Silaturahmi Jokowi – Prabowo Tak Perlu Menunggu Putusan MK

JAKARTA – Wakil Sekjen PDI Perjuangan Ahmad Basarah berpendapat, pertemuan Prabowo-Sandiaga dengan Joko Widodo-Ma’ruf Amin tidak perlu menunggu putusan Mahkamah Konstitusi (MK).

Menurutnya, gugatan hasil Pemilu Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) Prabowo-Sandi di Mahkamah Konstitusi (MK) merupakan persoalan yang harus dipisahkan dengan silaturahmi.

“Menurut saya pertemuan para tokoh-tokoh bangsa, khususnya Pak Prabowo, Pak Sandiaga dengan Pak Jokowi ataupun Pak Kiai Ma’ruf Amin, tidak harus menunggu pascaputusan MK dan sebagainya,” kata Basarah.

Hal itu dia sampaikan dalam acara Halalbihalal yang dirangkai dengan kegiatan Peringatan 118 Tahun Lahirnya Proklamator sekaligus Presiden Pertama RI Sukarno, dan Haul ke-6 Wafatnya mantan Ketua MPR Taufiq Kiemas di Kantor PA GMNI, Jakarta, Sabtu (8/6/2019).

“Bahwa kita harus menghormati prinsip ketatanegaraan sengketa pemilu harus diputuskan hakim-hakim MK, itu biarkan ranah yang lain. Saya mendorong pertemuan kultural dapat dilakukan dalam suasana halalbihalal seperti saat ini,” ujar Basarah.

Terkait lamanya waktu jika harus menunggu putusan MK, menurut Basarah, tidak ada istilah kelamaan. “Menurut saya, pertemuan, silaturahmi, saling bersalaman dan lain sebagainya itu sebenarnya bisa saja setiap hari dilakukan,” jelas Wakil Ketua MPR RI ini.

“Tetapi mengingat situasi kebangsaan kita hari ini. Ada perasaan di tengah-tengah masyarakat, seakan-akan terjadi pembelaan di tengah masyarakat, menurut hemat saya suri teladan para pemimpin hari ini ditunggu masyarakat,” lanjut dia.

Dengan begitu, tambah Basarah, masyarakat telah melaksanakan konstitusi pada Pemilu 2019 secara tertib dan damai. “Harusnya menjadi tempat bercermin para elite politik bahwa ternyata masyarakat di bawah damai-damai saja ketika menggunakan hak konstitusionalnya,” ucap Ketua Umum PA GMNI tersebut.

Harusnya, imbuh Basarah, kita belajar dari kearifan masyarakat di bawah bahwa pemilu ini sekadar rutinitas lima tahunan.

“Tidak boleh agenda lima tahunan ini mencabik-cabik, apalagi merobek-robek persaudaraan kebangsaan kita yang diperoleh secara susah payah para founding fathers dan mothers negara kita,” tuturnya.

Basarah pun mencontohkan Presiden Kelima RI sekaligus Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri yang telah menunjukkan suri teladan. Yakni ketika menghadiri pemakaman Istri Presiden Keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Ani Yudhoyono.

“Saya kira kita juga patut mengambil suri teladan dari yang ditunjukkan oleh Ibu Mega pada saat menghadiri pemakaman kenegaraan ibu negara almarhumah Ani Yudhoyono. Ibu Mega memberikan suri teladan bahwa urusan politik harus dibedakan dengan urusan kemanusiaan,” jelasnya.

“Meski Pak SBY pada Pemilu 2019 sebagai Ketum Partai Demokrat menjadi pendukung Pak Prabowo- Sandi, tidak membuat Ibu Mega tidak memberikan simpati, empati, rasa kemanusiaan pada dukacita yang dialami pada keluarga Bapak Susilo Bambang Yudhoyono,” ujar Basarah. (goek)