Jumat
04 April 2025 | 8 : 11

Musik Tongling dan Para Ksatria Perambah Belantara Gunung Lawu

pdip-jatim-magetan-diana-sasa-290421.b

MAGETAN – Tongling, akronim dari alat musik kentongan dan seruling.  Dalam hikayatnya, tongling dimainkan para ksatria untuk me-ninabobo-kan makhluk halus yang mengganggu mereka saat membabat hutan belantara untuk pemukiman yang kini dikenal dengan nama: Dusun Wonomulyo.

Dusun ini bagian dari Desa Genilangit Kecamatan Poncol. Berada di kaki Gunung Lawu, Wonomulyo kerap berselimut kabut.

Tongling, kedua alat musik ini terbuat dari bambu. Di daerah ini bambu memang tumbuh subur dan beranak pinak dalam rumpun. Sehingga untuk mendapatkan bahan tongling bisa didapat dengan mudah.

Kesenian musik Tongling di tempat ini, saat sekarang dibina oleh Diana Amaliya Verawatiningsih atau akrab disapa Diana Sasa, anggota DPRD Jatim dari Fraksi PDI Perjuangan. Hal itu seperti diakui oleh salah seorang pengurus kelompok musik Tongling Pringgowulung, Winarto.

Sebagai sebuah seni musik, tidak diketahui secara pasti sejak kapan kesenian musik tongling dimainkan. Hanya saja, menurut Winarto, pada 21 Januari 1992 ada 4 warga yang mendirikan kelompok musik. Mereka: Jono (almarhum), Sastro Sarengat, Supono dan Darsono. Kelompok musik itu yang kemudian menggunakan peralatan tongling sekaligus menjadikannya nama kelompok, yakni Tongling Pringgowulung.

Lanjut Winarto, ketika itu, salah seorang pendiri kelompok yakni Jono almarhum, terinspirasi dari sejarah babat Dusun Wonomulyo. Dimana tongling digunakan saat proses babat dusun.

Babat dusun dimulai saat ksatria dari Keraton Mataram Ki Hajar Wonokoso (leluhur dusun) bersama 7 pengikutnya datang ke hutan belantara di kaki gunung Lawu. Mereka bermaksud membabat hutan untuk pemukiman. Tetapi babat hutan bukan hal yang mudah.

“Sebelum menjadi pemukiman, Dusun Wonomulyo adalah hutan belantara. Hutan rimba yang dihuni banyak jin dan lelembut (makhluk halus),” ungkap Winarto Rabu (28/04/2021).

Namun, Ki Hajar Wonokoso tak gentar menghadapi semua halangan. Dikisahkan jika ia memiliki senjata berupa seruling sakti. Begitu seruling dimainkan sembari ngidung (berdendang), para mahkluk halus tersebut merasa nyaman dan tenang seperti di-ninabobo-kan.

Sementara kentongan, ditabuh Ki Hajar Wonokoso untuk mengumpulkan para pengikutnya dalam proses babat Dusun Wonomulyo tersebut.

Atas dasar cerita itu, Jono almarhum dan seniman lokal mengabadikan sejarah babat Dusun Wonomulyo dengan mengekspresikannya dalam bentuk kesenian musik tongling. Kini, musik tongling kerap ditampikan pada even di tingkat lokal bahkan nasional. (rud/hs)

BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag

Baca Juga

Artikel Terkini

KRONIK

Soal Rencana Pertemuan Megawati dan Prabowo, Jubir PDI Perjuangan: Silaturahmi Tokoh Bangsa Ini Sangat Penting

BLITAR – Juru bicara (jubir) PDI Perjuangan Ahmad Basarah menyebutkan, rencana pertemuan Ketua Umum (Ketum) PDI ...
HEADLINE

Tradisi Keluarga Jelang Puasa dan Pasca Lebaran, Megawati Nyekar Makam Ayahandanya, Bung Karno

BLITAR – Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri berziarah atau nyekar ke makam Presiden pertama Republik ...
KRONIK

Open House Bupati Banyuwangi, Sejumlah Teman Difabel Berbagi Inspirasi Kesuksesan

BANYUWANGI – Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, menggelar open house di Pendopo Sabha Swagatha, Kamis ...
KRONIK

Catat, Ini Tanggal dan Tempat Gelaran Festival Ketupat Sumenep 2025

SUMENEP – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep akan menggelar Festival Ketupat 2025 pada Senin, 7 April 2025, di ...
KRONIK

Diaspora Banyuwangi Kumpul Harumkan Tanah Kelahiran dan Kuatkan Solidaritas

BANYUWANGI – Ratusan perantau asal Banyuwangi berkumpul melepas kangen akan tanah kelahiran dalam Festival Diaspora ...
HEADLINE

Kada PDI Perjuangan yang Absen di Retret Gelombang I, Megawati Instruksikan Ikut Gelombang II

JAKARTA – Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri memerintahkan para kepala daerah dari partai berlambang ...