JAKARTA – Fraksi PDI Perjuangan di DPR tidak terlalu mengkhawatirkan nilai tukar rupiah yang terus melemah terhadap dolar AS, akan berpengaruh kepada kehidupan masyarakat.
“Rakyat tak risau soal nilai tukar, turun naiknya dolar. Yang penting mereka bisa beli beras,” kata Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPR RI, Olly Dondokambey, Selasa (29/9/2015).
Menurut Olly, masyarakat di daerah masih mempunyai daya beli di tengah melemahnya rupiah. Sebab masih percaya dengan program-program pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla, di antaranya penyaluran dana desa.
Contoh lainnya, yakni program Kartu Indonesia Pintar, Kartu Indonesia Sehat, dan Kartu Keluarga Sejahtera. Program-program ini, sebut Olly, tak jauh berbeda sifatnya dengan bantuan langsung tunai (BLT) yang dikeluarkan Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono. “Bedanya, bantuan kita berbentuk program, bukan tunai,” jelas dia.
Soal melemahnya nilai tukar rupiah yang sempat menembus angka Rp 14.800 per dolar AS, pihaknya menolak jika pemerintahan Jokowi-JK disalahkan. Dia menyatakan, Bank Indonesia-lah yang seharusnya menjaga stabilitas nilai tukar.
“BI harusnya cepat berkoordinasi dengan pemerintah. Tanggung jawab sepenuhnya ada di BI,” tegasnya.
Pesiden Jokowi dan jajarannya, tambah Olly, sudah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi pelemahan ekonomi dari dampak ekonomi global. Salah satunya adalah mengeluarkan paket kebijakan ekonomi yang di antaranya dapat mempermudah berbagai prosedur bagi pengusaha yang akan menanamkan investasi.
“Contohnya, kalau dulu mau bangun rumah sakit, banyak sekali izinnya. Itu sekarang dipermudah. Mau investasi listrik, syaratnya juga sekarang dipermudah,” urainya.
Dia menambahkan, upaya pemerintah itu memang tidak akan berdampak secara langsung terhadap nilai tukar. Menurutnya, BI, sebagai lembaga yang mengatur kebijakan moneter, seharusnya bisa membuat nilai tukar rupiah kembali membaik. (goek/*)
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS