Selamat Jalan, Kiai Monib

Oleh: Sri Untari Bisowarno*

Sesuatu yang kelak retak

Dan kita membikinnya abadi

(Goenawan Mohamad, Kwatrin Tentang Sebuah Poci, 1973).

MUNGKIN kita memang seperti poci. Yang bagus, tapi bisa saja retak. Dan tinggal kitalah yang akan membikinnnya abadi. Akan membikinnya membekas.

Mungkin itulah kesan umum kita pada setiap keluarga, teman, maupun saudara jauh kita. Tak ada yang sempurna, tinggal kita yang akan membuatnya abadi dalam kenangan.

Kiai Monib, begitulah kami memanggil beliau, lelaki kelahiran 27 Juni 1968, di Kranggan Timur, Galis, Kabupatem Bangkalan.

Sebagai teman seperjuangan, beliau menunjukkan satu karakter Madura yang khas dalam ingatan saya. Beliau menampilkan sisi moderat orang pesantren dengan tegas.

Agama bukan persoalan klaim atas kebenaran untuk berbicara dan menghakimi orang lain atas nama Tuhan. Akan tetapi, agama -merujuk pada diutusnya Nabi Muhammad SAW- diturunkan untuk menjadi rahmat bagi alam.

Dengan agama, setiap orang dituntut untuk menampillankan raut yang ceria, kata-kata yang sopan, dan perangai yang santun.

Dengan cara beragama yang rahmatan lil’alamin itulah, Kiai Monib tampil luwes dan fleksibel bergaul dengan siapa saja. Dia tidak terlihat canggung untuk berinteraksi dengan orang yang berbeda agama, suku, ras dan lainnya.

Seperti halnya pada gusdurian pada umumnya -sebutan untuk mereka yang mencintai dan mengamalkan pandangan-pandangan keagamaan Gus Dur- Kiai Monib menerima kemajemukan, kepluralan sebagai satu keniscayaan dari Allah SWT.

Karena perbedaan itu, satu sama lain, kita saling berkenalan. Karena plurallah, kita akhirnya kaya akan kebudayaan, kaya akan bahasa, dan kaya akan nilai-nilai persaudaraan dan kemanusiaan.

Pada saat masa kampanye Pilpres, sesama kader partai, saya melihat Kiai Monib tampil sebagai juru kampanye yang elegan.

Dia tidak hanya mendukung dan mengonsolidasikan kemenangan Pak Jokowi-Kiai Maruf Amin. Akan tetapi, Kiai Monib juga mampu menjelaskan nawacita Pak Jokowi- Kiai Maruf Amin dalam membangun Indonesia yang lebih maju. Indonesia berbhineka tunggal ika.

Maka, saat mendengar kabar bahwa penulis buku Ibu Ketua Umum PDI Perjuangan itu berpulang ke rahmatullah pada pukul 20.45, Ahad, 10 Nopember 2019 di RS Dharmais, Jakarta, saya seperti mendengar gemuruh menusuk kalbu. Gelap malam seperti memanjang.

Tak menunggu berapa lama, saya pun mendapatkan tugas untuk mengawal jenazah Pimpinan Pondok Pesantren Fatihatul Qur’an ke Galis. Mungkin itulah satu-satunya jalan bagi saya untuk mengantar sahabat terbaik saya ke pangkuan-Nya.

Esoknya, sepanjang perjalanan saya hanya mengingat derai tawanya. Saya mengingat sikap dan kegigihannya dalam memperjuangkan nilai-nilai plural dalam beragama dan berbangsa.

Di tengah lautan kalimah tauhid para pengiring jenazah, saya benar-benar kehilangan seorang sahabat dalam perjuangan. Seorang pejuang pluralisme.

Selamat jalan, Kiai Monib.

*Sri Untari Bisoawarno, Sekretaris DPD PDI Perjuangan Jawa Timur