Pemilu 2019, PDI Perjuangan Tetap Favorit Masyarakat

JAKARTA – Sampai April 2018, PDI Perjuangan masih menjadi partai yang memiliki tingkat keterpilihan paling tinggi ketimbang partai politik (parpol) lain. Cyrus Network dalam surveinya terkait elektabilitas parpol di Pemilu 2019 berada di puncak, 26,9 persen.

“PDIP masih menjadi partai favorit masyarakat yang akan dipilih pada pemilu legislatif 2019, dengan elektabilitas tertinggi 26,9 persen,” kata Managing Director Cyrus Network, Eko Dafid Afianto di Resto DConsulate Lounge, Menteng, Jakarta, Kamis (19/4/2018).

Parpol lain, jauh di bawah PDI Perjuangan. Yakni Golkar 11,5 persen, Gerindra 11,5 persen, PKB 7,3 persen, dan Demokrat 5,0 persen.

Menyusul PPP dan Perindo 4,3 persen, PKS 3,5 persen, NasDem 3,3 persen, PAN 1,5 persen, Hanura 1,0 persen, Berkarya 0,8 persen, PSI dan Partai Garuda 0,3 persen, dan PBB 0,2 persen.

Sementara itu yang belum memutuskan 13,6 persen, yang tidak memilih 0,8 persen, serta rahasia/tidak menjawab 3,8 persen.

Tingginya elektabilitas PDIP itu, jelas Eko, hasil keuntungan elektoral dari Presiden Jokowi. Sebab, publik mempersepsikan PDIP dan Jokowi sangat identik.

Sedangkan, Golkar sebagai partai pemenang Pemilu kedua di bawah PDIP hanya mendapatkan 11,5 persen.

“Dengan begitu, PDIP memetik keuntungan elektoral terbesar dari persepsi ini. Hanya PDIP yang mendapatkan limpahan luar biasa ini, yakni 26,9 persen,” jelas dia.

Kemudian, temuan menarik dari survei ini, yakni 35 persen pemilih yakin PDIP akan memenangkan Pemilu 2019 mendatang.

Cyrus Network juga melakukan survei terkait elektabilitas calon presiden. Secara top of mind, responden disodori pertanyaan “jika Pilpres dilaksanakan hari ini, siapakah yang paling layak dipilih untuk menjadi Presiden?”

Hasilnya, elektabilitas Jokowi unggul dengan 58,5 persen, disusul Prabowo dengan 21,8 persen, Gatot Nurmantyo 2,0 persen dan Hary Tanoesoedibjo 1,1 persen.

“Nama lainnya masih di bawah 1 persen. Belum memutuskan 4,1 persen. Tidak memilih 0,3 persen dan tidak menjawab/rahasia 1,6 persen,” ungkap Eko.

Tak berbeda, dengan pertanyaan tertutup, yakni simulasi 22 nama calon presiden. Jokowi tetap unggul atas calon presiden lainnya.

Jokowi unggul dengan elektabilitas sebesar 56,7 persen, disusul Prabowo 19,8 persen, Gatot Nurmantyo 3,2 persen, Hary Tanoesoedibjo 2,2 persen, Agus Harimurti Yudhoyono 2,1 persen. Sedangkan, nama lain masih 1 persen dan di bawah 1 persen.

Dengan simulasi 15 nama, Jokowi juga tetap unggul atas Prabowo yakni sebesar 57,3 persen dan Prabowo 21,3 persen. Lalu Gatot Nurmantyo 3,8 persen, Hary Tanoesoedibjo 2,4 persen, Agus Harimurti Yudhoyono 2,4 persen, Anies Baswedan 2,0 persen, Jusuf Kalla 1,9 persen serta 1,3 persen. Nama lain di bawah 1 persen.

Terakhir, secara head to head atau simulasi dengan 2 nama. Jokowi juga tetap unggul atas Prabowo. Eektabilitas Jokowi sebesar 64,0 persen, dan Prabowo sebesar 29,8 persen.

Survei tersebut dilaksanakan pada 27 Maret – 3 April 2018. Dengan responden sebanyak 1.230 orang yang berasal dari 123 desa/kelurahan di 34 provinsi se-Indonesia dan tingkat kepercayaan sebesar 95 persen.

Metode survei menggunakan multistage random sampling. Responden terpilih diwawancarai lewat tatap muka. Margin of error survei ini kurang lebih 3 persen. (goek)