Pemimpin Muda Lahir dari Keteladanan Pemimpin Senior

Maruarar SiraitJAKARTA – Politikus Muda PDI Perjuangan (PDIP), Maruarar Sirait, menyatakan bahwa kepemimpinan parpol tak ada kaitan dengan usia. Menurutnya, sebaiknya perdebatan sudah selesai apabila kepemimpinan parpol dikaitkan dengan dikotomi pemimpin muda-tua, perempuan atau laki-laki, berlatar belakang militer atau sipil harusnya .

“Karena yang paling penting dalam soal kepemimpinan adalah soal integritas, kapabilitas, dan pembuktian kinerjanya. Seorang pemimpin harus mampu memberikan keteladanan dan contoh di bidangnya masing-masing,” kata Maruarar, Jumat (19/6/2015).

Tentu saja, dengan indikator kepemimpinan demikian, tentu saja seorang calon pemimpin tetap memerlukan waktu untuk membuktikan kapabilitas serta kapasitasnya.

“Artinya tak ada jalan pintas. Tak ada yang instan dan karbitan,” kata Ara, sapaan akrabnya.

Di dalam proses tersebut, lanjutnya, akan ketahuan mana calon pemimpin yang memang akan lahir.

“Setiap jaman ada orangnya, setiap orang ada jamannya. Setiap jaman pasti ada contoh yang berhasil, dan ada yang belum. Karena tak ada yang sempurna. Pak Jokowi itu contoh yang sempurna,” kata Ara.

Menurut Ara, membangun generasi muda yang akan menjadi pemimpin tak harus dilakukan dengan menghilangkan generasi tua. Sebab sudah terbukti di PDIP, regenerasi tetap terjadi walau partai dipimpin sosok senior seperti Megawati Soekarnoputri.

“Peluang kepemimpinan muda muncul di partai kami, jelas menunjukkan itu. Ada hasilnya seperti Pak Jokowi, Mas Ganjar, Bu Risma, Mbak Puan. Di DPR ada sosok seperti Rieke Diah Pitaloka, dulu Mbak Eva Kusuma Sundari,” jelas Ara.

“Semua itu kan lahir dari proses kaderisasi dan generasi yang didorong oleh pemimpin utama yakni Bu Megawati,” tambah Ara sembari menambahkan PDIP komitment pada proregenerasi dan kaderisasi.

Harus diakui bahwa komitmen seperti yang terjadi di PDIP belum tentu terjadi di parpol lainnya di Indonesia. Sehingga diakui Ara, posisi PDIP memang menjadi istimewa karena muncul sebagai contoh pelaksanaan regenerasi yang baik.

“Itulah peran Bu Mega dan dahulu bersama Almarhum Pak Taufiq Kiemas. 10 tahun saya di PDIP sebagai pengurus pusat partai, saya merasakan betul sentuhan Bu Mega yang berkualitas dan efektif,” jelas dia.

“Selama itu, saya merasakan betul dukungan politik itu. Dan selalu diingatkan tak ada jalan pintas, harus ada idoelogi dan prinsip, tidak instan dan harus berproses. PDIP adalah partai yang bisa jadi contoh, yang bisa membuktikannya,” tandas Ara. (beritasatu)