Pesan Spiderman untuk Jokowi

ilustrasi -spidermanDALAM hitungan jam, Indonesia akan memiliki presiden baru, pemimpin baru. Ada rakyat biasa yang akan menjadi luar biasa, RI-1. Artinya, dalam hitungan jam ini akan ada orang biasa yang akan memiliki kekuatan dan kekuasaan luar biasa.

Kurang lebih, akan ada orang yang menghadapi situasi sama seperti Peter Parker–diperankan Tobey Maguire–sebagaimana tergambar dalam sekuel Spiderman 1 (2002), 2 (2004), dan 3 (2007).

Penyesuaian

Sekuel pertama film itu menggambarkan Peter yang kesulitan menyesuaikan diri dengan keadaan baru setelah ia disengat laba-laba. Sengatan itu memberi Peter kekuatan baru sekaligus pilihan yang lebih banyak.

Ia bahkan sempat tergoda menggunakan kekuatan itu untuk kepentingan pribadi, mulai dari mengikuti turnamen gulat untuk mendapatkan uang–yang akan digunakan membeli mobil untuk menarik Mary Jane–hingga keinginan membalas dendam atas kematian pamannya, Ben, kepada seorang penjahat.

Seiring waktu, Peter mendapati kekuatan akibat sengata laba-laba itu ternyata kalah dari kasih sayang dan bekal pendidikan yang dia dapat dari Ben dan Bibi May.

Dari Ben dan May, Peter belajar bahwa orang selalu memiliki pilihan dan orang yang mau berkorban selalu memiliki pilihan untuk menciptakan kehidupan lebih baik –tak hanya bagi diri sendiri, tetapi bagi sebanyak mungkin orang.

“Kekuatan besar selalu disertai tanggung jawab yang besar,” ujar Ben sebelum meninggal.

Peter membenturkan pengalaman-pengalamannya menggunakan kekuatan super dengan ajaran yang ia dapat dari Ben dan May, termasuk saat ia mengetahui bahwa Green Goblin sebenarnya adalah Norman Osborn, ayah Harry Osborn, teman baiknya.

Peter pun belajar lebih bijak menggunakan kekuatannya. Refleksi membawa dia kepada kesadaran bahwa ada konflik yang tak bisa dihindari, tetapi pertarungan tak pernah boleh menjadi pilihan pertama.

“Paman Ben berarti segalanya bagi kita. Namun, ia tak ingin kita hidup dengan dendam di hati kita, meski hanya satu detik,” pesan May ketika Peter mengungkapkan kematian Flint Marko, pembunuh Ben.

“Dendam itu seperti racun. Dendam bisa membuatmu lepas kendali. Dendam membawa kita pada sesuatu yang buruk, sebelum kita menyadarinya.”

Tak bisa mendapatkan segalanya

Hidup adalah proses. Masalah yang satu diikuti masalah lain, dengan solusi sebagai mata rantainya. Kadang-kadang, masalah manusia satu dengan yang lain memang sama. Namun, kondisi manusia tak pernah bisa ditebak sehingga akhir cerita tak serta-merta sama.

Setelah memiliki kesadaran lebih baik akan kekuatan dan tanggung jawab, Peter dihadapkan pada masalah remaja pada umumnya: percintaan.

Ia sibuk membantu orang sampai tak punya waktu untuk Mary Jane. Di sisi lain, ia juga tak ingin mengungkapkan identitasnya sebagai Spiderman kepada Mary Jane, karena mengkhawatirkan keselamatan Mary Jane.

Peter lagi-lagi kembali “pulang”. Dari May, Peter mendapatkan pelajaran bahwa sekuat atau sehebat apa pun seseorang, ia tak bisa mendapatkan segalanya. Ada titik di mana ia harus memilih satu dari dua–atau lebih–pilihan yang sama beratnya. Dalam situasi itu, seseorang harus melupakan kepentingan pribadi.

“Kita membutuhkan seorang pahlawan, orang yang berani berkorban, menjadi contoh bagi kita semua. Semua orang menyukai pahlawan, orang berbaris untuk melihatnya, bersorak-sorai untuknya, dan bertahun-tahun setelahnya, mereka berdiri di tengah hujan selama berjam-jam hanya untuk sekilas melihat seseorang, yang dulu pernah mengingatkan mereka untuk bertahan lebih lama,” tutur May

“(Namun), saya percaya, ada pahlawan dalam diri setiap manusia, yang membuat kita tetap jujur, memberi kita kekuatan, membuat kita bersikap mulia, dan akhirnya membawa kita untuk mati dengan bangga, meski kadang kala kita harus menguatkan diri dan melepaskan hal-hal yang paling kita inginkan, termasuk impian kita,” lanjut May.

Musuh terkuat

Akhirnya, pada sekuel ketiga, Spiderman bertemu musuhnya yang paling kuat, dirinya sendiri. Kostum Venom membuat Peter menjadi semakin kuat, tetapi di sisi lain dia pun kesulitan melawan keinginan untuk memenuhi kepentingan pribadi.

Peter menjadi sosok yang menyebalkan. Ia berusaha membuat Mary Jane cemburu dengan mendekati Gwen Stacy. Peter juga “mengerjai” rivalnya di Daily Bugle, Eddie Brock.

