Soal Kunjungan ke Afghanistan, Seskab: Presiden Jokowi Tidak Punya Rasa Takut

JAKARTA – Sekretaris Kabinet (Seskab) Pramono Anung mengisahkan detik-detik saat Presiden Joko Widodo (Jokowi) memutuskan tetap melakukan kunjungan kenegaraan ke Afghanistan, dalam rangkaian kunjungannya ke lima negara, yang dimulai dari Sri Lanka, India, Pakistan, dan Bangladesh.

Bersama Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi, Seskab yang mengikuti perjalanan Presiden Jokowi dan Ibu Negara Iriana menjelaskan pada malam hari, sebelum atau dua malam sebelumnya dan malam satu hari sebelumnya, sebelum ditetapkan ke Afghanistan, dirinya melaporkan kepada Presiden mengenai perkembangan yang ada.

“Kami laporkan bahwa terjadi peledakan dengan menggunakan ambulan yang meninggal lebih dari 100 orang, kemudian sehari sebelumnya, bahkan paginya sebelum Presiden mendarat ada penyerangan ke Akademi Militer di Afghanistan yang juga memakan korban,” kata Seskab dalam wawancara khusus dengan Metro TV, di ruang kerjanya Gedung III Kemensetneg, Jakarta, Rabu (31/1/2018) sore.

Ketika itu, lanjut Seskab Pramono Anung, Presiden menyampaikan tetap memutuskan untuk ke Afganistan. “Beliau hanya menyampaikan, ya sudah kita tetap berkunjung. Bismillah dan saya yakin pasti saya dijagain oleh keamanan Afghanistan dengan baik. Jadi beliau tetap akhirnya memutuskan berkunjung,” ungkap Pramono menirukan jawaban Presiden Jokowi saat itu.

Seskab menegaskan, dirinya melihat yang pertama memang Presiden ini tidak pernah punya rasa takut, sehingga dengan demikian Presiden meyakini pasti urusan keamanannya terjamin.

Yang kedua, Seskab mengatakan, bagaimanapun kunjungan Presiden Jokowi ke Afghanistan ini menjadi simbol yang sangat penting karena ini rangkaian kunjungan ke lima negara yang dimulai dengan Sri Lanka kemudian ke India, Pakistan, Bangladesh, dan kemudian terakhir Afghanistan.

“Ini menjadi simbolisasi dari kunjungan Presiden ke tempat-tempat yang dulu hanya Bung Karno mengunjungi, termasuk di Sri Lanka. Sri Lanka itu yang berkunjung terakhir adalah Bung Karno pada tahun 1962. Sedangkan di Afghanistan itu adalah pada bulan Mei tahun 1961 Bung Karno berkunjung ke Afghanistan,” terang Pramono.

Sehingga dengan kedatangan Presiden Jokowi ini, menurut Seskab Pramono Anung, merupakan simbol persahabatan, perkawanan bahwa Afganistan dan Indonesia ini kawan dekat, karena ini bagian juga kunjungan balasan yang dilakukan oleh Presiden Ghani ke Indonesia.

Ditambahkan Seskab, Presiden Jokowi juga menjadi inisiator terhadap proses perdamaian yang melibatkan ulama yang selama ini tidak pernah dilakukan pendekatan, yaitu Presiden telah mengundang HPC (High Peace Council), para ulama-ulama yang ada di Afghanistan pada waktu itu ke Istana Bogor, dan rencananya Presiden juga akan adakan pertemuan ulama-ulama dari Pakistan, Afghanistan, dan Indonesia untuk membantu proses perdamaian yang ada di Afghanistan.

Soal Rompi Anti Peluru

Mengenai nyali dirinya sendiri, Seskab menegaskan, karena dirinya mengetahui arus lalu lintas informasi dari intelijen, dari kedutaan, dan dari berbagai hal, tentunya kalau dikatakan tidak ada kekhawatiran, maka dirinya serasa sombong.

“Jadi kami ada kekhawatiran, bahkan ketika di pesawat, saya, Bu Menlu, sekretaris pribadi Presiden, Pak Teten semuanya sudah menyiapkan diri untuk memakai baju rompi anti peluru. Tetapi begitu kami mendapatkan kepastian bahwa Presiden tidak memakai rompi baju anti peluru, maka semuanya tidak ada rombongan yang memakai rompi baju anti peluru kecuali Paspampres,” ungkap Seskab.

Menurut Seskab, sempat beredar bahwa sebagian anggota rombongan Presiden Jokowi ke Afghanistan yang memakai baju rompi itu masih di atas pesawat. Tetapi begitu turun dari pesawat semuanya memakai baju biasa, tentunya dengan penghangat, bahkan Koordinator Staf Khusus Presiden Teten Masduki saking tegangnya dan gugupnya menggunakan selimut untuk menahan rasa dingin yang ada di sana. (setkab)