oleh

Sambangi Penderita Tumor Ganas, Tatit: Pemerintah Harus Hadir

NGANJUK – Ketua DPRD Nganjuk Tatit Heru Tjahjono mengupayakan agar Mohammad Nur Rahman (16), penderita tumor ganas di bagian lehernya, agar mendapat layanan pengobatan di RSUD Nganjuk.

Itu dia sampaikan saat melihat langsung kondisi Nur Rohman di rumahnya, di Dusun Awar-Awar RT 02 RW 03 Desa Mancon, Kecamatan Wilangan, Kabupaten Nganjuk, kemarin.

Wakil rakyat yang juga Ketua DPC PDI Perjuangan Nganjuk ini juga langsung menelepon Direktur RSUD Nganjuk untuk memfasilitasi kemoterapi untuk Nur Rohman yang dari keluarga miskin.

“Inilah perlunya kebersamaan berbagai pihak untuk saling membantu. Di sini pemerintah harus hadir memberikan pelayanan terbaik, karena Nur Rohman juga bagian dari warga Nganjuk,” kata Tatit.

Tak hanya mengusahakan pengobatan di RSUD Nganjuk, Tatit yang merasa trenyuh dengan kondisi Nur Rohman dan keluarganya, juga membantu mereka dengan uang.

Dia pun mengucapkan terima kasih kepada kalangan media dan para donatur yang telah membantu kelancaran Rahman agar bisa segera mendapatkan bantuan pengobatan dari pihak RSUD Nganjuk.

Sementara itu, saat dikunjungi Tatit, Sukarti, ibu Muhammad Nur Rohman menyampaikan bahwa kondisi anaknya kini cukup memprihatinkan. Sejak Juli 2020, tumor ganas tersebut bersarang di leher sebelah kanan Nur Rohman.

“Sudah pernah dioperasi 1 kali namun tumor ganasnya tetap saja tumbuh sampai sekarang. Ini ukurannya seperti 1 kepal tangan orang dewasa,” jelasnya.

Menurut Sukarti, anaknya mempunyai keinginan kuat untuk segera sembuh dan kembali bersekolah.

“Kami juga ingin sekali membawa anak kami ke Rumah Sakit Kediri atas rujukan dari RSUD Nganjuk biar sembuh untuk dioperasi. Tapi bagaimana bisa karena kondisi ekonomi kami,” ujarnya.

“Kalau kata dokternya, biaya berobat untuk melakukan kemoterapi sangat mahal. Kira-kira sebesar 5 juta rupiah sekali terapi,” tambah dia. Jangankan untuk berobat, imbuh Sukarti, untuk keperluan makan sehari-hari pun keluarganya masih merasa kekurangan.

“Nanti kalau dibawa ke Kediri nanti kita yang nunggui mau makan apa, sedang bapaknya baru meninggal dunia belum ada 100 hari,” pungkas Sukarti. (endyk)

rekening gotong royong