PDIP Menang Pemilu Berturut-turut, Ini Resepnya

JAKARTA – Keberhasilan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan memenangi dua pemilu berturut-turut dinilai tak bisa dilepaskan dari sistem organisasi yang dibangun dengan menempatkan kader kepala daerah yang terbaik.

Langkah kaderisasi itu kemudian diinstitusionalkan dalam sekolah partai yang berlangsung hingga saat ini.

“Saat ini PDI Perjuangan merupakan partai yang memiliki kader sebagai kepala daerah terbanyak yakni 134 kepala daerah di seluruh Indonesia,” kata Hasto Kristiyanto dalam diskusi “Kesiapan PDI Perjuangan menuju Pilkada 2020 dan Testimoni Para Kepala Daerah” di kantor DPP PDIP, Menteng, Jakarta, Senin (5/8/2019).

Diskusi tersebut menghadirkan, narasumber empat kepala daerah berperestasi yang diusung PDI Perjuangan, yakni Gubernur Sulawesi Selatan Nurdin Abdullah, Walikota Semarang Hendrar Prihadi, Bupati Puncak Willem Wandik, dan Bupati Boven Digoel Benediktus.

Pembicara lainnya adalah Ketua DPP PDI Perjuangan Bambang DH serta pengamat politik yang juga Direktur Eksekutif Poltracking Hanta Yudha.

Menurut Hasto, keberhasilan PDIP melakukan rekrutmen dan kaderisasi yang melahirkan kader-kader andal sebagai kepala daerah, dimulai dari tahun 2005, yakni upaya kebangkitan partai setelah kalah pada pemilu 2004.

“PDI Perjuangan ketika itu berada di luar pemerintahan, sehingga memfungsikan platform pemerintahan daerahnya. Saat itu, beberapa kepala daerah berprestasi dikumpulkan, termasuk Pak Jokowi. Hasilnya Hasta Prasetya yang pada 2010 menjadi Dasa Prasetya partai,” ujar Hasto.

Hasto bercerita, dari situ PDI Perjuangan lalu melaksanakan sekolah untuk para calon kepala daerah.

Para kepala daerah yang dinilai berhasil dalam kerjanya, diundang untuk mengajar di sekolah itu. Bukan hanya bersumber dari internal, para kepala daerah berhasil dari eksternal seperti Ridwan Kamil, juga diminta membagi pengalamannya.

“Inilah upaya kami menampilkan wajah politik yang membangun peradaban lewat mencetak kader partai yang baik,” jelasnya.

Para kepala daerah itu, lanjut Hasto, dididik dan bukan kepala daerah yang dibajak dari partai lain. “Proses ini yang akhirnya menghasilkan kerja yang baik. Kami memperoleh hasil baik di pilkada yang senapas dengan pemilu legislatif dan Pilpres,” beber Hasto.

Sedang Bambang DH mengatakan, pihaknya memang terus memperbaiki pola-pola rekrutmen calon kepala daerah sekaligus pilar kaderisasi. Berbagai disiplin ilmu diterapkan seperti psikotest, fit and proper test, hingga pelatihan-pelatihan.

“Kita cek semuanya. Dari ideologinya, pemahaman atas wilayah yang dipimpin, dan komitmen terhadap konstitusi negara kita,” kata Bambang DH.

Hasilnya, PDIP memenangkan 50,37%  pilkada serentak, dan hasilnya menjadi modal memenangkan pertarungan Pilpres lalu.

Dia menambahkan, di Kongres V di Bali pada 8-10 Agustus mendatang, partainya akan membahas kembali cara mengoreksi sehingga sistem yang ada semakin sempurna. “Itu nanti akan kita tentukan di kongres,” sebutnya. (goek)