Presiden Jokowi Canangkan Gerakan Nasional “Ayo Kerja”

pdip jatim - presiden di titik nol sabangSABANG – Dalam rangkaian kunjungannya ke Provinsi Aceh, sejak Minggu (8/3/2015) lalu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) didampingi Ibu Negara Iriana dan sejumlah menteri mengunjungi daerah paling barat di Indonesia, yaitu Kota Sabang, Selasa (10/2) pagi.

Di atas titik nol kilometer, di Sabang, Pulau Weh, Presiden Jokowi, Selasa (10/2) pagi, mencanangkan Gerakan Nasional “Ayo Kerja” di Kota Sabang, Pulau Weh.

“Hari ini saya berdiri di titik nol kilometer Indonesia,titik ujung barat Indonesia. Gerakan Nasional 70 Tahun Kemerdekaan RI, saya canangkan tepat di nol kilometer Indonesia, di Kota Sabang dan rencananya akan berakhir di Merauke ujung timur Indonesia waktu berikutnya,” kata Presiden Jokowi dalam sambutannya.

Menurut rencana gerakan “Ayo Kerja” ini akan disebarkan ke 33 provinsi, dan titik terakhir akan dilakukan di Merauke, Papua. Gerakan ini menjadi representasi dari semangat “Kerja, kerja, kerja” yang digelorakan oleh Presiden Jokowi dalam pemerintahannya.

“Hari ini saya berdiri di titik nol kilometer Indonesia,titik ujung barat Indonesia. Dari titik ini saya ingin mengajak kita semua untuk membayangkan kembali Indonesia. Indonesia bukan hanya masa lalu kita, melainkan hari ini, dan masa depan kita. Indonesia adalah harapan kita, tempat berlindung di hari tua, tempat akhir menutup mata. Tempat kita untuk menaruh cita-cita, sekaligus tempat untuk mewujudkannya,” seru Jokowi.

Presiden menilai, tujuhpuluh tahun Indonesia merdeka adalah Rahmat Allah Yang Maha Kuasa yang tak ternilai. “Hari ini saya meyakini bahwa kemerdekaan adalah anugerah terindah Tuhan Yang Maha Pemurah agar kita semua bisa membayangkan Indonesia masa depan, serta agar kita masih bisa memiliki harapan tentang Indonesia, tentang Tumpah Darah kita,” tegasnya.

Presiden menegaskan, kemerdekaan adalah kebebasan yang seluas-luasnya bagi kita semua untuk berani menggantungkan cita-cita setinggi langit untuk kejayaan Indonesia. Kemerdekaan adalah kesempatan bagi kita untuk mmembuat semua harapan itu bisa menjadi kenyataan. “Semua harapan kita tentang Indonesia itu hanya bisa dicapai dengan kerja, sekali lagi dengan kerja,” serunya.

Hanya melalui kerja, lanjut Presiden Jokowi, sebuah bangsa akan meraih kemakmuran dan kejayaannya. Hanya melalui kerja Bangsa Indonesia akan bisa membangun jiwa dan sekaligus raganya untuk kejayaan Indonesia Raya.

“Hanya melalui kerja, Republik Indonesia akan dapat berdiri kokoh untuk selama-lamanya dan mampu mweujudkan semua cita-cita mulia yang termaktub dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945,” tutur Kepala Negara.

Presiden Jokowi menjelaskan, kerja yang dimaksudkannya bukanlah kerja biasa, tapi kerja dengan keinsyafan akan kekuatan persatuan Indonesia.Kerja yang dilakukan dengan gotong royong dari seluruh anak bangsa tanpa kecuali.

“Gotong royong bukan hanya urusan rakyat, para pemimpinlah yang pertama dan terutama harus mampu memberikan contoh bergotong royong dalam kerja. Karena kita yakin tantangan besar yang dihadapi Bangsa Indonedia hari ini baik nasional, regional maupun global memerlukan upaya bersama yang melibatkan seluruh rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote,” tutur Jokowi.

Menurut Presiden Jokowi, gotong royong dalam kerja seharusnya menjadi jiwa Gerakan Perayaan 70 Tahun Kemerdekaan RI, sehingga perayaan kemerdekaan itu benar-benar menjadi perayaan rakyat untuk bangkit dalam kehidupannya sehari-hari.

Ia menegaskan. Ayo Kerja bukanlah slogan semata, melainkan sebuah pergerakan seperti yang pernah dibayangkan oleh Bung Karno, Bapak Bangsa dan Proklamator kemerdekaan RI.

“Saya memiliki keyakinan yang sama dengan Bung Karno bahwa pergerakan yang kita ingin bangun adalah pergerakan menjebol mentalitas bangsa yang masih berada dalam ketidakadilan, ketidakmerdekaan, ketertindasan, serta membangun sebuah mentalitas baru sebagai bangsa yang merdeka seratus persen,” tegas Jokowi.

Ayo kerja, kata Jokowi, sesungguhnya adalah perwujudan praktis dari gerakan revolusi berpikir, revolusi pola pikir, revolusi karakter, dan revolusi mental. Revolusi mental itu bukan hanya untuk rakyat, namun harus menjangkau dan mengikat para penyelenggara negara.

“Para penyelenggara negara memiliki tanggung jawab, memiliki moral maupun konstitusional untuk bekerja jujur, untuk bekerja tanpa pamrih, untuk bekerja melayani rakyat secara paripurna,” tegas Jokowi.

Presiden mengingatkan bahwa pekerjaan kita belum selesai, bahkan belum apa-apa. Sebagai bangsa yang besar, kata Jokowi, kita pasti akan menghadapi tantangan dan persoalan-persoalan yang besar pula.

Untuk itu, Presiden meminta seluruh rakyat Indonesia untuk menyiapkan diri menghadapi seluruh tantangan dengan kekuatan kita sendiri. “Kini sudah saatnya kita memusatkan tekad, memusatkan semangat, memusatkan pikiran, memusatkan perhatian untuk mengatasi berbagai tantangan dan persoalan-persoalan yang kita hadapi,” katanya. (Setkab)