Senyum yang Menenangkan

Biografi Politik Megawati Soekarnoputri (3)

Oleh: Diana AV Sasa
Pegiat Literasi dan Anggota DPRD Jawa Timur 2019—2024

KE Jakarta, ia kembali. Di Surabaya, ia tidak sedang piknik penutup tahun, melainkan menuntaskan proyek politik yang sudah dikibarkannya bertahun-tahun silam di Ibu Kota. Kini, ia kembali lagi setelah bertarung habis-habisan di Asrama Haji Sukolilo, Surabaya.

Jakarta bagi Megawati bukanlah Jakarta sebagaimana diimpikan Tuginah dari Ngunter, tokoh perempuan ciptaan adik bungsunya, Guruh Soekarno Putra, dalam pementasan bertajuk Jak Jak Jak Jak Jakarta pada medio 1989. Jakarta bukan impian Tuginah maupun Tugimin untuk menjadi sukses, melainkan rumah belajar berpolitik sejak dini, sejak ia bisa mengenal aksara.

Bertarung di Surabaya, tetapi hasil akhir ditentukan di Jakarta. Demikianlah, kepulangan Megawati di pekan pamungkas tahun 1993 itu tidak dengan menggenggam status sebagai ketua umum partai, melainkan membawa kemenangan hati arus bawah kader-kader partai yang sepanjang 1993 bergolak dengan sangat dinamis dan berbahaya.

Megawati memasuki Ibu Kota dengan dua kerja utama: meyakinkan pemerintah bahwa ia “tidak perlu ditakutkan”. Bahwa ia seperti ada dalam persepsi semua politisi di Senayan, Jakarta: perempuan pendiam dan murah senyum. Megawati memastikan politisi di Jakarta, baik internal partai dan terutama lawan-lawannya bahwa ia tetaplah perempuan yang satu almamater dengan Hardiyanti “Tutut” Rukmana di Perguruan Cikini. Keduanya adalah srikandi dari “manusia besar” yang memimpin Republik.

Barangkali, Megawati sendiri heran, mestinya tidak ada alasan untuk menjauhinya. Ia bukanlah politisi monster yang menelan semua orang di hadapannya. Apa yang berbahaya dari seorang perempuan yang emoh mengumbar kata untuk mencemooh dan menghardik mereka yang tidak bersepakat dengannya. Dia merasa tetaplah dirinya sendiri yang memilih lebih baik diam dalam gebalau politik yang menekan di kiri dan di kanan, menggunting di atas dan di bawah.

Senyum adalah cara Megawati bersikap dalam politik kuldesak seperti itu. Aura wajahnya yang teduh dan bercahaya mestinya membikin lawan politiknya tidak perlu menjadikannya sebagai ancaman yang serius.

Mestinya demikian. Namun, tidak. Ekosistem di mana Megawati hidup itulah yang menjadi ancaman. Terutama, bangkitnya sentimen tua yang sudah berusaha dipadamkan kepemimpinan militerisme sejak 1965. Sentimen Soekarnoisme yang di belakangnya bermacam-macam ideologi “menakutkan” yang dicegah sedemikian rupa.

Megawati tahu itu. Berpolitik dengan membawa gerbong ratusan ribu kader mestilah mempertimbangkan banyak hal. Irit bicara untuk sesuatu yang tak perlu dikomentari adalah jalan yang sudah semestinya ia ambil. Tidak banyak bicara bukan berarti ia berhenti berpikir.

Seorang politisi adalah mereka yang tiap hari berpikir, peka dengan isu harian, kemampuan manajemen kelompok, serta memikirkan masa depan kader-kadernya untuk jangka waktu lama. Oleh karena itu, Megawati tidak tampil sebagai ideolog dengan tangan selalu terkepal. Di atas mimbar, iya, tangannya tetap terkepal untuk membakar asa para kader. Namun, hidup di alam politik tidak melulu tangan harus dikepal. Politik kulonuwun juga bukan aib.

Ia sudah menghidu rupa-rupa karakter politisi mengarungi dunia politik. Yang umum ia tangkap adalah kemampuan bernegosiasi. Memang, ada pemimpin politik yang sangat keras kepala. Ia melihat wajah bapaknya sendiri; mulai dari atas mimbar yang dieluk-elukkan dengan ingar-bingar bertahun-tahun hingga menjadi pesakitan hingga meninggal sebagai manusia yang dijauhi rekan-rekannya.

Bukan saja sang bapak yang dikucilkan. Ia bersama saudara-saudaranya merasakan bagaimana pedihnya menjadi manusia yang di dalam darahnya mengalir darah Soekarno. Semua dibatasi. Pergaulan hingga pendidikan.

