Serap Aspirasi Petani, Mindo Gelar Reses di Nganjuk

NGANJUK –  Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPR RI Ir Mindo Sianipar menggelar reses untuk menjaring aspirasi masyarakat di Gedung Balai Serbaguna Hotel Nirwana Nganjuk, kemarin. Acara ini diikuti kalangan petani, kepala desa, dan pihak-pihak terkait

Menurut Mindo, pihaknya ingin menjadikan desa menjadi pusat pembangunan, bagaimana membuat desa mampu sebagai motor penggerak ekonominya sendiri sesuai dengan hak-hak dalam otonomi desa.

Sebab, kata Mindo, banyak bantuan pemerintah, baik dari kementerian dan badan, yang selama ini kurang terkoordinasikan. Di antaranya menyangkut alat-alat pertanian,irigasi pertanian, budidaya ikan air tawar, pengadaan pupuk, pemanfaatkan gapoktan menjadi penyalur pupuk melalui kerjasama bersama BUMDes.

Di acara reses ini, dia mengundang Bank Rakyat Indonesia (BRI) agar dapat bersinergi dengan BUMDes melalui komunikasi yang dimulai lewat acara ini.

“Saya juga undang Bulog, yang dalam hal ini dapat bekerja bersama melalui program-programnya, agar gula, beras dan komoditas lainnya dapat tersalur langsung kepada konsumen atau rakyat tak perlu jauh ke kota,” kata Mindo.

Sebab, lanjut dia, di desa setempat telah ada agen milik desa menyangkut kebutuhan bahan pokok serta telah bermitra dengan Bulog. “Harapan saya, soal ini dapat dimulai dari dua atau tiga desa dalam waktu dekat ini sebagai percontohan,” ujarnya.

Disinggung mengenai bawang merah sebagai salah satu komoditas andalan Kabupaten Nganjuk yang harganya sering anjlok ketika panen raya, anggota Komisi VIII DPR tersebut mengatakan, perlu adanya jalinan komunikasi juga kerja sama para petani dengan pihak BUMDes guna membuat suatu pengelolaan berbadan hukum yang terkoordinasi di setiap desa penghasil bawang.

Juga dengan pihak lain yang mampu menampung hasil pertanian para petani horti tersebut. Serta bekerjasama dalam penentuan mangsa penjualannya dengan pihak terkait guna meminimalisir permainan harga yang selama ini sering terjadi di masyarakat petani.

Dalam forum yang digelar secara terbuka tersebut, banyak aspirasi yang disampaikan kalangan petani maupun kepala desa. Antara lain, terkait berbagai permasalahan yang sering menjadi momok bagi petani.

Seperti turunnya harga ketika tengah panen, kualitas pupuk organik yang dianggap kurang dibanding dengan kompos buatan sendiri yang menjadi beban bagi para petani. Sebab pembeliannya harus dalam bentuk satu paket.

Mereka juga berharap adanya bantuan sumur dalam, untuk petani-petani di wilayah Nganjuk utara yang memang sering dilanda kekeringan. (endyk)