Belakangan, Peter menyadari bahwa Venom mengubahnya setelah tak sengaja memukul Mary Jane dalam sebuah perkelahian di sebuah bar. Dia kemudian berusaha dan berhasil melepaskan diri dari Venom. Dengan bantuan Harry Osborn, Peter mengalahkan Venom.

Jokowi dan Spiderman

Jokowi memang bukan Spiderman. Jokowi mendapatkan “kekuatan super” dengan kesadaran, bukan ketidaksengajaan seperti Peter. Dengan mengamini mandat Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Jokowi sudah memperhitungkan konsekuensi menjadi orang nomor satu negeri ini.

Juga tidak seperti Peter yang menyembunyikan identitas Spiderman-nya, Jokowi sudah disanjung dan dipuja, bahkan sebelum tugas sebagai Gubernur DKI Jakarta usai.

Namun, sebagai manusia yang berkekuatan super dan, apalagi, dikenal semua orang, Jokowi jelas akan mengalami konflik seperti yang dialami Peter.

Jokowi akan menghadapi banyak orang dengan kepentingan berbeda yang membutuhkan bantuan Jokowi, berhadapan dengan pilihan-pilihan sulit, dan bukan mustahil “tergoda” menyalahgunakan mandat.

Jika dalam keadaan seperti itu, apa yang harus dilakukan Jokowi?

Seperti Peter, Jokowi harus kembali ke akarnya, rakyat. Betul, Jokowi menjadi presiden melalui partai. Namun, ia dilantik karena rakyat memilihnya.

Bagaimanapun, partai hanyalah kendaraan, yang harus ditinggalkan jika tak lagi bisa mengakomodasi aspirasi rakyat. Dengan menjadi presiden, Jokowi tak berutang apa pun kepada PDI-P dan karenanya tak perlu “membayar” apa pun.

jokowi - spidermanRakyat memilih Jokowi karena melihatnya sebagai contoh, teladan, dan pahlawan super yang bisa menjadikan rakyat biasa sebagai raja di negeri sendiri, bukan pembantu di negeri orang; mencerdaskan rakyat; membuat pengemis dan joki “3 in 1” pulang kampung untuk membajak sawahnya dan makan dari keringat sendiri, bukan dari belas kasih orang lain; membuat umat beragama hidup berdampingan tanpa rasa takut dan curiga; membuat Merah-Putih dan Indonesia Raya berkibar dan berkumandang di sebanyak mungkin negara; membuat koruptor berhenti memberikan rejeki haram kepada anak-anak mereka.

Banyak dan berat betul tugas Jokowi, padahal itu juga belum semuanya. Namun, itulah konsekuensi menjadi seorang pemimpin, seorang dengan kekuatan besar, mandat yang dengan sadar diterima Jokowi.

Dengan menjadi pemimpin, Jokowi harus sadar ia diharapkan menjadi pahlawan, ia diharapkan siap berkorban.

Mungkin, semoga tidak, Jokowi akan dihadapkan pada pilihan antara kepentingan (oknum) partai dan penyandang dana dan rakyat banyak. Artinya, akan ada harga yang harus dibayar Jokowi saat memilih salah satunya.

Rakyat

Sekarang, pertanyaan untuk rakyat. Apakah kita siap mengulurkan tangan ketika jagoan kita terdesak, seperti ketika penumpang kereta mengulurkan tangan untuk mencegah Peter jatuh dan membuat barisan untuk melindungi Peter dari ancaman Dr Otto Octavius?

Atau rakyat memilih diam dalam situasi semacam itu sampai kehilangan jagoannya dan menunggu jagoan baru?

Atau jangan-jangan, justru kita-lah yang menjadi masalah bagi Jokowi, dengan tetap tinggal di bantaran, membuang sampah tidak pada tempatnya, mengemplang pajak, atau apa pun yang menjadi “kebiasaan” sebagian dari kita selama ini?

Jika akhirnya rakyat memilih diam atau malah menjadi masalah, arti kemeriahan hari pelantikan presiden dan wakil presiden pada hari ini tak bakal lebih dari pawai, hiburan, dan makan siang gratis.

Kesuksesan bukanlah berdiri paling atas dan membawahi yang lain, tetapi membantu sebanyak mungkin orang untuk maju sejauh-jauhnya. Tugas seorang jagoan bukanlah membasmi penjahat, tetapi menciptakan perdamaian. Namun, bahkan Tuhan pun tak akan membantu orang yang tak mau membantu dirinya sendiri.

Bakal sia-sialah Indonesia punya Jokowi dan JK -dan “jagoan-jagoan” lain- jika rakyat “lepas tangan” saat mereka dalam kesulitan.

“Pahlawan sejati adalah orang orang yang berjuang, meski dalam keadaan takut. Beberapa orang mengatasi rasa takut dalam satu menit. Beberapa orang lainnya membutuhkan satu jam. Beberapa orang lainnya lagi membutuhkan waktu berhari-hari. Namun, manusia sejati tak akan membiarkan rasa takut akan kematian melemahkan kehormatannya –tanggung jawabnya akan tugas kepada negara–dan kepribadiannya” – Jenderal George S Patton.

Selamat bekerja, Pak Joko Widodo dan Pak Jusuf Kalla!

Selamat berjuang, Indonesia!

Sumber: Kompas