Sularso Martodiwirjo Wafat, Untari: Indonesia Kehilangan Pemikir dan Pejuang Koperasi

Sularso Martodiwirjo

SOLO – Ketua Umum Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) Dr Sri Untari Bisowarno mengungkapkan duka mendalam atas berpulangnya tokoh koperasi Sularso Martodiwirjo.

Pria kelahiran Solo, 12 Februari 1937 itu mengembuskan nafas terakhirnya pada Minggu (13/9/2020) jam 05.25 di RSUI Kustati Surakarta.

Menurut Sri Untari, Indonesia kehilangan sosok pemikir dan pejuang koperasi yang gigih hingga akhir hayatnya. “Terlepas banyak pro dan kontra dengan pemikiran beliau, tapi konsistensinya berkoperasi tidak perlu diragukan lagi,” ujar Untari, Senin (13/9/2020).

Perempuan yang menjabat ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jawa Timur ini memiliki kesan mendalam terhadap Sularso. Menurutnya, Sularso merupakan tokoh koperasi senior dengan rekam jejak tinggi.

Dalam forum-forum resmi, tambah Untari, dia suka menyentil dengan melemparkan persoalan seputar koperasi dan membuat orang mengernyitkan dahi. Namun dengan gayanya itu, kemudian mendorong orang untuk berpikir makin kritis.

“Terima kasih telah mendarma-baktikan sepanjang usia beliau di koperasi. Dekopin berduka cita mendalam, tapi kami akan terlecut dengan kepergian beliau untuk lebih membangkitkan koperasi sebagai pilar ekonomi rakyat. Selamat jalan, Senior. Semoga Allah SWT mengampuni dosa-dosanya dan menerima amal baiknya. Aamiin,” ucap Untari.

Kiprah almarhum di jagad perkoperasian Indonesia, dimulai setelah menamatkan sekolah menengah, lalu meneruskan pendidikan di Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta, masuk sebagai mahasiswa Fakultas Hukum.

Namun kemudian pindah ke Fakultas Pedagogik jurusan pendidikan sosial, karena pada saat itu ada perubahan organisasi universitas. Tepatnya pada 1967 dia menyelesaikan pendidikan pada IKIP Yogyakarta, yang sekarang menjadi Universitas Negeri Yogyakarta.

Sejak masih mahasiswa (1962) Sularso muda sudah masuk menjadi pegawai instansi Pembina Koperasi, tepatnya di Departemen Transmigrasi, Koperasi dan Pembangunan Masyarakat Desa (Transkopemada).

Dia langsung ditugaskan sebagai Kepala Sekolah Koperasi Menengah Atas (Skopma) yang didirikan di Solo. Selanjutnya pada 1966 pindah ke kantor pusat di Jakarta pada staf Direktorat Penyuluhan Koperasi.

Karir Sularso pun cukup bening, sehingga pada 1973 dipercaya menjadi Kepala Kantor Wilayah Departemen Koperasi di Jawa Timur selama 5 tahun.

Selanjutnya kembali ke Jakarta dengan posisi makin mentereng, yakni sebagai Direktur Penyuluhan Koperasi dan Kepala Pusat Latihan dan Pendidikan Koperasi (Puslatpenkop).

Setelah lima tahun duduk di Eselon II, pada 1983 diangkat menjadi Direktur Jenderal Koperasi yang membidangi pembinaan usaha, kelembagaan koperasi, dan koperasi pedesaan. Jabatan Struktural Eselon I pun diembannya selama 12 tahun.

Selanjutnya pada 1995 dipercaya menjadi widyaiswara pada Pusat Pendidikan dan Latihan Koperasi (Pusdiklat) sampai memasuki masa pensiun. Tepatnya alm mengabdi di lingkungan Kementerian Koperasi selama 40 tahun hingga pada 2002 purnabakti.

Selama pengabdiannya di instansi pembina koperasi, Sularso banyak melakukan kunjungan dan menghadiri seminar koperasi di luar negeri, antara lain di Jerman, Prancis, Swiss, Swedia dan Finlandia. Juga ke negara kawasan Asia seperti Malaysia, Thailand, Singapura, Filipina dan Myanmar, Sri Lanka, Taiwan, Korea Selatan, Jepang, serta Amerika Serikat.

Almarhum juga pernah menjadi Ketua Koperasi Pegawai Departemen Koperasi (KPDK) dan Ketua (care taker) Pengurus Gabungan Koperasi Batik Indonesia (GKBI) yang pada waktu itu mengalami kesulitan. Selanjutnya menjadi Penasehat GKBI Investment, Penasehat Induk Koperasi Kredit (Inkopdit), Penasehat Dekopin, dan hingga sekarang pun masih aktif sebagai Ketua Majelis Pakar Dekopin.

Di luar koperasi, almarhum juga aktif dalam organisasi Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) dan kegiatan kesejahteraan sosial pada organisasi Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS). (set)