Surabaya Raih Nilai Tertinggi di Pertemuan Lintas Budaya Internasional

SURABAYA – Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini menyatakan Kota Pahlawan mendapat nilai tertinggi dalam pertemuan lintas budaya atau “Surabaya Cross Culture International” ke-14 yang digelar pada 15-19 Juli 2018.

“Kami mendapat nilai 5 dan itu nilai tertinggi di antara beberapa kota yang ada,” kata Tri Rismaharini, Jumat (20/7).

Acara tersebut diikuti 300 peserta, masing-masing terdiri dari 210 peserta berasal dari luar negeri dan 90 peserta dari dalam negeri.

Delegasi dari luar negeri meliputi Tiongkok, Korea Selatan, Polandia, Mexico, Rumania, Russia, Bulagaria, Jerman, New Zealand dan Uzbekiztan. Sedang delegasi dalam negeri berasal dari Kabupaten Bone Sulawesi Selatan, Kota Singkawang dan Kota Banjarmasin.

Menurut Risma, atas terselenggaranya acara “Surabaya Cross Culture International” yang ditutup pada Kamis (19/7/2018) malam, ke depan Surabaya bakal diundang beberapa negara untuk pentas budaya pada September dan November 2018.

“Sedangkan, festival besarnya, juga akan diundang pada 2020. Tapi saya lupa kapan bulannya,” ujarnya.

Presiden International Council of Organizations of Folklore Festivals and Folk Arts (CIOFF) Indonesia Said Rachmat menilai Pemkot Surabaya sukses dalam menggelar acara “Surabaya Cross Culture International”.

Hal Itu dibuktikan dengan hasil review kepada beberapa negara yang merasa bangga dan berbahagia mengikuti acara tersebut.  “Kami sangat bangga dengan apa yang dilakukan Pemkot Surabaya,” kata Said.

Bahkan, tambah dia, acara ini sudah dikenal oleh negara dunia. Hal ini dibuktikan ketika negara-negara lain meminta agar diikutsertakan dalam acara ini.

“Masyarakat Surabaya begitu antusias dan interest karena warganya sangat plural dalam melihat perbedaan, sehingga mereka nyaman berada di Surabaya,” imbuhnya.

Ke depan, pihaknya berharap acara ini semakin semarak dan peserta semakin banyak sehingga Indonesia khususnya Surabaya semakin dikenal negara-negara internasional lainnya.

Penutupan acara tersebut dibuka dengan penampilan tarian treng-treng Praban asal Surabaya dan dilanjutkan tarian asal Uzbekistan dengan iringan musik tutor (alat musik tradisional dan dinyanyikan saat hari libur nasional) serta arkon berupa tarian permainan.

Selain itu juga ada tarian khas dari Jerman, New Zealand, Rusia, Polandia, Bulgaria, Rumania dan Meksiko. Sebagai penutup, tari reog Surabaya ditampilkan dan mendapat tepuk tangan meriah dari para delegasi maupun undangan. (goek)