Teologi Kepahlawanan

pdip jatim - ilustrasi teologi kepahlawananOleh: Fathorrahman Ghufron

TANGGAL 10 November adalah simbol historis kepahlawanan yang pernah digelorakan 69 tahun lalu. Bung Tomo yang menjadi ikon perlawanan terhadap penjajah di Surabaya tercatat sebagai inspirator perjuangan dan pengorbanan rakyat kala itu.

Secara simultan, satu dengan yang lain membentuk ukhuwah wathaniyah, bergerak dalam barisan terdepan menghalang setiap upaya penjajah yang ingin menguasai Tanah Air yang sudah dideklarasikan kemerdekaannya.

Untuk mengenang jasa Bung Tomo dan yang lain, rakyat Indonesia menggelar ritus perayaan yang penuh semarak. Berbagai kegiatan bernuansa “kepahlawanan” telah disiapkan jauh hari dengan aneka rupa. Bahkan, bingkai kepahlawanan dipersonifikasi pada wujud benda dan rangka yang dihormati sebagai ekspresi balas jasa. Itulah kita yang penuh rela meluangkan waktu dan ruang untuk merefleksikan salah satu bagian penting dari sejarah perjalanan kebangsaan dan keindonesiaan berupa hari pahlawan.

Namun, cukupkah simbol kepahlawanan itu berhenti pada seremonial belaka? Di sinilah tanggung jawab kita semua untuk menghidupkan semangat kepahlawanan dalam konteks yang berkelanjutan. Hal ini supaya perjuangan dan pengorbanan mereka tidak hanya dikenang sebagai jasa yang pasif, tetapi menjadi jasa yang aktif (perbuatan baik yang mengalir/amal jariyah) yang bisa mendulang pelipatgandaan pahala yang Tuhan berikan kepada mereka.

Dalam kaitan ini, peran kepahlawanan mereka termanifestasi dalam gerakan perjuangan plus pengorbanan. Mereka berjuang tidak hanya pada level niat, perencanaan, dan pelaksanaan secara naluriah semata, tetapi pada pengorbanan jiwa dan raga yang dihibahkan untuk Tanah Air. Sebab, bagi mereka, membela Tanah Air adalah sebagian dari iman (hubbul wathan min al iman). Lalu, bagaimanakah memanifestasikan iman dalam konteks kemanusiaan dan keindonesiaan?

Jihad kemanusiaan

Konsep keimanan yang disematkan Bung Tomo tidak hanya berhenti pada level theomorfis-eskatologis, tetapi beranjak pula pada level anthromorfis-liberatif. Iman menjadi komitmen pembebasan dari belenggu penjajah. Maka, semangat jihad yang mereka kobarkan dan didukung oleh gerakan resolusi jihad yang didengungkan oleh KH Hasyim Asy’ari berjalin kelindan dalam ruang gerak yang konsolidatif.

Bahkan, gerakan ini menjadi patriotisme umat—meminjam istilah Mohamed Talbi—yang menginterkoneksikan semua latar belakang kalangan. Sebab, negara Indonesia yang saat itu ingin meneguhkan kembali identitas kemerdekaannya butuh kehadiran bangsa patriotik yang terdiri atas beragam umat beragama, etnik, ras, dan lainnya.

Untuk menggerakkan solidaritas bersama, tentu simpul penggeraknya adalah jihad kemanusiaan. Ia menjadi sebuah raison d’etre mengapa perlawanan terhadap penjajah harus dilakukan. Bahkan, membentuk negara yang aman (darus salam) menjadi tujuan bersama yang tidak disekat oleh batasan ideologis. Dengan demikian, antara satu dan yang lain tidak segan untuk berkorban dan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia yang utuh hingga titik darah penghabisan.

Semangat kemanusiaan yang menjadi pemandu setiap gerakan perjuangan mereka perlu ditransformasi dalam kehidupan kita saat ini agar penjajahan dalam bentuk yang berbeda bisa ditanggulangi dan diatasi bersama. Sebab, salah satu tantangan terberat kita saat ini adalah menguatnya egosentrisme kelompok yang dikungkung oleh solidaritas mekanik—meminjam istilah Emile Durkheim—berpola in group.

