Tokoh NU di Jatim Marakkan Bursa Kandidat Kepala Daerah dari PDIP

SURABAYA – Kalangan Nahdliyin memarakkan bursa kandidat kepala daerah/wakil kepala daerah melalui PDI Perjuangan di pilkada yang akan digelar serentak di 19 kabupaten/kota di Jawa Timur 2020 mendatang.

Sebut saja, pengurus Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) Jawa Timur, Dwi Astuti, yang mendaftar sebagai Bakal Calon Wakil Wali (Bacawawali) Kota Surabaya, Rabu (11/9/2019). Dwi Astuti mengambil formulir pendaftaran di kantor DPD PDI Perjuangan Jatim, di Jalan Kendangsari Industri, Surabaya.

Pada hari yang sama, Ketua PCNU Kabupaten Malang dr Umar Usman mengambil formulir pendaftaran sebagai bakal Cabup Malang di kantor DPC PDIP setempat. Dokter Umar selama ini juga menjabat Direktur RSUD Kota Malang .

Selain dokter Umar, Ketua Lembaga Pendidikan Maarif (LPM) PCNU Kabupaten Malang Dr Hasan Abadi juga mendaftar sebagai bakal Cabup Malang melalui PDIP. Hasan Abadi merupakan Rektor Universitas Raden Rahmat (Unira) Kepanjen.

Sebelumnya, mantan Ketua PCNU Lamongan, Bi’in Abdussalam pada Sabtu (7/9/2019) lalu mendatangi Kantor DPC PDIP Lamongan untuk mengambil formulir Bacabup Lamongan guna kontestasi Pilkada 2020.

Terkait alasannya mendaftar sebagai bakal Cawali Surabaya, Dwi beralasan karena partai ini masih menjadi pemenang di Kota Pahlawan. Terbukti, kursi di periode 2019-2024 PDIP punya 15 kursi di DPRD Surabaya.

Dia optimistis mendapat rekomendasi dari PDIP untuk maju Cawali Kota Surabaya. Dia melihat partai yang dipimpin cucu Bung Karno ini mempunyai kultur yang dinamis.

Sedang dokter Umar mendaftar Cabup Malang karena ingin lebih menyatukan kalangan nasionalis dan religius.

“Saya pilih PDI Perjuangan karena ingin merukunkan nasionalis dan religius. PDI Perjuangan ini merupakan partai pemenang yang pertama membuka pendaftaran,” kata Umar.

Sementara, Rektor UNIRA Kepanjen Hasan Abadi menegaskan, pihaknya memilih PDIP karena memiliki visi yang sama dalam memperhatikan masyarakat kecil.

“Kami merasa satu visi dengan PDIP. Dimana sama-sama memperjuangkan wong cilik. Kami kader NU juga bagian dari grass root masyarakat wong cilik yang selama ini tidak pernah ada persoalan,” ujarnya. (goek)