Surabaya Contoh Demokrasi Langsung Berdayakan Warga

Risma-Seminar 1603WASHINGTON DC – Demokrasi langsung telah memunculkan figur alternatif, memberdayakan, memberikan kesempatan bagi semua, transparansi dan kebijakan yang meningkatkan kesejahteraan warga.

Demikian benang merah seminar “Cities and Citizens: Game Changers for Inclusive Development, yang digelar oleh World Bank di markas besarnya di Washington DC, Jumat (9 Oktober 2014) waktu setempat.

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini hadir sebagai panelis dalam seminar yang merupakan bagian dari rangkaian acara Annual Meetings IMF (International Monetary Fund) dan World Bank tahun 2014.

Risma, yang terpilih sebagai walikota melalui pilkada langsung, diundang sebagai narasumber karena Pemerintah Kota Surabaya di bawah kepemimpinannya dipandang berprestasi luar biasa di mata internasional.

Pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat merupakan kunci untuk menarik partisipasi masyarakat di dalam pembangunan,” ujar Walikota Risma mengenai kiatnya memimpin Surabaya.

Menurut Risma, jika masyarakat telah terpenuhi kebutuhannya, seperti adanya pendidikan gratis dan fasilitas kesehatan memadai, maka dengan sendirinya masyarakat akan berpartisipasi di dalam pembangunan.

Masyarakat selanjutnya akan turut menjaga fasilitas yang telah disediakan oleh pemerintah dengan baik.

“Tantangannya adalah bagaimana membuat masyarakat percaya pada pemerintah dan percaya pada komitmen pemerintah atas berbagai upaya pemenuhan kebutuhan masyarakat, terang walikota Risma.

Lebih lanjut Risma menuturkan bahwa pemenuhan kebutuhan pokok ditunjang dengan fasilitasi teknologi IT melalui penyediaan WiFi gratis dan broadband centers serta adanya transparansi di dalam tatakelola keuangan pemerintah telah mendorong peningkatan pertumbuhan ekonomi perkotaan.

Yang juga penting, imbuh Risma, adalah elemen-elemen pokok dalam mendukung pembangunan inklusif di perkotaan, seperti kerja sama public private partnership (PPP), inklusivitas pembangunan dengan mengikutsertakan kaum terpinggirkan, dorongan bagi UKM dan sektor informal melalui akses terhadap teknologi dan keuangan.

“Saat ini Surabaya sebagai kota terbesar nomor dua di Indonesia telah menjadi kota yang memiliki pertumbuhan ekonomi tertinggi dari rata-rata nasional yakni 7,6 persen, di samping juga mempunyai peningkatan kualitas hidup manusia,” pungkas Risma.

Dengan mengundang Risma, Bank Dunia hendak mengetahui lebih jauh lagi tentang capaian dan kiat sukses perempuan tangguh ini, yang mendapatkan dukungan sangat tinggi dari warga Surabaya, untuk dijadikan lessons learned.

Berdasarkan survei yang dilakukan World Gallup Poll, Surabaya adalah satu dari lima kota di dunia yang pemimpinnya mendapatkan dukungan sangat tinggi dari warganya.

Menurut survei tersebut, hampir 90 persen masyarakat kota Surabaya puas dengan kinerja Risma, pemimpin mereka.

Faktor Signifikan

Seminar menyimpulkan bahwa kemauan politik (political will) dan komitmen kuat para pemimpin daerah untuk memajukan berbagai kepentingan warga merupakan faktor signifikan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

Hal itu terlaksana karena utamanya ada dukungan yang luar biasa dari warga kepada pemimpinnya.

Pertemuan multilateral IMF dan World Bank di Washington DC diadakan dua kali dalam setahun yaitu dengan apa yang disebut Spring Meetings (April) dan Annual Meetings(November).

Pada pertemuan November yang skalanya lebih besar akan hadir lebih banyak pengambil keputusan penting dari mayoritas negara di dunia.

Mereka akan membahas berbagai masalah terkait keuangan, perencanaan pembangunan, kerjasama internasional, pengentasan kemiskinan, dan pemberdayaan masyarakat, yang kesemuanya ditujukan untuk mendorong pembangunan yang inklusif.

Seminar yang dimoderatori oleh Sekjen CIVICUS, World Alliance of Citizen Participation, Dr Dhananjayan Sriskandarajah, ini juga menghadirkan narasumber lain yaitu Achref Aouadi dari I- Watch Tunisia, Robin King dari World Research Institute dan Zavier de Souza Briggs dari Ford Foundation.

Para panelis membahas bagaimana sebuah kota menjadi tempat di mana masyarakatnya diberdayakan, memberikan kesempatan bagi semua dan kebijakan yang meningkatkan kesejahteraan warga.

Di samping itu, juga dibahas kekuatan transformatif lembaga-lembaga secara inklusif dan menekankan pentingnya keterlibatan warga bagi peningkatan akuntabilitas dan fasilitas umum untuk orang miskin dengan memperhatikan elemen-elemen kunci inklusivisme yaitu institutions, governance dan citizen engagement.

Sinergisitas

Secara terpisah, Kuasa Usaha Ad Iinterim (KUAI) KBRI Washington DC, Siuaji Raja, mengatakan bahwa lembaga-lembaga yang bersifat inklusif harus didukung untuk kerjasama sinergis antar interkementerian di pemerintah pusat, maupun antara pemerintah pusat dengan daerah,

“Untuk pembuatan kebijakan yang saling mendukung, terintegrasi dan mampu diimplementasikan di tingkat lokal,” ujar KUAI.

Peran pemerintah pusat, sebagaimana yang dilakukan Kemlu dan perwakilan RI di luar negeri adalah menyampaikan kepada masyarakat internasional bahwa terdapat berbagai kisah kemajuan Indonesia dalam pembangunan politik, ekonomi dan good governance.

“Semua kemajuan itu secara nyata memberikan dampak positif pada pengembangan kota, sebagaimana misalnya diakui oleh masyarakat internasional atas kemajuan yang terjadi di Surabaya,” demikian KUAI. (Detik.com)