Pedagang Pasar Sukomoro Keluhkan Anjloknya Harga Bawang Merah ke Mbak Puti

NGANJUK – Puti Guntur Soekarno kembali menyapa rakyat Dan menggali masukan di pasar rakyat.

Saat safari politik di wilayah Nganjuk, Jumat (9/2/2018), Calon Wakil Gubernur Jawa Timur itu mendatangi Pasar Sukomoro, yang banyak menjual brambang (bawang merah) dan sayur.

Di pasar tersebut, calon wakil gubernur Jawa Timur mengaku melihat langsung potret harga komoditi di Nganjuk.

Puti, juga berbincang-bincang dengan pedagang brambang terbesar di wilayah mataraman tersebut. Pedagang mengeluhkan harga brambang di pasaran sempat mengalami penurunan drastis.

“Tetapi sekarang alhamdulillah sudah naik sekitar dari Rp 5 ribu per kg menjadi Rp 9 ribu per kg,” kata seorang pedagang ketika diajak ngobrol oleh Puti.

Meski demikian, pedagang masih menginginkan harga bawang merah kembali normal, yakni Rp 15 ribu per kg.

Puti pun mencoba untuk menenangkan para pedagang pasar tersebut. “Saya dapat masukan kalau harga brambang jatuh.Tapi sekarang kita bersyukur harga sudah mulai stabil,” kata Puti .

Namun, lanjutnya, dalam menstabilkan harga-harga sembako khususnya brambang, perlu dipahami dan dimengerti oleh masyarakat, khususnya petani dan pedagang bahwa tidak stabilnya harga sembako itu tidak hanya terjadi di wilayah Nganjuk. Melainkan di sejumlah daerah mengalami hal sama.

“Di sinilah pentingnya intervensi pemerintah baik pemerintah kabupaten maupun pemerintah provinsi di dalam menstabilkan harga kebutuhan komoditi. Ke depan harapan kita pemerintah pro terhadap para petani dan pedagang. Jangan sampai petani yang menjadi sokoguru perekonomian bangsa ini tidak diperhatikan,” ujar dia.

Kata Puti, dalam visi dan misinya berharap industri pengolahan dari komoditi yang ada itu bisa bervariatif. Seperti bahan mentah brambang atau bawang itu harus dikembangkan dengan menjadikan berbagai produk olahan. Selanjutnya, dijual oleh ibu – ibu yang menjadi sebagai salah satu ujung tombak di dalam menunjang perekonomian.

“Untuk pengolahan ini maka mereka harus mendapatkan pelatihan, guna memiliki kreativitas mengolah bagaimana bawang itu bisa diolah tidak hanya dijual mentah sebagai bawang atau brambang saja. Tapi bisa jadi industri pengolahan,” tuturnya.(goek)