D DPRD Jatim, Selasa (20/6/ 2016).

Yang sangat memprihatinkan, menurut Eddy, masih banyaknya industri atau pabrik di sekitar wilayah sungai masih saja membuang limbahnya ke sungai. “Di sekitar wilayah Kabupaten Mojokerto sampai Gresik, masih banyak pabrik yang membuang limbahnya  ke sungai. Termasuk pabrik milik BUMN,“ ungkap pria yang juga Wakil Ketua DPD PDI Perjuangan Jatim itu.

Akibat pencemaran sungai yang parah ini, menurut Eddy, air sungai Kali Brantas di sepanjang wilayah Kabupaten Mojokerto hingga Gresik itu seharusnya tidak dijadikan bahan baku air minum. “Sudah beberapa tahun ini Kali Brantas sudah tidak layak sebagai bahan baku air minum,“ ujarnya.

Selain pencemaran air sungai, lahan kritis di sekitar wilayah sungai masih sangat luas. Menurut Eddy, di sepanjang Bengawan Solo itu terdapat sekitar 300 ribu hektar lahan kritis.

“Di Kabupaten Pacitan terdapat 130 ribu hektar lahan kritis dan Kabupaten Bojonegoro 173 ribu hektar lahan kritis,“ ungkap dia.

Permasalahan kondisi bantaran sungai bantaran sungai dan badan sungai, tambah Eddy, juga sangat memprihatinkan.

Akibat buruknya kualitas bantaran dan badan sungai tersebut, di waktu musim hujan,sungai gampang meluap dan mengakibatkan  kebanjiran. Sedangkan musim kemarau, sungai mudah mengering yang mengakibatkan wilayah sekitarnya kekeringan.

Agar mampu mendukung produktivitas lahan, lanjutnya, perlindungan wilayah sungai harus menggunakan metode yang ramah lingkungan.  Perlindungan wilayah sungai yang sebelumnya menggunakan benteng beton, harus diganti degan penanaman pohon.

“Sepanjang wilayah sungai akan menjadi catchment area (tangkapan air) dan resapan air, sehingga dapat meminimalisir banjir yang merugikan masyarakat,“ tuturnya. (guh)

rekening gotong royong