Upaya Hanum Menjadikan Sidoharjo jadi Pusat Budidaya Maggot BSF di Kabupaten Mojokerto

Kades Sidoharjo, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto H Rifan Hanum (kiri)

ADA sebuah keinginan yang kuat dari H Rif’an Hanum, Kepala Desa Sidoharjo, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto, menjadikan Sidoharjo sebagai pusat budidaya maggot, belatung atau larva dari lalat Black Soldier Fly (BSF).

Sebab, tak hanya mengurangi problem persampahan, Hanum ingin warga Sidoharjo terangkat ekonominya dengan membudidayakan Maggot BSF.

SIANG itu di pendopo Balai Desa Sidoharjo, Rif’an Hanum tampak berbicara serius dengan seseorang melalui perangkat selulernya. Sesekali kepala desa yang dilantik pada Maret 2019 itu tertawa lepas di sela obrolannya yang terdengar lebih banyak memberi penjelasan kepada lawan bicaranya.

Beberapa saat kemudian, dengan raut muka berseri, Hanum menemui reporter media ini. Menurutnya, baru saja dia memberi penjelasan singkat dengan salah seorang kepala desa yang tertarik dengan budidaya maggot.

Padahal, aku Hanum, budidaya maggot yang memanfaatkan lahan kosong di pekarangan Posyandu di desanya, baru dia lakukan bersama beberapa warga setempat sekitar satu bulan yang lalu. Yakni sehari sebelum peringatan kemerdekaan RI, tepatnya pada 16 Agustus lalu.

Budidaya maggot, lanjut Hanum, masih jarang dilakukan masyarakat. Bisa jadi, sebutnya, karena yang dibudidayakan adalah jenis larva atau belatung yang selama ini dikonotasikan sebagai menjijikkan, biang bau busuk dan penyakit.

Namun, sebutnya, masyarakat desanya malah merespon positif, setelah mengetahui maggot BSF tidak seperti belatung-belatung yang biasanya ada di persampahan atau di bangkai binatang. Maggot yang dihasilkan lalat BSF pun bukan larva yang menjadi medium penyakit.

Maggot BSF, terang Hanum, dalam proses siklus pertumbuhannya, membutuhkan sampah sebagai bahan makanan. Khususnya sampah organik dari limbah rumahan, seperti sayuran sisa, buah, sisa makanan atau yang lainnya dari jenis sampah organik.

“Kalau warga di sini mendukung. Teman-teman kepala desa juga banyak yang tertarik, dan berminat untuk mengembangkan maggot ini,” ujar Hanum, Senin kemarin, sambil menyebutkan beberapa kepala desa di Kabupaten Mojokerto.

Selain untuk penanganan sampah rumahan, terang pria yang juga Pembina PAC GP Ansor Kecamatan Gedek ini, maggot juga dibudidayakan karena memiliki nilai ekonomis yang tinggi.

Nilai ekonomi tinggi karena maggot BSF mengandung nutrisi yang amat baik. Kandungan asam amino dan proteinnya adalah sumber nutrisi dan zat yang dibutuhkan setiap hewan ternak untuk tumbuh sehat dan kuat.

Maggot tidak hanya baik untuk ayam, namun juga ikan, dan hewan peliharaan rumah lainnya seperti burung, iguana, tokek, dan sebagainya. Tidak hanya asam amino dan protein, maggot BSF juga mengandung protein sebesar 40 persen.

“Selain perawatannya sangat mudah, harganya juga cukup tinggi. Seng penting ojo jembek-an (merasa jijik),” tambah Hanum.

Sementara untuk pemasaran, Hanum mengaku tidak ada masalah. Sebelumnya dia sudah mengirim orangnya untuk belajar bagaimana budidaya maggot ini bisa berhasil.

“Kalau pemasaran saya kira tidak ada masalah. Harga di pasaran itu per gram bisa mencapai 5.000-6.000 rupiah. Sebelumnya kami juga sudah kirim orang kami untuk belajar di Pondok Al-Azhar Mojokerto, karena disana sudah budidaya duluan,” terangnya.

Ketua Taruna Merah Putih (TMP) PDI Perjuangan Kabupaten Mojokerto ini juga menargetkan, ke depan akan membuat Sidoharjo menjadi desa pusat budidaya Maggot di Mojokerto.

Terkait itu, sekarang sudah ada beberapa warga setempat yang melakukan budidaya rumahan. “Modalnya kan kecil, tinggal beli ember, bibit kita beri. Setelah panen kita yang beli dari warga,” tuturnya.

“Semoga tercapai desa ini sebagai Pusat Budidaya Maggot di Mojokerto,” ucap Hanum menutup pembicaraan. (nasrullah)