Tak Persoalkan Keberagamaan Pemilih, PDIP Selalu Jadi Partai Papan Atas

Sukirman dengan becak berhias pernak-pernik Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan tiba di depan Grand Bali Beach Hotel Sanur, Denpasar. Sabtu (11/4/2015). Dia rela menempuh perjalanan 5 hari dari Surabaya- Denpasar untuk bertemu dengan Megawati Soekarno Putri sekaligus memeriahkan kongres IV PDI Perjuangan.

JAKARTA – Guru Besar Ilmu Sosial dan Agama Universitas Muhammadiyah Surakarta, Abdul Munir Mulkhan, menilai Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) adalah partai yang tak pernah mempersoalkan keberagaman pemilih.

Hasilnya, partai tersebut lebih gampang memperoleh dukungan akar-rumput sejak reformasi yang terus menduduki posisi papan atas.

“Suatu produk kepemimpinan yang dekat dengan akar-rumput, gak terlalu protokoler dan juga tanpa jarak dengan akar-rumput” ujar Munir dalam keterangannya, Jumat (9/11/2018).

Menurut Munir menjadi orang yang saleh adalah sebuah proses sosial yang butuh waktu, bukan dadakan sekali jadi begitu seseorang menyatakan diri sebagai seorang muslim.

“Dakwah keagamaan lebih sering mencemooh, mengkafir-kafirkan, memusrik-musrikan, daripada mengadvokasi agar mereka bisa bebas dari jerat kebodohan, jerat kepenyakitan dan belitan hutang,” kritiknya.

Munir mengatakan, selama ini partai dan gerakan Islam lebih banyak beroperasi di kota sementara mayoritas muslim berada di pedesaan dan pinggiran kota.

“Disinilah PDIP memegang peran penting, juga model komunikasi petahana yang gampang membaur dengan cara hidup warga kebanyakan,” ucapnya.

Juga, kata dia, tradisi akar-rumput akan mudah menerima pemimpin yang gampang melakukan suatu tindakan seperti cara hidup akar rumput, membuat mereka gak punya pilihan lain.

Munir mengatakan, gerakan Islam semestinya mengembangkan pendekatan baru sehingga dari budaya tinggi dibangun tangga budaya. Melalui tangga budaya tersebut, elite budaya tinggi bisa berkomunikasi dengan warga yang hidup dalam budaya kecil akar rumput.

“Partai politik sudah semestinya menyusun program advokasi sebagai bagian dari pemberdayaan dan pemihakan terhadap nasib akar rumput,” ujarnya.

Munir menegaskan, inilah model kepemimpinan profetik ketika sang pemimpin lebih memihak wong cilik guna memberdayakannya.

Juga kata dia, sang pemimpin yang selalu hadir di tengah rakyatnya hampir tanpa jarak, baik dalam arti sebenarnya maupun dalam pengertian simbolis.

Munir mengatakan, esensi pesan Islam menempatkan dakwah sebagai aksi kemanusiaan bagi semua orang tanpa melihat keyakinan formalnya, melainkan pada kebutuhan sebagai manusia sejatinya.

Hanya melalui jalan demikian, kata dia gerakan Islam bersama partai berbasis Islam bisa menjadi penerang akar-rumput menggapai mimpinya. “Itulah yang dicoba dibangun petahana yang buahnya baru bisa dinikmati paling cepat sesudah periode keduanya,” pungkasnya. (tribunnews)