Puti: Pasar Tradisional Harus Dipertahankan

SURABAYA – Calon Wakil Gubernur Jawa Timur Puti Guntur Soekarno menegaskan, keberadaan pasar tradisional harus dipertahankan, di tengah maraknya pasar moderen.

Hal ini sejalan dengan komitmen ekonomi kerakyatan pasangan Cagub-cawagub Saifullah Yusuf (Gus Ipul)-Puti Guntur Soekarno (Mbak Puti).

“Pasar tradisional saya dukung keberadaannya. Harus dipertahankan, meski sekarang makin banyak pasar moderen,” kata Puti, kemarin.

Meski demikian, tambah dia, perlu dilakukan revitalisasi, agar pasar tradisional tetap bisa membuat kerasan pembeli dan membuat mereka tetap belanja di pasar tersebut.

Menurut Puti, selain sebagai pusat ekonomi rakyat, masyarakat dari bermacam elemen bisa bertemu, berinteraksi merajut keberagaman, dan merajut toleransi di pasar tradisional.

Apalagi, banyak pedagang yang dari kalangan bawah ini memang menggantungkan ekonomi keluarganya dari berjualan di pasar rakyat ini.

Hal ini dia ketahui sendiri setelah mengunjungi Pasar Banyuwangi pada Sabtu (27/1/2018) lalu.

Saat dialog dengan beberapa pedagang, ungkap dosen tamu di Universitas Kokushikan, Jepang itu, banyak di antara mereka sudah ada berjualan puluhan tahun di Pasar Banyuwangi, bahkan turun temurun.

Saat mengunjungi Pasar Banyuwangi, Puti langsung menyapa masyarakat yang ada di sana. Baik pembeli maupun pedagang.

“Selamat pagi ibu-ibu, sedang belanja apa,” sapa cucu Presiden pertama RI Soekarno itu, sambil menyalami beberapa perempuan yang menenteng tas plastik isi belanjaan.

Didampingi beberapa pengurus PDI Perjuangan, PKB dan parpol pengusung lainnya, Puti menyapa pedagang di los-los pasar.

Tak ayal, pasar yang sebagian besar mengenal sosok cucu Bung Karno, pagi itu tampak meriah. Banyak pengunjung pasar yang mengajak Puti berswafoto di stan-stan pasar.

Tak hanya pengunjung, pedagang pasar pun banyak yang mengabadikan dirinya bersama Puti lewat kamera HP.

Di sela aktivitas keliling stan pasar, Puti menyempatkan diri beberapa saat untuk mengobrol dengan pedagang, seperti pedagang tembakau, pedagang sembako, grabah, pakaian, dan penjual makanan.

Topik obrolan pun bermacam, mulai soal harga, ketersediaan bahan, penghasilan pedagang, hingga bagaimana hasil jualan mereka bisa menopang ekonomi keluarga.

Di Warung Makan Mbak Noer dekat akses keluar Pasar Blambangan, Puti sempat ngobrol agak lama.

Kepada Puti, Mbak Noer mengatakan, hasil jualan dari warungnya bisa menambah ekonomi keluarga.

“Tadi Mbak Noer menyampaikan, hasil jualannya lumayan untuk kebutuhan keluarga, seperti bisa untuk membiayai sekolah anak-anaknya dan kebutuhan lainnya,” terang alumnus jurusan Administrasi Negara Universitas Indonesia tersebut.

Di Warung ini, Puti pun menikmati sarapan Nasi Tempong. Puti mengaku baru kali ini menikmati Nasi Tempong, kuliner khas Banyuwangi.

Selama ini, dia sudah mendengar nasi Tempong atau warga setempat menyebutnya Sego Tempong.

Meski demikian, Puti belum pernah mencicipi menu nasi yang terdiri dari sepiring nasi panas, sayuran rebus plus gorengan tahu, tempe, ikan asin, dadar jagung, dan yang khas Tempong, sambal mentah super pedas.

Sedangkan pilihan lauknya bisa berupa: ayam, empal,ikan laut, telur, aneka sea food, jeroan, pepes, botok tawon, lele, jeroan dan lainnya.

“Ternyata bener, pedesnya nggigit banget itu,” ujar Puti. (goek)