Oleh karena itu, wajar apabila problem kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan masih berserak dan hanya disikapi secara lokal-parokial oleh komponen sepihak. Padahal, masyarakat selalu berhadapan dengan jebakan ketidakberdayaan—meminjam istilah Robert Chambers—yang dibuat oleh despotisme kekuasaan yang terstruktur, sistemik, dan masif.

Maka, untuk membangun semangat kemanusiaan yang interkonektif, perlu merekonstruksi pemahaman keimanan yang berafiliasi kepada jibaku kepahlawanan yang netral-universal. Hal ini supaya setiap elemen bangsa bisa meluangkan dan menuangkan energinya secara bersama dengan kondisi mental yang simbiosis-mutualis dan saling memiliki. Pemahaman keimanan yang menumbuhkan komitmen bersama untuk menciptakan kehidupan bermasyarakat dan bernegara di Republik Indonesia yang beragam melalui nilai-nilai Pancasila.

Iman yang membebaskan

Menurut almarhum Nurcholish Madjid dalam buku Islam Doktrin dan Peradaban, iman adalah sarana untuk melakukan emansipasi harkat kemanusiaan. Sebab, secara asasi iman adalah upaya memberikan keamanan dan kesentosaan. Iman tak hanya bermakna percaya, tetapi ia berfungsi sebagai sarana pembebasan diri dari ketergantungan, kesewenang-wenangan, intimidasi, dan lain semacamnya. Maka, iman menjadi modal dasar untuk membentuk persepsi kita tentang epos kepahlawanan.

Epos kepahlawanan adalah kehendak bersama untuk berjuang dan berkorban demi terwujudnya keamanan dan kesentosaan. Kondisi masyarakat yang saat ini berada dalam belenggu keterbatasan dan tekanan sosial perlu disikapi dan diatasi melalui cara pandang keimanan yang membebaskan. Ini supaya dalam benak kita tidak terganggu oleh paham parokialisme yang hanya mengedepankan penyelamatan kelompoknya atas nama agama dan etnik tertentu, sementara yang liyan (the other) dibiarkan telantar lantaran berbeda keyakinan ideologis dan lain semacamnya.

Sejatinya iman yang bersemai dalam diri kita—merujuk pemikiran Gustavo Guetierrez dalam buku Teologi Pembebasan—perlu dimanifestasi sebagai gerakan pembebasan rakyat dari belenggu keterbelakangan dan ketidakberdayaan supaya keimanan kita menjadi rahmat bagi yang lain. Dengan demikian, upaya kita akan melahirkan amal jariyah yang akan terus mengalir, bahkan menjadi ladang investasi kebaikan di hadapan Tuhan.

Dalam kaitan ini, kehadiran Bung Tomo dan pejuang lainnya dalam simbol historis kepahlawanan adalah sosok yang berupaya mengimplementasikan nilai-nilai keimanan yang membebaskan. Dalam laku perjuangan dan pengorbanannya memuat ajaran kemanusiaan yang berkeadaban dan kemaslahatan yang menjunjung tinggi keadilan. Nilai-nilai keimanan yang melandasi asas keagamaan tidak hanya diimplementasikan pada wilayah ritus ibadah, tetapi diletakkan pula pada spirit besar dalam membangun kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik.

Dalam konteks kekinian, lesson learned yang perlu disematkan dalam sanubari kita adalah bagaimana semangat kepahlawanan yang pernah digelorakan para pahlawan untuk membebaskan Tanah Air dari penjajahan perlu direvitalisasi dan direaktualisasi sebagai cara untuk membebaskan masyarakat dari mata rantai pembodohan, memperdayai, dan menyeret dalam ruang adu tanding kelompok kepentingan yang berdampak koyaknya semangat nasionalisme.

Kekuasaan yang berada di wilayah eksekutif, legislatif, dan yudikatif harus dijadikan sebagai sarana eksplorasi semangat kepahlawanan yang kontekstual dalam memperjuangkan nasib rakyat dan mengorbankan nasib diri sendiri untuk kebaikan bersama. Dengan demikian, wujud membela Tanah Air sebagaimana yang pernah ditunjukkan pahlawan pada masa lalu dapat kita implementasikan secara berkelanjutan demi tercapainya cita-cita bersama menuju Indonesia yang lebih hebat.

Fathorrahman Ghufron

Dosen Sosiologi Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga; A’wan Syuriyah PWNU Yogyakarta

Sumber: Kompas