Sekjen PDIP: Desain Jokowi, Indonesia Harus Berdaulat di Bidang Pangan

LAMPUNG – Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto berharap Indonesia tak akan lagi melakukan impor di bidang pangan. Hasto mengatakan, dalam rancangan kepemimpinan calon presiden nomor urut 01 Joko Widodo ke depan, Indonesia harus berdaulat di bidang pangan.

“Dalam desain kepemimpinan Pak Jokowi ke depan, kita harus berdaulat di bidang pangan,” ujar Hasto di Lampung Tengah, Jumat (1/3/2019).

Tak hanya berdaulat di bidang pangan, ucap Hasto, namun juga di bidang energi. “Maka begitu banyak bendungan yang dibangun,” sambungnya.

Menurut Hasto, proses untuk berdaulat di bidang pangan dan energi tak akan berlangsung cepat, seperti semudah membalikkan telapak tangan.

“Tetapi arah ke depan kita harus berdikari dalam pangan, ke depan kita tidak boleh lagi impor,” kata Hasto.

“Ini tahapan-tahapan yang akan dilakukan oleh Pak Jokowi. Caranya bagaimana? Bangun infrastruktur lebih dahulu,” tuturnya.

Hasto juga menyatakan keberpihakan Jokowi pada rakyat dibuktikan lewat kebijakan di bidang pertanahan. Menurutnya, Jokowi memegang kredo atau satu keyakinan bahwa tanah untuk rakyat.

Jokowi memilih untuk membagikan sertifikat tanah kepada masyarakat ketimbang menyerahkan lahan kepada kaum elite. Di masa lalu, kata Hasto, tanah hanya dibagi-bagi tanpa memberikan aspirasi rakyat.

“Pak Jokowi memiliki kredo tanah untuk rakyat. Karena itulah sertifikasi tanah rakyat menjadi kebijakan yang sangat fundamental dari Pak Jokowi,” ujar Hasto.

Untuk mewujudkan pembangunan, Hasto tidak mengelak Jokowi menghadapi berbagai tantangan, salah satunya hoaks dan fitnah. Namun, ia meyakini hoaks dan fitnah membuktikan ketidaksiapan berkompetisi dan beradu program.

“Mereka menebar hoaks dan fitnah itu artinya menghalalkan politik kekuasaan itu karena ambisinya. Hoaks dan fitnah membuktikan mereka tidak siap,” sebut Hasto.

Hasto menambahkan kepemimpinan Jokowi-Ma’ruf merupakan kepemimpinan yang menyatukan dan memastikan seluruh umat beragama bisa hidup berdampingan dengan damai tanpa ada yang mengkafirkan satu sama lain. “Kehidupan yang diwarnai oleh nilai-nilai kebudayaan kita. Karena itu semua agama di Indonesia bisa hidup berdampingan, semua kepercayaan bisa dapat bersama-sama,” tuturnya. (goek)