Survei Unesa: Warga Jatim Tolak Fatwa Fardhu Ain Pilih Khofifah

SURABAYA – Fatwa fardhu ain (wajib bagi setiap umat Islam) untuk memilih Calon Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa yang diterbitkan tim pendukung Khofifah mendapat respons negatif dari publik Jatim. Apalagi, dalam fatwa itu disebutkan bahwa orang yang tidak memilih Khofifah-Emil Elestianto berarti mengkhianati Allah SWT dan Rasulullah.

Temuan Survei Pusat Studi Media Baru dan Perubahan Sosial Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menyebutkan, sebanyak 70,1 persen masyarakat Jatim menolak fatwa fardhu ain memilih Khofifah-Emil. Survei itu dilakukan pada 8-22 Juni 2018, sedangkan fatwa fardhu ain pilih Khofifah diterbitkan pada 3 Juni 2018.

”Sebesar 65,3 persen publik menilai, fatwa fardhu ain itu bukan termasuk cara berpolitik yang baik,” kata Koordinator Penelitian Pusat Studi Media Baru dan Perubahan Sosial Unesa, Ardhie Raditya, dalam konferensi pers di Surabaya, Rabu (26/6/2018).

Menurut Ardhie, fakta itu menyentak kesadaran publik Jatim. Apalagi, fatwa itu kemudian diberitakan secara luas dan menjadi perbincangan di media sosial serta grup percakapan WhatsApp selama berhari-hari.

”Survei ini menunjukkan, fatwa tersebut mendapat resistensi dari warga Jatim. Dari sini kita bisa melihat bahwa warga Jatim menolak pemilihan pemimpin politik berdasarkan paksaan dan fatwa-fatwa semacam itu,” kata akademisi Unesa itu.

Seperti ramai diberitakan dan dibincangkan di media sosial, fatwa fardhu ain pilih Khofifah-Emil dihasilkan dalam pertemuan di Ponpes Amanatul Ummah, Mojokerto, yang diasuh KH Asep Saifuddin Chalim, 3 Juni lalu, yang melahirkan surat fatwa bernomor 1/SF-FA/6/2018. Khofifah Indar Parawansa hadir dalam pertemuan itu.

Dalam fatwa yang kopinya disebarluaskan itu, juga disebutkan bahwa umat Islam yang tidak mendukung Khofifah sama dengan mengkhianati Tuhan dan Rasul-Nya.

Ardhie menambahkan, terbitnya fatwa itu ikut menggerus suara Khofifah-Emil. Publik yang masih belum menentukan pilihan menjadi resisten karena divonis bahwa jika mereka tidak memilih Khofifah-Emil, maka akan berdosa.

”Fatwa itu berkorelasi negatif ke persepsi publik terhadap Bu Khofifah dan Pak Emil,” jelas alumnus Universitas Gadjah Mada (UGM) tersebut.

Walhasil, suara Khofifah-Emil pun stagnan. Berdasarkan survei tersebut, Calon Gubernur Saifullah Yusuf (Gus Ipul) dan Cawagub Puti Guntur Soekarno berhasil meraih 49,3 persen, mengungguli Khofifah-Emil yang mendapatkan 43,7 persen.

”Yang menjawab tidak tahu atau belum menentukan pilihan sebesar 7 persen,” imbuh Ardhie. (goek)