Suara PDI Perjuangan di Jatim Meningkat

JAKARTA – Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto mengatakan, dari hasil pelaksanaan Pilkada 2018, ada peningkatan signifikan jumlah suara pemilih PDIP di Jatim.

“Kalau dilihat dari jumlah total suara yang loyal kepada PDIP itu menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan. Kita lihat di Jatim itu kan basis dari PKB,” kata Hasto di kantor DPP PDI Perjuangan, Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, kemarin.

Menurut Hasto, memasangkan Puti Guntur sebagai pendamping Gus Ipul bukan hal yang sia-sia. Keberadaan cucu sang proklamator itu cukup untuk mengatrol basis suara PDIP di Jawa Timur.

“Ada cukup siginifikan ditinjau dari preferensi terhadap PDIP,” ucap Hasto.

Dia memahami waktu yang dimiliki Puti untuk bersosialisasi sangat mepet. Apalagi, Puti masuk di tengah jalan setelah Abdullah Azwar Anas mengundurkan diri.

“Jadi Mbak Puti kan sejak 10 Januari dibandingkan dengan mereka yang berkonsentrasi lebih dari 17 tahun. Ya ini hasilnya luar biasa,” jelasnya.

Sementara itu, kemenangan calon kepala daerah yang diusung pada pilkada serentak 2018 menjadi modal untuk Pilpres 2019.

“Inilah yang kita jadikan mesin politik kemenangan karena Ibu Mega telah menurunkan Jokowi sebagai (calon) presiden,” kata Hasto.

Pada Pilkada Serentak 2018, PDIP memenangi 6 pemilihan gubernur (pilgub), yakni Bali, Jawa Tengah, Maluku, Sulsel, Maluku Utara, dan Papua. Kemenangan ini berdasarkan hitung cepat (quick count).

Sesuai quick count, pada pilkada kabupaten/kota, 33 kader PDIP menang sebagai calon kepala daerah dan 38 kader calon wakil kepala daerah.

“Bagi PDI Perjuangan, hasil pilkada harus dilihat secara utuh. Bukan hanya pemilihan 17 provinsi, tapi juga pemilihan ratusan bupati dan wali kota. Sebab, dalam sistem otonomi daerah, posisi wali kota dan bupati sangatlah strategis, karena mereka yang memegang wilayah, sementara gubernur sifatnya koordinatif,” paparnya.

Hasto juga menyatakan, PDI Perjuangan tak sembarangan dalam memilih kader untuk diajukan sebagai calon kepala daerah. PDIP menyiapkan pemimpin dari rakyat melalui proses rekrutmen sesuai ideologis Pancasila.

Dalam pelaksanaan Pilkada 2018, pihaknya berhasil menghindari politik identitas dan mementahkan tudingan penggunaan alat-alat negara sebagai partai penguasa.

Ketika hasilnya tak sesuai yang diharapkan, sambung Hasto, PDIP menerimanya sebagai konsekuensi ideologis. Namun, dia yakin kader yang berkualitas akan selalu mendapat tempat di hati rakyat. (goek)