Regenerasi ala PDI Perjuangan

Aven JanuarSANUR – Kader muda PDI Perjuangan Jawa Timur, Aven Januar menepis anggapan publik tentang kegagalan PDI Perjuangan dalam menjalankan proses kaderisasi dan regenerasi kepemimpinan di Partai.

“Hanya PDI Perjuangan saat ini yang paling siap dalam melakukan proses regenerasi itu dengan menjunjung tinggi asas demokrasi asli Indonesia, yakni gotong royong dan musyawarah mufakat,” kata Aven Januar di arena Kongres IV PDI Perjuangan, Inna Beach Sanur Hotel, Kamis (9/4/2015) malam.

Menurutnya, kedua asas regenerasi itu telah memberikan banyak keuntungan bagi PDI Perjuangan khususnya terkait dengan soliditas partai dan turut menciptakan kondisi persaingan yang sehat antar kader partai. Seperti contoh, kemunculan kader-kader muda PDI Perjuangan yang potensial dan telah menduduki jabatan-jabatan strategis dalam pemerintahan lokal maupun nasional saat ini, adalah proses kaderisasi selama 15 tahun ini.

“Tokoh usia muda seperti Ganjar Pranowo di Jawa Tengah, Budiman Soedjatmiko di DPR RI, Djarot Saiful Hidayat dari Jatim yang saat ini Wagub DKI, dan tentu yang paling fenomenal, kemunculan murni kader partai yakni, Joko Widodo yang saat ini Presiden RI, adalah bukti berjalannya proses kaderisasi dan regenerasi di tubuh PDI Perjuangan,” tutur mantan Ketua Departemen Pemuda DPD PDI Perjuangan Jawa Timur ini.

Dalam melaksanakan proses regenerasi prosedural tapi juga tidak meninggalkan substansi regenerasi itu sendiri, PDI Perjuangan juga menjunjung asas reward and punishment. Bagi kader-kader muda yang berprestasi, diberi kesempatan untuk menduduki banyak jabatan itu, tapi tentu dengan dikawal mekanisme monitoring yang ketat dari pihak internal partai.

“Sehingga ketika salah satu kader partai melakukan kesalahan yang substansi dalam menjalankan tugas jabatannya, harus mendapatkan peringatan dan evaluasi, metode evaluasi yang dipilih PDI Perjuangan,lagi-lagi adalah musyawarah tertutup, sehingga kader tetap berusaha meningkatkan kualitas kinerjanya tanpa harus malu dihadapan publik ketika dihukum secara terbuka,” jelas Aven Januar.

Mekanisme demokrasi gotong royong dan musyawarah itu juga menurut Aven, dalam kerangka strategis jangka panjang adalah mengurangi segala proses demokrasi liberal yang penuh intrik dan persaingan yang tidak sehat.

Sebagaimana layaknya mekanisme voting dalam pengambilan keputusan, yang mana proses voting itu juga akan diiringi dengan praktek politik uang yang justru menjauhkan substansi demokrasi sejati.

“Kedepan, warga Bangsa Indonesia sudah seharusnya mengembalikan demokrasi asli dalam setiap jenjang kehidupan berbangsa dan bernegara itu, dimulai dengan musyawarah warga di lingkup Rukun Tetangga hingga pemerintahan pusat, sehingga tidak ada lagi proses demokrasi yang tidak sehat berjalan di negeri ini,” pungkas Aven. (pri)