Rano, Jokowi, dan Badui

ilustrasi jokowi rano dan baduyJAKARTA – Senin (13/4/2015), Presiden Joko Widodo mengadakan kunjungan kerja ke Bumi Serpong Damai, Tangerang Selatan, Banten. Saat itu, Pelaksana Tugas Gubernur Banten Rano Karno sempat satu mobil dengan Jokowi.

Di mobil RI-1 itu, kedua kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) tersebut sempat bercerita beberapa hal, termasuk yang bernuansa canda. Rano Karno, bintang film sejak masa sangat remaja itu, tentu bisa melukiskan pertemuan di mobil tersebut seperti sedang shooting film.

Rano melukiskan gerak-gerik serta posisi duduk dirinya dan Jokowi di dalam mobil secara detail dan rinci. “Saya sempat mengambil gambar ketika beliau melambaikan tangan kepada masyarakat yang mengelu-elukan,” ujar Rano kepada rekan-rekannya di kediaman resminya di Serang, Rabu (22/4).

Kalau ada cerita ringan tentang pertemuan dengan Jokowi, tentu ada pula kisah singkat perjumpaannya dengan presiden ke-5 RI, Megawati Soekarnoputri. Beberapa hari sebelumnya, di Bali, Rano bertemu Megawati. “Beliau sempat tidak mengenali saya karena rambut saya potong pendek sekali, nyaris plontos,” ujar Rano yang baru saja umrah ke Tanah Suci.

Rano juga bercerita tentang masyarakat suku Badui yang merupakan salah satu kelompok masyarakat yang dia pimpin. “Beberapa bulan lalu, saya sempat masuk ke wilayah Badui Dalam. Di sana, tak seorang pun yang kenal saya,” ujarnya.

Menurut Rano, warga Badui Dalam, sesuai hukum adat, tidak melihat televisi dan radio. “Tetapi, yang mengagetkan saya, ada warga Badui yang menyimpan dan memasang foto Presiden Soekarno ketika bertemu masyarakat Badui tahun 1950-an,” lanjutnya.

Menurut catatan, Bung Karno ketika berkunjung ke Banten pada 2 Juli 1951 sempat bertemu utusan masyarakat Badui. Kemudian, 3 Juli 1953, dua warga Badui, Saltiwin dan Darjeuni (83), datang ke Istana Bogor untuk menyampaikan keluhan mereka terkait dengan pelestarian serta perlindungan wilayah dan adat Badui.

Gubernur Jawa Barat 1970-1974, Solihin GP, dalam buku biografinya, “Solihin GP: Gubernur Rakyat”, juga bercerita segarnya alam Badui di Lebak. Dalam buku itu, Solihin GP pernah mengajak Presiden Soeharto mandi di sungai di Badui. Menurut Solihin, Soeharto mau mandi di sungai tanpa pengawalan.

Badui di Lebak adalah bagian yang unik dari pluralitas Indonesia. Presiden Indonesia harus punya hati kepada Badui yang akan mengadakan upacara seba. Masyarakat Badui adalah suara alam.

Dalam upacara seba, suku Badui Dalam dan Badui Luar berjalan kaki ke Serang untuk menemui pemimpin pemerintahan. Perjalanan kaki ke ibu kota Provinsi Banten itu sekitar enam jam. “Mereka, antara lain, akan menyampaikan amanat dan pesan kepada pemerintah dan bangsa ini,” ujar Rano.

Dengarkanlah suara hati nurani suku Badui itu! (J Osdar)

* Artikel ini sebelumnya tayang di Harian Kompas edisi Selasa (21/4/2015).