Ramadhan di Tengah Pandemi: Perenungan Nilai Ketakwaan

Oleh: Dr. Tantri Bararoh
Ketua DPC ISRI Kabupaten Malang dan Anggota DPRD Kabupaten Malang Fraksi PDI Perjuangan.

BULAN Ramadhan adalah bulan penuh berkah dan ampunan yang selalu dirindukan oleh seluruh umat muslim di dunia. Bulan yang kedatanganannya selalu disambut dengan kebahagiaan dan penuh suka cita.

Namun, Ramadhan tahun ini sangat terasa berbeda dengan Ramadhan pada tahun sebelum-sebelumnya. Seperti yang kita semua rasakan, Ramadhan tahun ini harus kita jalani dengan kondisi tengah dilanda pandemi. Suatu kondisi yang mengharuskan umat muslim menjalankan aktivitas ibadah Ramadhan dengan tidak biasa.

Perubahan aktivitas peribadahan yang dijalani umat muslim selama bulan Ramadhan tidak terlepas dari ditetapkannya berbagai himbauan dan kebijakan yang dikeluarkan sebagai langkah-langkah yang harus ditempuh guna memutus mata rantai penyebaran wabah. Berbagai imbauan dan kebijakan tersebut dikeluarkan sebagai bentuk perlindungan kesehatan dan keselamatan kepada setiap warga negara Indonesia.

Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2020 tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) adalah satu dari beberapa kebijakan yang dikeluarkan Pemerintah sebagai langkah konkret dalam menanggulangi penyebaran wabah. Peraturan mengenai PSBB ini mengharuskan masyarakat untuk membatasi aktivitas sosial, budaya, ekonomi bahkan rutinitas agama mereka sehari-hari.

Sejalan dengan kebijakan Pemerintah, Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga mengeluarkan fatwa tentang Penyelenggaraan Ibadah dalam Situasi Terjadi Wabah Covid-19 yang ditetapkan pada tanggal 16 Maret 2020 yang lalu. Fatwa MUI tersebut secara garis besar berisi larangan bagi umat muslim untuk menjalankan ibadah yang sifatnya melibatkan orang banyak dan dilaksanakan di masjid atau tempat umum lainnya.

Aktivitas ibadah tersebut seperti shalat Jum’at, shalat lima waktu/rawatib berjamaah, shalat tarawih dan shalat Ied di masjid atau tempat umum lainnya, serta menghadiri atau mengadakan pengajian umum dan majelis taklim. Adanya kondisi pandemi inilah yang kemudian membuat tradisi umat Islam dalam menjalankan ibadah dalam bulan Ramadhan mengalami perubahan sebagai bentuk pengendalian diri agar penyebaran wabah Covid-19 dapat segera teratasi.

Sebagai umat muslim yang taat kepada setiap kebijakan ulil amri dan arahan ulama, kita seharusnya mematuhi kebijakan dan fatwa yang telah dikeluarkan oleh Pemerintah dan MUI tersebut. Hal ini agar penyebaran wabah Covid-19 bisa segera teratasi dan kita semua bisa segera menjalani aktivitas kehidupan kita secara normal kembali.

Sebagai umat muslim yang beriman kepada setiap ketentuan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, kita seharusnya mampu memetik hikmah dari merebaknya situasi pandemi ini sekaligus menjadikan situasi ini sebagai media muhasabah diri agar semakin dekat kepada Allah SWT.

Merebaknya wabah Covid-19 membuat kehidupan masyarakat di segala lini menjadi serba tidak menentu dan dilanda ketidakpastian. Jika kita tidak mampu menyikapinya secara bijaksana, kondisi ini akan membuat kita terjerumus dalam kondisi tertekan dan keprihatinan. Oleh karena itu, dalam menghadapi situasi pandemi seperti sekarang ini, sikap yang harus tertanam dalam diri kita adalah ikhlas menerima segala ketentuan yang telah digariskan oleh Allah SWT.

Keikhlasan menjadi kunci bagi diri kita agar tetap mampu menjalani kehidupan meskipun sedang dalam situasi sesulit apapun. Hati yang senantiasa ikhlas akan membuat diri kita selalu dekat dengan Allah SWT. Sehingga terhindarkan dari sifat takabur atas nikmat dan karunia yang sejatinya telah Allah SWT berikan dalam setiap jengkal kehidupan kita.

Hikmah lain yang bisa kita maknai dari penyebaran wabah Covid-19 ini adalah sebagai media bagi kita untuk bermuhasabah atau merenungkan kembali setiap aktivitas kehidupan yang telah kita jalani selama ini. Kebanyakan dari kita selalu disibukkan dengan memikirkan aktivitas duniawi semata, yang justru menjauhkan kita dengan Sang Pemilik Alam Semesta, Allah SWT.

Aktivitas duniawi juga seringkali melalaikan kita untuk membangun dan menjaga kedekatan dengan keluarga serta melalaikan pentingnya bersyukur atas nikmat rizki dan kesehatan yang senantiasa diberikan kepada kita.

Adanya wabah Covid-19, terlebih dalam momen bulan Ramadhan ini, seharusnya semakin membuat kita lebih dekat kepada Allah SWT. Sebagai hambaNya yang beriman, kita harus senantiasa bersyukur atas apapun nikmat dan kondisi yang telah diberikan, jangan sampai hanya keluh kesah yang kita utarakan tanpa mampu mensyukuri karunia yang telah dilimpahkan kepada kita.

