Urai Kemacetan, Surabaya Bisa Jadi Contoh

pdip jatim - LL macetDENPASAR – Surabaya satu-satunya kota besar di Indonesia yang telah menerapkan manajemen lalu lintas terkoneksi internet bernama Surabaya Intelligent Transport System (SITS). Kata Wali Kota Tri Rismaharini, sistem yang bisa memantau keadaan lalu lintas secara realtime, sehingga bisa segera diambil tindakan ketika terjadi kemacetan ini bisa diterapkan di kota lainnya di Indonesia.

Menurut Risma, SITS bisa juga dipakai di ibu kota yang hampir tiap hari pengguna jalan terjebak kemacetan. “Iya bisa, kalau memang bisa mengontrol (sistemnya),” kata Tri Rismaharini kepada wartawan, di Denpasar, Bali, Jumat (14/11/2014).

Dia enggan mengomentari wacana Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melarang sepeda motor melintas di jalan protokol. Hanya dia mengatakan, kalau melakukan sebuah kebijakan, dia selalu membuat alternatifnya ke masyarakat.

Ketika sebuah kebijakan tak menyediakan alternatif bagi masyarakat, jelas Risma, maka masyarakat hanya akan menjadi korban. “Bagaimana masyarakat bisa survive di dalam hidupnya kalau dia tidak punya alternatif,” ujar wali kota dari PDI Perjuangan tersebut.

Saat ini ada 1.000 kamera pengawas (CCTV) yang terpasang di jalan-jalan di Surabaya. Sebagian besar penggal jalan hingga taman kota pun terpantau. Sebut saja Taman Pelangi dan Taman Bungkul.

Dari CCTV tersebut bisa dipantau tingkat kemacetan dari suatu ruas jalan untuk bisa segera diambil tindakan. “SITS itu, saat jalan penuh maka kita harus segera lakukan operasi untuk hambat jalan akses lainnya,” urainya.

Untuk menjalankan sistem ini, tambah Risma, hanya dibutuhkan kedisiplinan dan kesigapan untuk menjalankan CCTV. Jika hanya memasang CCTV tetapi tidak sigap mengurai kemacetan, kata dia, maka sistem secanggih apapun tidak akan bekerja secara efektif.

Dia mencontohkan, ketika kemacetan disebabkan ada truk mogok, maka Pemkot Surabaya langsung bergerak cepat mengirimkan mobil derek. Meski jumlah mobil derek yang dimiliki Pemkot Surabaya saat ini hanya lima unit, penanganan cepat tersebut bisa menekan kemacetan di kotanya.

Sebelum SITS, Surabaya menerapkan Area Traffic Control System (ATCS). Sistem canggih yang diluncurkan pada 1997 tersebut dipasang di 11 persimpangan besar di Surabaya. Salah satunya di depan Kebun Binatang Surabaya (KBS).

ATCS memanfaatkan sensor berbahan tembaga yang ditanam di dalam aspal di belakang stop line (marka putih sebelum lampu lalu lintas). Sensor tersebut bisa mendeteksi kendaraan yang melintas. Datanya dipakai sebagai bahan pengaturan lampu dan rambu lalu lintas.

Kini ATCS tidak lagi dipakai. Sebab, tiap tahun lapisan aspal selalu ditambal sehingga sensor kian tak peka. Sementara, SITS bersumber pada sensor kamera yang dipasang di dekat persimpangan. Datanya lantas diolah dengan aplikasi khusus untuk mengatur lama tidaknya lampu lalu lintas. Sejumlah persimpangan pun dilengkapi kotak khusus untuk tempat mengolah data. (pri/*)