Suka-Duka Politik di Jalan Teuku Umar

pdip jatim - alm Taufik KiemasJAKARTA – Hari Senin (8/6/2015), sejumlah kalangan memperingati haul dua tahun wafatnya mantan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Taufiq Kiemas.

Pada Senin malam, Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri dan jajaran DPP PDI-P menyelenggarakan serangkaian acara di rumah Taufiq-Megawati di Jalan Teuku Umar, kawasan Menteng, Jakarta. Dimulai dari shalat Maghrib berjemaah, pembacaan Surat Yasin bersama yang dipimpin tokoh Nahdlatul Ulama Hasyim Muzadi, tausiah oleh tokoh Muhammadiyah Malik Fajar, acara itu kemudian dilanjutkan dengan sambutan Ketua MPR Zulkifli Hasan dan Wakil Presiden Jusuf Kalla serta ditutup oleh sambutan Presiden Joko Widodo.

Seknas Jokowi yang dipimpin Muhammad Yamin, tokoh yang dekat dengan Taufiq, Senin lalu juga mengadakan dua acara. Pertama, pada pagi harinya, salah satu kelompok relawan yang mendukung kampanye Jokowi-Kalla pada Pemilihan Presiden 2014 ini berziarah ke makam Taufiq di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Siang harinya, mereka menggelar diskusi mengenai kualitas ketokohan Taufiq.

Kiranya perlu dicatat dua kerja terpenting yang dilakukan Taufiq. Pertama, menyusun sekaligus mengampanyekan apa yang dinamakan dengan “empat pilar kebangsaan” (Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan UUD 1945). Kerja Taufiq ini terbilang berhasil, terlebih saat bangsa Indonesia sedang menghadapi berbagai bentuk ancaman terhadap keempat pilar tersebut, di antaranya radikalisme.

Kedua, prakarsa Taufiq ikut membidani terbentuknya Forum Silaturahmi Anak Bangsa (FSAB). Melalui forum ini, Taufiq mempertemukan para keluarga yang pernah merasakan penderitaan akibat konflik politik nasional. Salah satunya adalah merangkul dan merekonsiliasi dua pihak keluarga yang terlibat peristiwa Gerakan 30 September 1965.

Oleh para sahabat, Taufiq dipandang sebagai tokoh nasional yang pandai bergaul dengan berbagai kalangan dan tingkatan masyarakat. Ia sosok “ringan tangan” membantu siapa saja tanpa berharap pamrih, terkadang malah terkesan mudah diperdaya mereka yang kurang bertanggung jawab.

Mungkin karena wataknya yang easy going membuat Taufiq dipandang sebagai tokoh yang mampu mempertemukan berbagai kekuatan politik. Hal ini terutama terlihat saat dia menjabat Ketua MPR. Dalam hal ini, sampai saat ini masih sulit mencari tokoh pengganti yang tingkatannya sama dengan Taufiq.

Setelah Taufiq meninggalkan dunia yang fana ini, muncul pertanyaan: siapa gerangan yang akan mampu berperan menjadi kawan seperjuangan, sahabat, teman diskusi, dan sekaligus juga “the devil’s advocate” bagi Megawati? Pertanyaan ini penting karena PDI-P sedang mengalami regenerasi yang harus berjalan mulus pada saat Presiden Jokowi, kader “Moncong Putih”, sedang memimpin negeri ini.

Jawaban atas pertanyaan itu: tidak ada yang sekaliber Taufiq. Namun, sejauh ini Megawati ternyata mampu mengelola partai sehingga merebut suara terbanyak pada Pemilu Legislatif 2014 dan memenangi Pemilu Presiden 2014. Tentu setelah kemenangan itu sempat terjadi riak di sana-sini, yang secara perlahan bisa dikelola dengan baik.

Wajah baru

Acara haul di Jalan Teuku Umar lagi-lagi membuktikan, Megawati masih menjadi tokoh yang powerful, yang disegani kawan dan lawan. Mantan Wakil Presiden Boediono pun menyempatkan hadir dan dengan tekun mengikuti acara berdampingan dengan Jusuf Kalla. Wapres sempat bergurau tentang ketokohan Taufiq sebagai pemersatu, yang disimbolkan oleh kehadiran Hasyim Muzadi dan Malik Fajar.

Hadir pula hampir semua ketua umum partai yang tergabung dalam Koalisi Indonesia Hebat: Ketua Umum Nasdem Surya Paloh, Ketua Umum Partai Hanura Wiranto, dan Ketua Umum PKPI Sutiyoso. Selain Ketua MPR, ikut hadir juga Ketua DPR Setya Novanto dan Ketua DPD Irman Gusman. Anggota DPR dari Partai Golkar yang juga putri mantan Presiden Soeharto, Siti Hediati, tampak akrab duduk bersebelahan dengan putri satu-satunya pasangan Taufiq-Megawati, Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani.

Tamu lainnya antara lain sejumlah menteri Kabinet Kerja, di antaranya Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo, serta Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Yasonna Laoly.

Selain wajah-wajah yang selama ini “langganan” ke Jalan Teuku Umar, tampak juga wajah-wajah baru seperti Menteri Koordinator Perekonomian Sofyan Djalil, Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro, Menteri Perindustrian Saleh Husin, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, serta Menteri Perdagangan Rachmat Gobel.

Dan, tentu saja perombakan kabinet topik paling menarik yang diobrolkan para hadirin setelah usainya acara sekitar pukul 20.30. Apalagi kehadiran (juga ketidakhadiran) sejumlah menteri menimbulkan aneka tafsir. Apa pun yang akan terjadi, wajah dan gestur Jokowi yang berkemeja batik coklat malam itu tampak segar dan santai. Nah, Anda pembaca silakan tebak sendiri.

Sebuah fakta tak terbantahkan, suka ataupun tidak, rumah Taufiq-Megawati di Jalan Teuku Umar mungkin menjadi “tempat tujuan politik” yang paling sering dikunjungi tokoh-tokoh nasional beberapa tahun belakangan ini. Sudah terlalu banyak suka dan duka politik yang terjadi di rumah itu. (Budiarto Shambazy)

* Artikel ini terbit di harian Kompas edisi 10 Juni 2015, di halaman 5 dengan judul “Suka-Duka Politik di Jalan Teuku Umar”.