Pertahankan Tanaman Apel Walau Harga Terpuruk

pdip jatim - wito argo dprd batuKesibukannya di dunia politik tidak membuat Wito Argo lupa akan habitat aslinya. Menjadi petani yang merawat tanaman Apel Batu seluas puluhan hektar miliknya.

ARIS SYAIFUL ANWAR

HALAMAN rumah di Jalan Diponegoro No 41, Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, tampak satu pohon apel berjenis Manalagi yang tumbuh subur. Terlihat dirawat dengan baik agar tetap tumbuh dan menghasilkan buah apel. Tanaman tersebut dijadikan simbul pemilik rumah yang merupakan petani apel.

Tidak jauh dari pohon apel tersebut tampak seorang pria yang sedang duduk di teras rumah sambil membaca koran Jawa Pos Radar Batu. Kegiatan membaca tersebut rutin dilakukan pria yang akrab disapa Wito setiap pagi hari. Sebelum berangkat ke gedung DPRD Kota Batu menjalankan tugas sebagai wakil rakyat.

Selain ke kantor, siang harinya atau pada saat luang, Wito juga selalu memeriksa hamparan pohon apel yang berada di lahan pertaniannya. Apel yang ditanam Wito jenis manalagi, Room Beauty dan Green Smith. Pohon apel tersebut di lahan seluas puluhan hektar yang ada di Kecamatan Bumiaji.

Diperiksa satu persatu. Diidentifikasi kondisinya agar apel tetap berbuah dengan baik. Menjaga kualitas tanaman dan produksi buahnya. Dan itu sudah dilakukan sejak turun temurun dari kakek hingga orang tua Wito. ”Saya ini generasi ketiga petani Apel Batu. Dan saya berusaha mempertahankan dan mengembangkannya,” kata Wito.

Pria yang sudah berusia 54 tahun ini pun menceritakan bahwa keluarganya salah satu petani yang mengembangkan tanaman Apel Batu di kawasan Bumiaji pada tahun 1965 bersama 40 petani lainnya. Saat itu Wito masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Lahan pertanian milik kakeknya yang dulunya di tanam palawija diganti dengan pohon apel. Dirawat dengan baik karena kondisi air dan tanah masih sangat subur. ”Pengairan saat itu sangat melimpah. Tidak seperti sekarang,” ungkap pria yang sudah dikaruniai dua anak ini.

Pada saat itu apel yang ditanam masih jenis Room Beauty dan Green Smith. Baru pada tahun 1970 apel manalagi mulai masuk ke Kota Batu. Ditanam para petani diladangnya untuk di kembangkan.

Buah tersebut lalu popular hingga luar daerah. Membuat Kota Batu yang dulunya hanya sebuah kecamatan dikenal dengan Apel Batu. Bahkan apel yang dihasilkan dari lahan milik keluarga Wito dikirim ke Jakarta, Bandung, Surabaya, hingga Bali. ”Dulu permintaan terus naik. Kualitas produksi buah apelnya juga bagus,” ungkap Politisi asal PDI Perjuangan ini.

Walau banyak permintaan, namun petani tidak bisa mengendalikan harga. Sebab harga dimainkan oleh para petani. Sedangkan petani sendiri saat itu hanya fokus merawat tanaman saja. Membuat keuntungan yang didapat petani tidak bisa banyak.

Agar mendapatkan untung, para petani pun menggenjot produksi buah apel. Caranya menggunakan pupuk kimia dan perstisda berlebihan. ”Pada waktu itu belum memahami dampak pemakaian pupuk pestisida. Petani hanya memakai untuk meningkatkan produksi,” terang pria yang hobi otomotif.

Dengan menggenjot produksi, pada tahun 1970 hingga 1985, Apel menjadi buah dewa. Karena masyarakat benar-benar mengalami manfaat yang luar biasa. Pendapatannya pun terus meningkat. HIngga terkenal hingga luar kota. Bahkan sekarang menjadi ikon Kota Wisata Batu ini.

Seiring perjalanan waktu, pertanian apel pun mulai rusak akibat penggunaan pupuk kimia berlebih. Unsur kesuburan tanah pun berkurang. Membuat banyak apel yang kurang produktif. Bahkan tidak sedikit petani yang mulai mengganti tanaman apel dengan tanaman lainnya maupun menjual lahan apelnya.

Namun itu tidak membuat Wito pun ikut-ikutan mengganti lahan apel miliknya dengan pertanian lainnya maupun menjualnya. Wito pun bersemangat untuk memperbaiki kondisi kesuburan tanah di lahan pertaniannya. Memperbaiki lahan dengan pola organic. Memberikan nutrisi dalam kandungan tanah dengan pola organik.dan hingga sekarang mulai menemukan hasilnya.

Sebagian lahan apel miliknya pun sudah mulai bagus. Produksinya juga terus meningkat. ”meskipun belum 100 persen organik, namun sudah merasakan manfaatnya. Saya juga gandeng teman-teman petani agar beralih ke pertanian organic,” urai suami Monika Elyana.(*/bb)

Sumber : Radar Malang