Peringati Pancasila, Basarah Ajak Generasi Milenial Melawan Lupa

SURABAYA – Komunitas Jas Merah atau Jangan Sekali-sekali Melupakan Sejarah mengadakan acara Peringatan 73 Tahun Pancasila dan 117 Tahun Soekarno, di Kantor Pos Besar Kebon Rojo, Surabaya, Rabu (6/6/2018).

Peringatan yang juga didukung Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) dan PT Pos Indonesia, memamerkan sejumlah arsip nasional Bung Karno, serta perangko tulisan tangan Bung Karno.

Rieke Diah Pitaloka dari Komunitas Jas Merah, selaku penyelenggara acara mengatakan, pameran ini bertujuan menumbuhkan semangat nasionalisme kebangsaan generasi muda masa kini atau milenial, agar semakin mengenal dan menghayati nilai-nilai luhur Pancasila yang digali dan dihasilkan dari buah pikiran para pendiri bangsa Indonesia.

“Mudah-mudahan spirit gotong royong dari Pancasila, kebersamaan, toleransi, bisa terus dihidupkan, kembali hidup, terus hidup dari Surabaya,” kata Rieke Diah Pitaloka, Rabu (6/6/2018).

Peringatan 73 Tahun Pancasila dan 117 Tahun Bung Karno, mengangkat tema Keberagaman dan Toleransi, dan bertempat di Kantor Pos Besar Kebon Rojo, Surabaya, karena merupakan bekas sekolah Bung Karno pada tahun 1915-1920.

“Peringatan 73 Tahun Pancasila dan 117 Tahun Bung Karno, diadakan di sekolah Soekarno dulu, beliau sekolah di sini, di gedung ini HBS, yang sekarang jadi Kantor Pos Besar,” ujar Rieke.

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mengaku bangga dengan Surabaya yang menjadi tempat lahir Bung Karno, penggali Pancasila dan juga Presiden pertama Indonesia. Peristiwa teror bom beberapa waktu lalu di Surabaya, merupakan bentuk ujian bagi bangsa Indonesia atas ideologi Pancasila yang dijadikan dasar dan falsafah hidup berbangsa.

“Saya senang ya, di Surabaya ini lahir tokoh, bukan hanya tokoh Indonesia tapi tokoh dunia, dan kemudian kita peringati hari ini. Dan ini pas di Hari Lahir Bung Karno maupun di hari Lahir Pancasila, Surabaya diuji, sebetulnya kalau mau ditilik adalah itu ujian terhadap, keyakinan kita terhadap Pancasila. Kepercayaan kita, sebagai falsafah Pancasila, itu kita diuji,” ujar Risma.

Sementara itu, Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Republik Indonesia, Ahmad Basarah mengungkapkan, nilai-nilai Pancasila harus terus digelorakan kepada generasi muda, salah satunya melalui acara ini. Peringatan ini merupakan salah satu upaya melawan lupa terhadap sejarah bangsa Indonesia yang sebenarnya.

“Melawan lupa dari upaya untuk membuat bangsa Indonesia mengalami amnesia sejarah, amnesia kepada sejarah ideologinya, amnesia terhadap sejarah tokoh-tokoh bangsanya,” kata Basarah.

Memori kolektif bangsa Indonesia untuk melawan lupa harus terus dijaga, agar generasi muda tidak malah mengikuti tokoh dan ideologi bangsa lain.

“Kalau generasi muda kita sudah lupa terhadap tokoh-tokoh bangsanya, terus berganti idola tokoh-tokoh bangsa lain, akhirnya nanti yang menjadi falsafah yang mereka ikuti adalah tokoh-tokoh idola bangsa lain itu,” ujar Basarah.

Pada kesempatan ini, Basarah menegaskan bahwa Pancasila sebagai ideologi dan dasar negara Indonesia, jauh lebih baik bagi masyarakat Indonesia dibandingkan khilafah yang telah dimunculkan untuk merongrong kedaulatan bangsa Indonesia.

“Pancasila adalah falsafah hidup yang digali dari dalam diri bangsa Indonesia, yang mampu menjawab kebutuhan seluruh lapisan masyarakat Indonesia yang beraneka ragam,” tandasnya.(Srilambang)