oleh

8 Jejak Mega di Politik Nasional

JAKARTA – Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri merayakan hari ulang tahun (HUT) yang ke-71 hari ini. Acara HUT Megawati tersebut dimeriahkan dengan pagelaran teater kebangsaan berjudul “Satyam Eva Jayate” di Teater Besar, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

“Satyam Eva Jayate adalah semboyan dari bahasa Sansakerta yang berarti hanya kebenaran yang berjaya,” kata Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto, Senin (22/1/2018).

Menurut Hasto, tema tersebut dipilih, karena dianggap sesuai dengan keyakinan yang dipegang Megawati Soekarnoputri dalam menjalani kehidupan. Termasuk saat memimpin negara, dan PDI Perjuangan.

Presiden RI kelima ini memang jatuh bangun meniti karir politik dan membangun PDI Perjuangan hingga menjadi pemenang pada Pemilu 2014 lalu.

Berikut delapan jejak Megawati di kancah politik nasional:

  1. Ditindas Orde Baru

Tak mudah menjadi anak Bung Karno di Era Orde Baru. Tekanan terus datang jika trah Soekarno terjun ke ranah politik. Hal itu pula yang menimpa Megawati Soekarnoputri. Pemerintah tak mau Mega memimpin Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Lahirlah PDI tandingan yang dipimpin Soerjadi tahun 1996.

Tanggal 27 Juli 1996 massa kelompok Soerjadi yang didukung pemerintah menyerang kantor DPP PDI di Jl Diponegoro. Peristiwa ini memancing kerusuhan, sedikitnya lima orang dilaporkan tewas dan puluhan lain luka-luka.

  1. Kemenangan PDI Perjuangan di Pemilu 1999

Angin politik berubah seiring dengan Reformasi 1998. Presiden Soeharto lengser dan pada tahun 1999, untuk pertama kali sejak Pemilu 1955, digelar Pemilu yang demokratis.

Terbukti kader dan simpatisan PDI lebih berpihak pada Mega daripada Soerjadi. PDI kubu Mega yang berubah nama menjadi PDI Perjuangan berhasil memenangkan pemilu.

Perolehan suara terbesar PDIP diperoleh di Bali sebesar 79 persen dan angka yang terkecil di Provinsi Sulawesi Selatan sebanyak 6,6 persen. Meski hanya 11 provinsi, PDIP menguasai 33,7 persen suara secara nasional.

  1. Dari Wapres menjadi Presiden

Dengan kemenangan telak PDI Perjuangan di Pemilu 1999, para pendukung mendorong Mega menjadi presiden. Namun Sidang Umum 1999, justru memilih KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai Presiden. Mega kalah tipis dalam voting pemilihan presiden. 313 Suara berbanding 373. Dia menjadi wapres mendampingi Gus Dur.

Ternyata Gus Dur tak menjabat sampai 5 tahun. Sidang Istimewa MPR, 23 Juli 2001, mencabut mandat Gus Dur sebagai presiden. Mega pun akhirnya naik menjadi orang nomor satu di republik ini.

  1. Penjaga ajaran Bung Karno

Megawati selalu mengutip ajaran Soekarno dalam setiap pidatonya. Mega memang sudah diajari ayahnya sejak masih sangat belia.

Dalam beberapa kunjungan, Soekarno pun mengajak Megawati. Misalnya saat Soekarno ke AS mengunjungi sahabatnya Presiden John F Kennedy. Mega pun melihat ayahnya menemui para pemimpin dunia di Istana.

  1. Mempersiapkan Jokowi dari wali kota sampai jadi presiden

Naluri politik Megawati tak melesat terhadap Joko Widodo (Jokowi). Pada 2005, Mega menugaskan Jokowi maju di Solo. Dua periode Jokowi berhasil menang. Pada 2012 tugas lain lagi diberikan oleh Mega.

Jokowi dari Solo dijagokan maju di Pemilihan Gubernur DKI. Jokowi menang. Mengalahkan calon petahana Fauzi Bowo. Belum genap 5 tahun, Jokowi kembali diminta Mega maju di Pilpres 2014. Hasilnya, Jokowi lagi-lagi menang.

Berulang kali Mega menegaskan dirinya berhak menunjuk kadernya untuk maju di palagan politik (Pilkada dan Pilpres). Bagi Mega, siapa pun kader PDIP, termasuk Jokowi adalah petugas partai.

  1. Queenmaker politik Indonesia

Tak bisa dipungkiri, Megawati kini menjadi Queenmaker politik Indonesia. Di PDI Perjuangan, seluruh keputusan penting harus melalui keputusan Megawati. Mega menjadi penentu untuk pemilihan ratusan kepala daerah di tingkat provinsi, kabupaten dan kota.

Mega juga yang akan menentukan siapa capres dan cawapres yang akan diusung PDI Perjuangan tahun 2019 mendatang.

  1. Aktif mewakili Indonesia damaikan dua Korea

Megawati berkali-kali diundang oleh pemerintah Korea Selatan dan Korea Utara. Salah satunya adalah untuk memperjuangkan perdamaian antara dua negara yang kini terpisah.

Menurut Megawati, Demokrasi Pancasila membimbingnya untuk menebar damai, utamanya dalam meredam konflik antara dua negara, Korea Utara dan Selatan.

“Pilihan saya tidak akan pernah berubah. Saya memilih bersama rakyat Korea Selatan dan Korea Utara untuk terus mengejar kedamaian kedua negara. Saya selalu mengatakan, Anda adalah serumpun. Kita harus percaya, selalu ada jalan keluar jika kita memilih cara damai untuk menyelesaikan konflik dan perselisihan,” tegas Megawati.

  1. Sekolah partai untuk kaderisasi

Megawati terus mendorong adanya sekolah partai agar proses kaderisasi bisa berjalan. Dia merasa tidak sreg kalau harus mencomot dari luar saat ada pilkada.

Sekolah partai yang diikuti para calon kepala daerah dan wakil kepala daerah bertujuan mempersiapkan pemimpin ideologis serta mewujudkan tradisi politik membangun peradaban.

“Calon pemimpin harus dikader, makanya ada kaderisasi. Jangan bapak-bapak kaget ikut sekolah partai untuk bisa mengetahui isi perut PDIP, apa yang boleh dilakukan di sini dan tidak boleh. Saya katakan aturan partai begitu,” tegas Mega. (merdeka)