Oleh sebab itu, tugas pertama yang ia kerjakan di Jakarta sepulang dari gelanggang pertempuran politik Surabaya adalah memastikan statusnya sebagai ketua umum. Satu kakinya sudah berada di kursi itu. Satunya lagi menanti kemampuan negosiasinya.

Megawati butuh “restu”, sebagaimana tradisi politik sebelumnya. Dan, Megawati memulainya dengan manis dan cermat. Dia menggunakan persahabatannya dengan putri sulung manusia paling berkuasa di negeri ini, Mbak Tutut. Berturut-turut para senopati dalam tubuh Angkatan Bersenjata disowaninya, antara lain Panglima Kodam Jaya Mayjen A.M. Hendropriyono, Danjen Kopassus Brigjen Agum Gumelar, dan Kepala Sospol Letjen Haryoto P.S. Tak lupa, safari politiknya sampai di pintu Mendagri Yogie S. Memet.

Bahkan, tidak segan-segan Megawati berucap, “Pak Harto adalah orang tua yang saya hormati.”

Dari safari politik yang berlangsung di pekan krusial sepulang dari Surabaya inilah ia mendapatkan lampu hijau. Pak Harto ingin konflik di tubuh PDI mestilah diselesaikan secara musyawarah dan mufakat. Mendagri Yogie S. Memet paham kode ini. Ia memanggil semua tokoh kunci yang berkontestasi dan memiliki andil besar dalam perkubuan di tubuh PDI.

Dengan semangat musyawarah dan mufakat, setidaknya tiga pihak dipanggil oleh Mendagri Yogie S. Memet sebagai pembina parpol, yakni Kelompok Persatuan dan Kesatuan atau Kelompok 17 yang diawaki antara lain Marsoesi dan Yusuf Merukh, DPP PDI Peralihan yang digawangi Achmad Subagyo dan Jacob Nuwawea, serta Megawati.

Setelah pertemuan itu, Yogie berbicara kepada Megawati. Dari situlah, Megawati tahu bagaimana “sikap akhir” dari pemerintah atas turbulensi kepemimpinan nasional di tubuh PDI.

Sampai di titik ini, Megawati ingin menunjukkan bahwa ia bukanlah hantu sunderbolong. Ia adalah Megawati, sosok yang oleh pengasuhnya sejak kecil, Mbok Tjitro, dicitrakan sebagai sosok yang “lembut dan keibuan”.

Tanpa bersitatap langsung untuk mengetahui raut wajah, mimik, dan guratan muka saat berbicara dan tersenyum, mustahil Megawati bisa mengambil simpati kepada yang selama ini dikesankan sebagai “pemukul” jalan politiknya. Megawati memastikan bahwa ia seorang manusia yang tidak bertampang sangar dan layak ditakuti.

Setelah masalah di sana selesai, Megawati juga mesti menyelesaikan masalah di sini. Yang dimaksud “di sini” adalah internal partai yang penuh friksi. Jalan pertama, dekati para sesepuh. Partai sudah lama terus berkonflik. Wajar sebetulnya karena PDI adalah hasil fusi dari macam-macam aliran politik. Namun, ini tidak bisa dibiarkan terus-menerus. Mengambil hati para sesepuh adalah jurus ampuh untuk memenangkan hati fungsionaris dengan darah masih bergejolak.

Musyawarah Nasional PDI itu berlangsung di Hotel Kemang, Jakarta Selatan, selama dua hari. Penyelenggara KLB Surabaya yang sekaligus Ketua PDI Surabaya dan caretaker DPP PDI, Latief Pudjosakti, mengawali sambutannya dengan permohonan maaf, baik kepada keluarga besar PDI maupun kepada pemerintah, lantaran ketidakmampuan menyelenggarakan kongres dengan baik.

Lalu, perwakilan dari Departemen Dalam Negeri (Depdagri) sebagai pembina parpol membuka musyawarah tepat Hari Ibu, 22 Desember 1993. Boleh dibilang, munas ini merupakan pengukuhan Megawati Soekarnoputri sebagai Ibu Ketua Partai.

Megawati menyelesaikan satu fase yang genting dalam karier politik seorang perempuan Indonesia. Menjadi ketua partai bukanlah sesuatu yang lazim. Megawati bisa melakukannya tepat ketika Hari Ibu dirayakan. Hari di mana perempuan berpolitik, perempuan berorganisasi untuk merumuskan gerakan sosial dan politiknya sendiri.* (Bersambung)

Jangan Menangis Lagi, Tegakkan Mukamu! <= Seri sebelumnya