Bravo Cijantung Deklarasi Dukung Paslon 01, Agum: Ada Magnet di Badannya Jokowi

 17 pembaca

JAKARTA – Ratusan relawan Bravo Cijantung mendeklarasikan dukungannya untuk pasangan calon (paslon) presiden dan wakil presiden nomor urut 01, Joko Widodo-Ma’ruf Amin. Bravo Cijantung adalah kelompok yang menyatakan sebagai anak-anak purnawiran TNI. 

Deklarasi itu dihadiri mantan Komandan Jenderal Kopassus, Jenderal TNI (Purn) Agum Gumelar.

Saat acara deklarasi, Agum mengatakan, selama ini Cijantung kerap diidentikkan dengan Kopassus. Dan Kopassus kerap diidentikan dengan Prabowo Subianto, seorang calon presiden pada Pilpres 2019. 

Namun, kata Agum, Bravo Cijantung justru tidak mendukung Prabowo, melainkan Jokowi. “Selama ini Cijantung diidentikkan dengan Kopassus, Kopassus diidentikkan dengan Prabowo Subianto. Hal itu tidak benar,” kata Agum di hadapan relawan yang berseragam kaos putih, di kawasan Pasar Rebo, Jakarta Timur, kemarin.

Agum menjelaskan, terminologi ‘anak Cijantung’ sendiri merujuk kepada sejumlah kompleks militer yang terdiri dari berbagai satuan AD, Kostrad, Kavaleri, Paspampres, termasuk Kopassus. Ada pula Cijantung II yang merupakan kompleks pamen/pati AD dari berbagai kesatuan.

Agum dan danjen-danjen Kopassus juga sebagian berumah dinas di Cijantung II. Deklarasi Relawan Bravo Cijantung, kata Agum, bertujuan untuk menegaskan dukungan ke paslon nomor urut 01.

“Deklarasi ini dimaksudkan untuk menyangkal dari kelompok-kelompok yang mendukung paslon 02 yang mengatasnamakan seluruh anak Cijantung,” tandasnya.

Dia pun mengungkap alasannya mendukung Jokowi kembali menjadi presiden. Menurut dia, ada ‘magnet’ dalam diri Jokowi yang membuat dirinya dan banyak masyarakat Indonesia mendukung capres nomor urut 01 itu.

Awalnya, Agum menceritakan awal perkenalannya dengan Jokowi di tahun 2011. Agum yang saat itu masih menjabat sebagai Ketua Komite Normalisasi PSSI menggelar kongres di Solo. Selama menyiapkan kongres, Jokowi yang kala itu menjabat sebagai wali kota banyak membantu.

“Saya bilang, eh pak wali kota itu kerjaan di kantor, dijawab (Jokowi) masih ada wakil saya,” kata Agum.

Agum melihat sosok Jokowi seperti bukan wali kota. Menurut Agum, Jokowi pribadi yang sangat sederhana. “Enggak pernah ada pengawal. Nanti kalau sudah siang Pak Jokowi ajak makan pinggir jalan,” ujar Agum.

Agum menuturkan, saat mengikuti pilkada Solo yang kedua kalinya, Jokowi tak berkampanye. Tapi, yang bersangkutan menang telak dengan perolehan suara lebih dari 90 persen.

Hal ini membuktikan Jokowi mendapat kepercayaan penuh dari warga Solo. Di pilkada DKI Jakarta, Jokowi yang notabene bukan warga Jakarta pun bisa menang. “Ini orang dari Solo, datang ke Jakarta, kok bisa menang? Ini memang ada magnet di badannya Pak Jokowi ini,” tandas Agum.

Agum menyebut, di era global seperti sekarang ini, Indonesia memerlukan pemimpin yang bisa menjadi pelayan masyarakat. Jokowi, kata dia, adalah sosok yang tepat untuk memimpin.

“Di mata saya Jokowi adalah pelayan masyarakat. Kita juga mendambakan pemimpin bijak, dalam arti seorang pemimpin yang punya tekad keinginan kuat apa yang sudah baik yang dilakukan pendahulu dan meninggalkan yang tidak baik, tanpa caci maki,” tuturnya. (goek)