Menjaga kesehatan dengan senantiasa menerapkan pola hidup bersih adalah salah satu upaya yang bisa kita lakukan dalam rangka mensyukuri nikmat pemberian Allah SWT.

Selain itu, momen Ramadhan ditengah wabah Covid-19 ini juga dapat kita jadikan sebagai sarana untuk kembali membangun kedekatan secara emosional dengan keluarga kita dengan menjalankan ibadah dirumah secara bersama-sama. Hadirkan kehangatan dalam keluarga yang selama ini mungkin terlalaikan. Tanamkan nilai-nilai keimanan dan ketakwaan agar keluarga kita dapat menghadapi situasi pandemi ini dengan penuh rasa syukur dan keikhlasan.

Makna puasa Ramadhan yang salah satunya adalah melatih kedisiplinan dan kejujuran juga dapat kita terapkan dalam masyarakat selama masa pandemi ini. Hal ini penting untuk kita lakukan agar penyebaran wabah Covid-19 di Indonesia tidak semakin berkembang luas.

Banyak kasus positif Covid-19 yang terjadi di berbagai daerah berawal dari ketidakjujuran oknum-oknum masyarakat yang tidak mau kooperatif menjelaskan kondisi kesehatannya kepada pihak instansi rumah sakit atau instansi kesehatan lainnya. Hal ini jelas sangat berdampak buruk bagi kesehatan para tenaga medis dan masyarakat lainnya.

Nilai-nilai kejujuran kiranya sangat penting untuk benar-benar diterapkan dalam masyarakat yang tengah mengalami situasi sulit akibat pandemi ini agar wabah ini dapat segera berakhir.

Selain itu, nilai kedisiplinan yang diajarkan dalam ibadah puasa Ramadhan, yang mewajibkan kita menahan segala hawa nafsu dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari, juga dapat kita terapkan dalam rangka menghadapi kondisi terkini bangsa ini. Bersabar menahan keinginan untuk beraktivitas diluar rumah, berkumpul dengan teman-teman maupun sanak saudara, disiplin menggunakan masker dan disiplin menjaga kebersihan adalah nilai-nilai yang harus kita terapkan.

Menjaga kebersihan adalah suatu kewajiban yang harus dijalankan oleh umat Islam yang beriman. Hal ini karena kebersihan merupakan sebagian dari iman. Maka, sudah seharusnya setiap umat muslim selalu menjaga kebersihan diri dalam kondisi apapun, baik dalam kondisi pandemi seperti sekarang maupun dalam kondisi normal. Jika kita senantiasa membudayakan pola hidup bersih dalam keseharian kita, maka niscaya kesehatan diri kita juga senantiasa terjaga.

Bulan Ramadhan, selain sarat akan nilai-nilai ibadah juga sangat identik dengan kebiasaan masyarakat yang sebenarnya merupakan aktivitas yang kurang baik. Kebiasaan tersebut berupa aktivitas konsumtif masyarakat yang disadari ataupun tidak, justru lebih boros daripada bulan-bulan biasa.

Wabah Covid-19 yang merebak pada bulan Ramadhan tahun ini setidaknya telah memberikan hikmah tersendiri untuk kita maknai. Ditengah kondisi pandemi ini, masyarakat seyogianya dapat lebih memaknai hidup dalam bingkai spiritual agar memiliki kekuatan dan ketabahan dalam menjalani ujian yang diberikan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala ini.

Adanya wabah Covid-19 membuat masyarakat lebih berhemat dalam melakukan pengeluaran kebutuhan selama bulan Ramadhan. Bulan Ramadhan yang biasanya dipenuhi dengan antusiasme warga untuk membeli jajanan-jajanan takjil di pasar atau pakaian-pakaian baru di pusat perbelanjaan, untuk tahun ini harus mengubah kebiasaan mereka menyesuaikan kondisi yang serba dirundung keprihatinan.

Kondisi ini juga mendorong kita untuk meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan sosial di sekitar kita. Banyak kegiatan sosial yang dapat kita lakukan sebagai upaya kita berbagi kepada masyarakat yang kurang beruntung. Terlebih dalam bulan Ramadhan ini, kepedulian terhadap sesama tentu akan mendapat ganjaran berlipat-lipat dari Allah SWT.

Akhirnya, kondisi keprihatinan akibat pandemi Covid-19 yang menerpa bangsa ini haruslah kita sikapi dengan bijaksana dan penuh keikhlasan. Berkeluh kesah saja tidaklah menyelesaikan masalah, justru membuat kita senantiasa hidup dalam kegelisahan.

Segala arahan dan kebijakan yang telah dikeluarkan oleh Pemerintah dan ulama kepada masyarakat untuk tetap beraktivitas dan beribadah di rumah serta menghindari tempat-tempat keramaian, haruslah selalu kita patuhi sebagai upaya agar mata rantai wabah Covid-19 benar-benar dapat musnah ditengah bangsa ini.

Segala upaya yang telah kita lakukan tersebut juga harus dibarengi dengan sikap tawakkal atau berserah diri kepada Allah SWT. Tidak ada daya upaya yang dapat kita lakukan tanpa ada rahmat dan ridha dari-Nya.

Oleh karenanya, sebesar apapun upaya kita melawan wabah Covid-19 ini, kita harus senantiasa menyerahkan segala hasilnya kepada Allah SWT. Wabah Covid-19 merupakan ujian duniawi yang diberikan Allah SWT. kepada kita. Jika kita mampu menghadapinya dan lulus dari ujian ini, maka akan menambah kecintaan dan keimanan kita kepada Allah SWT. (*)