Sempat Kaget, Risma Raih Penghargaan Pejabat Peduli Museum

SURABAYA — Wali Kota Surabaya Tri Rismahairni meraih penghargaan Purwakalagrha sebagai Pejabat Peduli Museum 2018. Komunitas Jelajah sebagai penyelenggara Indonesia Museum Awards 2018 menilai Risma layak menerima penghargaan itu karena memberikan sumbangsih nyata bagi perkembangan permuseuman di Kota Pahlawan.

Atas penghargaan itu, Risma mengucapkan terimakasih. Dia mengaku kaget setelah mendengar dapat penghargaan sebagai salah satu pejabat yang peduli terhadap museum.

“Terus terang saya kaget waktu diberi tahu dapat penghargaan ini, karena saya belum melakukan apa-apa,” kata Risma, kemarin.

Dia mengatakan sejak awal menjabat wali kota, dia sudah bermimpi menjadikan Kota Pahlawan memiliki banyak perpustakaan dan banyak museum.

“Saya punya mimpi saat saya jadi wali kota, bukan hanya ada satu perpustakan di Surabaya, tetapi saya ingin membangun 1.000 perpustakaan di Kota Surabaya. Dan saat ini Surabaya mempunyai 1.498 perpustakaan,” kata Risma.

Risma menjelaskan, keinginannya agar Kota Surabaya memiliki ribuan perpustakaan dan berbagai museum berangkat dari harapannya agar generasi muda di kota itu tidak melupakan sejarahnya.

Sementara itu, Ketua Pelaksana Indonesia Museum Awards 2018 yang juga pendiri Komunitas Jelajah Musiana Yudhawasthi mengatakan, di tangan Risma inilah Kota Surabaya berubah.

Perubahan dari dulunya gersang dan kini sudah berubah hingga mendapat julukan kota sejuta taman. Semakin lengkap, ketika Risma juga bermimpi Kota Pahlawan ini bisa menjadi kota seribu museum.

“Makanya, setiap tahun dia mempunyai target untuk membangun museum baru di Surabaya dengan menggandeng berbagai pihak. Baik pemerintah maupun swasta, khususnya yang memiliki bangunan dan benda-benda yang bernilai sejarah,” kata Musiana.

Pihaknya mengapresiasi Risma yang bercita-cita kotanya nanti bisa memiliki berbagai macam museum, seperti Museum Cat, Kantor Pos, Museum Makanan Tradisional, dan Museum Industri.

Keinginan tersebut, lanjut Musiana, menandakan Risma menganggap museum sebagai tempat yang istimewa.

“Makanya, beberapa benda pusaka milik keluarganya, seperti ndok bledek, tombak, dan beberapa keris peninggalan buyut-buyutnya, disimpan di Museum NU. Selama dia menjabat juga sudah banyak museum yang diresmikan dan masih banyak museum lagi yang akan diresmikan,” ujar Musiana.

Dia menegaskan, Indonesia Museum Awards ini memang sangat mengapresiasi terhadap tokoh dan pejabat yang telah ikut andil dalam perkembangan permuseuman. Mereka bergerak melalui berbagai  kebijakan yang dikeluarkannya, sehingga berdampak positif bagi dunia permuseuman di wilayahnya masing-masing.

Selain penghargaan kepada pejabat pemerintah peduli museum, Indonesia Museum Award 2018 juga memberikan penghargaan kepada Tokoh Peduli Museum, Pengusaha Peduli Museum, Perguruan Tinggi Peduli Museum, dan Media Peduli Museum.

Bahkan, ada pula penghargaan khusus untuk tokoh yang sepanjang hidupnya memiliki andil besar bagi perkembangan museum dan heritage, berupa penghargaan Pengabdian Sepanjang Hayat.

Sebelumnya, Pemkot Surabaya juga kembali menerima penghargaan Anugerah Kita Harus Belajar (Kihajar) dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) pada Malam Anugerah Kihajar ke-7 tahun 2018 di Jakarta, Jumat, (12/10/2018).

Penghargaan tersebut, diberikan kepada lima provinsi, tujuh kota dan empat kabupaten, yang berprestasi dalam memajukan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) pendidikan di daerahnya masing-masing.

Tahun 2018, merupakan kedua kalinya Pemkot Surabaya menerima penghargaan kategori utama tingkat kabupaten-kota. Penghargaan tersebut, berhasil diraih karena kepedulian dan komitmen dalam pengembangan bidang TIK untuk dunia pendidikan dan kebudayaan.

Risma mengatakan sesuai UUD Tahun 1945 Pasal 31 menyebutkan bahwa setiap anak berhak untuk mendapatkan pendidikan yang layak di bumi indonesia tercinta.

Oleh karena itu, dengan visi dan misi itu pula bahwa setiap anak Indonesia berhak memperoleh pendidikan. Baik itu anak berkebutuhan khusus, ataupun anak normal. (goek)