Rabu
09 September 2026 | 2 : 34

DPD PDIP Perjuangan Jawa Timur

Selamat Ulang Tahun, Wiji Thukul. Kau di Mana?

PDIP-Jatim-Eri-Irawan-31032023

Oleh M. Eri Irawan*

SEHARUSNYA Wiji Thukul berulang tahun hari ini dan masih menulis puisi. Membacakannya dengan tanda seru. Dengan lidahnya yang cadel yang tak mampu menutupi kemarahannya terhadap kemiskinan, pembelaannya terhadap mereka yang dipinggirkan, juga kerisauannya terhadap ketidakadilan.

Wiji Thukul adalah wajah dari mereka yang percaya bahwa ketertindasan harus dilawan, termasuk dengan kata-kata. Dia adalah Paman Doblang dalam puisi WS Rendra yang tak hanya “minum air dari kaleng karatan”, tapi juga meneriakkan bahwa “perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata”. Dan mungkin karena itu, dia diculik pada sebuah hari yang nahas dan tak kembali.

Wiji Thukul dilahirkan dengan nama Widji Widodo, di Solo, Jawa Tengah, pada 26 Agustus 1963. Ayahnya seorang penarik becak. Ibunya sesekali berjualan ayam bumbu. Dia lekat dengan kemiskinan, namun “keberanian” adalah nama tengahnya. Wiji Thukul tahu, hidup untuk diperjuangkan, bukan untuk dikeluhkan.

Pernikahannya dengan Siti Dyah Sujirah alias Sipon pada 1989 dikaruniai dua anak: Fitri Nganthi Wani dan Fajar Merah. Di sela-sela pekerjaannya sebagai buruh pabrik pelitur, dia melatih teater dan melukis bersama warga Kampung Jagalan, tempatnya tinggal. Dia mengajarkan kepada orang banyak untuk menyuarakan hidup mereka. “Suara-suara itu tak bisa dipenjarakan, di sana bersemayam kemerdekaan,” kita selalu mengingat petikan ‘Sajak Suara’ ini.

Saat Rezim militer Orde Baru memaksa diam, Wiji Thukul menyiapkan pemberontakan melalui kata-kata, sajak, juga tindakan. Ia berada di tengah aksi massa yang memprotes pencemaran lingkungan pabrik tekstil, dan di antara para buruh yang memperjuangkan hak mereka.

Mobil aparat keamanan menghantam matanya. Namun ia tidak menyerah. “Puisiku bukan puisi tapi kata-kata gelap yang berkeringat dan berdesakan mencari jalan. Ia tak mati-mati meski bola mataku diganti,” serunya dalam “Aku Masih Utuh dan Kata-kata Belum Binasa”.

Aktivitasnya sebagai Ketua Jaringan Kerja Kesenian Rakyat (Jaker) membuatnya masuk daftar target rezim. Ia tak sendiri. Sejumlah aktivis lintas ideologi dibidik karena dianggap mengganggu stabilitas negara. Wiji Thukul bukannya tak tahu kalau namanya cukup nyaring di telinga penguasa. “Aku bukan artis pembuat berita tapi memang aku selalu kabar buruk buat para penguasa,” katanya dalam sajak “Aku Masih Utuh dan Kata-kata Belum Binasa”.

Dan Wiji Thukul tak gentar. “Jika kau menghamba kepada ketakutan, kita memperpanjang barisan perbudakan,” katanya dalam sajak “Ucapkan Kata-Katamu”.

Namun rezim Orde Baru bukanlah rezim yang sabar. Tentara hanya menunggu waktu untuk menciduk para aktivis demokrasi, termasuk Wiji Thukul. Setelah peristiwa 27 Juli 1996, penyerbuan terhadap kantor PDI, ia tak lagi aman dan menjadi pelarian di negerinya sendiri. Tidak karena mencuri atau mencopet, tapi karena menyuarakan kegelisahan mereka yang lama tak didengarkan.

Soeharto akhirnya turun dari kekuasaannya pada Mei 1998. Massa yang marah, mahasiswa yang bersemangat, dan ketidaksetiaan orang-orangnya tak bisa lagi dikendalikan Sang Jenderal. Dia tahu hari-harinya sudah berakhir. Senja kala sudah tiba.

Orang-orang bersorak. Demokrasi telah dipulihkan di negeri ini. Namun Wiji Thukul tidak pernah kembali. Hingga sang istri, Sipon, meninggal dunia lpada Kamis, 5 Januari 2023.

Kini, Fitri Nganthi Wani dan Fajar Merah masih mencari jawaban atas pertanyaan sederhana: ke mana lelaki yang kami cintai, siapa yang harus bertanggung jawab atas kerinduan kami, ke mana tentara yang berderap menutup mata dan menyumpal mulutnya.

Bukankah seharusnya ada yang bertanggung jawab? Pertanyaan itu hanya membentur angin. Hingga kini. (*)

*Wakil Ketua DPC Banteng Muda Indonesia, Kota Surabaya

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

EKSEKUTIF

Aset Rp124 M Kembali ke Pemkot, Eri Siapkan untuk Ekonomi Kerakyatan dan Fasilitas Publik

SURABAYA – Pemkot Surabaya kembali mengamankan aset lahan seluas 96.932 meter persegi di Kelurahan Jeruk, Kecamatan ...
LEGISLATIF

Romy Soekarno Dorong AI Merah Putih untuk Jaga Kedaulatan Data Nasional

JAKARTA – Anggota Komisi II DPR RI Romy Soekarno mendorong pemerintah mengembangkan gagasan “AI Merah Putih” ...
LEGISLATIF

Puan: DPR Siap Dukung Tambahan Anggaran Mitigasi Bencana, Manfaat Harus Lebih Baik

JAKARTA – Ketua DPR RI Puan Maharani memastikan DPR siap mendukung penambahan anggaran untuk mitigasi dan ...
KRONIK

Serahkan Insentif Guru Rohani Lintas Agama, Bupati Ipuk: Bagian dari Penguatan Pendidikan Karakter

BANYUWANGI – Ratusan guru rohani lintas agama menerima insentif dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi di ...
LEGISLATIF

Puan Desak Pelaku Pembakaran Lahan untuk Sawit Segera Ditindak

JAKARTA – Ketua DPR RI Puan Maharani mendesak pelaku pembakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang kemudian ...
LEGISLATIF

Jalan Gador-Pakis Rusak dan Lama Dikeluhkan, Doding Turun Langsung Cek Kondisi

TRENGGALEK – Ketua DPRD Kabupaten Trenggalek Doding Rahmadi turun langsung meninjau kondisi jalan rusak yang ...