Bangsa Gangster

 1,674 pembaca

SUKA tidak suka, gangster bagian dari hidup kita. Kemunculannya berasal dari ‘bawah tanah’. Beriringan dengan kehidupan masyarakat modern berkembang biak. Gangster cerminan dari kondisi suatu negara, suatu bangsa dan suatu masyarakat yang sejarah dan ceritanya dipenuhi ketimpangan. Sejarah dan cerita bernuansa ketimpangan ini oleh Fred Gardaphè (2006) disebut “astoria”.

Pada mulanya, “Astoria” merupakan area pemukiman di kota New York, Amerika. Di sanalah, terjadi pertemuan lintas dunia Italia-Amerika. Melalui representasi media, baik dalam bentuk koran, televisi, karya sastra, maupun sinema Amerika, ia lebih dikenal sebagai budaya mafioso. Representasi media ini ternyata cenderung semena-mena.

Tanpa mendalami sejarah dan cerita mafioso, media tersebut menyamakan dengan gangster. Ringkasnya, budaya mafioso sama dengan budaya gangster. Itu sebabnya, “Astoria” diartikan sebagai “Ahistoris dan Astoris”, digabung menjadi “Astoria”.

Di Italia, khususnya di daerah Sicilia, ada tiga macam makna yang membentuk gugusan kata “mafioso”. Pertama, serigala (wolves) yang sejarah hidupnya dekat dengan dunia malam. Para bandit dari Sicilia bekerja di malam hari. Demi mencuri harta penjajah, tuan tanah dan para pejabat yang serakah. Hasil curiannya diberikan kepada penduduk desa Sicilia yang rata-rata tergolong miskin. Para penduduk setempat menandai suara serigala dengan munculnya para bandit populis ini.

Kedua, kebodohan (cafone) yang dipelihara. Mayoritas penduduk Sicilia adalah petani. Tetapi, mereka sering dibodohi oleh tuan tanah, pejabat, dan penjajah yang ingin menguasai lahannya. Janji-janji perbaikan nasibnya ternyata tak pernah berbuah manis. Aksi-aksi perbanditan yang sulit terlacak telah mengganggu stabilitas hidup para penguasa.

Para penguasa curiga bahwa di antara rakyat Sicilia terdapat anggota bandit. Tetapi, stempel kebodohan telah menyelamatkannya. Rakyat Sicilia membuat gerakan hukum tutup mulut (omerta). Mereka pura-pura tidak tahu. Karena, mereka hanyalah ‘orang bodoh’. Stigma ‘kebodohan’ menjadi bagian dari menjaga kehormatan desa. Itulah bentuk rasa terima kasih dan balas budi penduduk Sicilia terhadap bandit populis.

Ketiga, hubungan yang kuat antara ibu dan anaknya. Kata “mafiosi” dalam tradisi masyarakat Sicilia berarti “l’ordine della famiglia” atau “man with a belly” (‘pria dengan perutnya’). Kekuatan yang dimiliki anak lelakinya adalah karunia untuk diabdikan kepada ibunya. Masyarakat Amerika memakai gender atau maskulinitas terkait dengan bapak-anak, bukan ibu-anak.

Kita terkecoh. Kita mengambil mentah-mentah paradigma gender yang berpusat pada kultur patriarki. Ini adalah kultur Amerika. Tetapi, kita abai dengan bangsa lain yang berbeda budaya, seperti Italia. Gangster (dalam pikiran Amerika sentris) identik dengan ‘keluarga palsu’, berantakan (broken home) dan kebapakan.

Itu berbeda halnya dengan mafioso. Dalam tradisi mafioso, ibu adalah nomor satu. Itu artinya, maskulinitas mafioso pada dasarnya absen (from macho to zero). Sekalipun mafioso adalah sosok pemberani, tak ada satu pun dari mereka yang ingin melukai hati ibunya.

Di Rusia, gangster dan mafioso sudah tidak ada bedanya. McCauley (2001) menyebut gangster tak lebih dari mafia kapitalisme. Semula, mereka adalah sekelompok bandit patriotik yang hadir pada masa perang sipil. Ketika komunisme runtuh dekade awal 90-an, kapitalisme mulai menggantikannya perlahan.

Budaya korporasi mulai dijalankan. Pinjaman bank dibuka besar-besaran. Pasar bebas mulai diberlakukan. Politisi merangkap juga sebagai pebisnis. Begitu sebaliknya. Korupsi pun terjadi. Mereka saling bersaing menguasai sektor industri. Termasuk, bisnis keamanan dan tender-tender privatisasi pembangunan. Muncul kepercayaan publik. “Para pebisnis di sana adalah bagian dari gangster. Setiap gangster beririsan dengan otoritas politik”.

Terdapat dua macam gangster di sana. Keduanya saling bersaing maupun berkolaborasi untuk mengendalikan negara. Yakni, gangster pengembara dan gangster menetap. Yang disebut pertama ini tergolong kelompok kejahatan yang terorganisir di luar pemerintahan. Sebaliknya, yang disebut kedua tergolong gangster di dalam internal pemerintahan.

Setiap dari mereka seakan saling menetapkan batas-batas yang tak boleh dilanggar. Gangster pengembara adalah pemerintahan bayangan. Mereka membentuk sistem oligarki. Gangster menetap adalah pemerintahan autokrasi. Mereka membentuk sistem otoriter. Keduanya sama-sama kelompok parasit dalam negara demokrasi. Mereka takkan peduli penuh dengan suara rakyatnya. Kebijakan yang keluar dari mereka cenderung mengamankan dan menguntungkan kelompoknya.

Belakangan ini, di Indonesia fenomena gangster ramai dibicarakan publik. Bahkan, di Surabaya dilakukan razia gangster berskala besar yang dipimpin langsung wali kotanya. Upaya ini mereka gelar setiap malam. Geng Motor yang ada di Jakarta dan Bandung juga bermigrasi ke kota-kota lain. Mereka lebih pantas disebut gangster ala Amerika. Karena, tak satu pun dari jaringan sosial mereka terlibat di dalam jaringan bisnis, hukum dan politik seperti di Rusia.

Memberantas gangster seperti di Jakarta, Bandung, Surabaya dan kota lainnya tampak lebih mudah. Mereka tidak memiliki ikatan sosial yang kuat. Mereka adalah gangster pengembara. Tepatnya, para pengembara beringas di jalanan, sudut kota dan tempat mangkal anak muda. Kendati kelompok mereka terorganisir, antargangster saling bermusuhan. Sehingga, takkan mungkin terjadi ikatan sosial yang kuat di antara mereka. Apalagi, mereka rata-rata berasal dari keluarga apatis. Yakni, orang tuanya sepertinya acuh tak acuh pada pola asuh anak-anaknya.

Tetapi, kita lupa bahwa ada gangster lain yang lebih besar kekuatannya dari mereka. Mereka berada di luar jangkauan masyarakat. Keberadaannya agak jauh lebih sulit terdeteksi. Mereka adalah bagian dari gangster berkerah putih. Mereka bukan golongan ‘orang bodoh’ seperti mafioso di Sicilia. Mereka mungkin lebih cerdik dari gangster Rusia. Tanda gangster pengembara maupun menetap ada pada dirinya.

Di manakah mereka berada? Bagaimanakah cara kerja mereka menghisap dan ikut campur tangan dalam negara? Jawabannya, saya tidak tahu. Mungkin juga, Anda. Jika pun tahu jawabannya, saya dan Anda akan dicap ‘orang bodoh’ di mata mereka. Lebih-lebih, akan dianggap ‘orang gila’. Sama ‘gilanya’ dengan mereka. (*)