PDIP Gelar Lomba Desain Berhadiah Tour ke 10 Destinasi Wisata

JAKARTA — Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) menyelenggarakan lomba desain yang menggambarkan hubungan antara Capres-Cawapres nomor urut 01 Jokowi-Ma’ruf Amin dengan partai berlambang banteng ini.

Hal ini diungkapkan Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto dalam acara Peluncuran Official Store Atribut PDI Perjuangan di Kios RedMe, Jl HOS Cokroaminoto 113, Menteng, Jakarta Pusat, Senin, (21/1/2019).

“Bagi yang punya desain bagus untuk mengkolaborasikan antara pak Jokowi, KH Ma’ruf Amin dan PDI Perjuangan, temanya puisi [Bung Karno] yang akan saya bacakan. Tema itu kami akan buat lomba desain hadiahnya untuk 2 orang, masing-masing ke 10 destinasi wisata Indonesia,” ungkap Hasto.

Hasto menyebut kios dengan atribut-atribut PDIP khas anak muda dan lomba yang mereka buat, merupakan salah satu bentuk dukungan Muhammad Prananda Prabowo, Ketua Bidang Ekonomi Kreatif PDIP

“Ini lah gagasan orang muda di dalam hidup berpartai mereka menggembleng dirinya, mereka menampilkan produk-produk yang inovatif, yang membuat partai itu terus berdinamika,” ujar Hasto.

“Karena mas Prananda Prabowo kan beliau Ketua DPP Ekonomi Kreatif sehingga juga memberikan dukungan-dukungan sepenuhnya terhadap gagasan-gagasan,” tambahnya.

Lomba ini bertemakan puisi dari Bung Karno bertajuk Negeri Tempe Bukan Negeri Keju. Pemenang akan berkesempatan mengunjungi 10 destinasi wisata yang dipromosikan Presiden Joko Widodo sebagai Bali Baru Indonesia.

Di antaranya, Danau Toba di Sumatera Utara, Tanjung Kelayang Belitung, Tanjung Lesung Banten, Kepulauan Seribu di Jakarta, Borobudur Joglosemar, Bromo Tengger Semeru di Jatim, Mandalika di NTB, Labuan Bajo di NTT, Wakatobi di Sulawesi Tenggara, dan Morotai di Maluku Utara.

Peserta bisa melihat peraturan lebih lanjut di akun Instagram resmi Kios Redme atau akun DPP PDI Perjuangan.

Berikut merupakan puisi Negeri Tempe Bukan Negeri Keju dari Bung Karno yang menjadi tema lomba:

Negeri Tempe Bukan Negeri Keju

Inilah Negerinya Tempe, Negeri Singkong,

dan dengannya kita bisa bertahan sebagai bangsa yang sungguh beragam.

Apa yang kita banggakan dari Negeri Daging dan Keju, Negeri Roti dan Susu,

mereka bangga dengan kentang dan saos karena mereka harus mencari makanan yang tahan lama akibat musim dinginnya yang sungguh tidak bersahabat.

Mereka lebih memilih roti dan keju karena mereka tidak bisa memasak nasi dan sayur setiap hari,

tidak ada ubi dan singkong, yang cita rasanya tidak kalah besar.

Mereka tidak punya makanan yang begitu beragam bercita rasa surga,

Mereka memuja kenikmatan dan kesenangan karena mereka tidak menemukan kebahagiaan di istana rasa,

Tidak menemukan jiwa tenteram damai dalam balutan spiritual, nikmatnya hidup sederhana, gotong royong, berbagi, bersyukur bersama-sama dalam satu kesatuan.

Sebab mereka tidak mengerti, tidak ada orang sakit karena kebanyakan makan tempe, apalagi kebanyakan makan singkong dan ubi,

tetapi banyak orang sakit karena kebanyakan makan daging dan keju.

Jadi apa lagi yang kau banggakan dari mereka sehingga engkau memuja mereka,

Sama saja engkau merendahkan diri kita sendiri, mengikuti mereka sama saja kita melepaskan berlian hanya untuk mendapatkan besi.

Tidak begitu anakku, jadilah diri sendiri untuk menjadi permata negeri, karena sesungguhnya kita mempunyai semuanya.

Kekayaan lahir dan batin, keseimbangan jiwa dan raga, jangan kau hancurkan semua yang sudah ada, jangan kau rusak semua keindahan kehidupan yang telah kau miliki.

Tugasmu adalah menjaganya, memeliharanya dan melestarikannya, bukan merusak apalagi menghancurkan.

Kekayaan batin adalah kekayaan yang paling hakiki yang kita punya, kekayaan yang sungguh tidak ternilai harganya.

Karena kekayaan batin akan melahirkan kebahagiaan, bukan kesenangan,

Kekayaan batin akan menuntunmu kepada ketentraman, bukan kepada kekacauan,

Lihatlah anakku dan renungkan,

beda dan sungguh berbeda, kesenangan dan kebahagiaan, keserakahan dan penerimaan dengan rasa syukur,

dan kamu bisa melihat semua itu hanya dengan hati, dengan rasa tenang batin yang hidup.

Maka anakku matikanlah ragamu untuk menghidupkan batinmu dengan laku prihatin,

Agar engkau bisa membaca peristiwa dalam hatimu, dan bukan hanya yang sekadar peristiwa.

Melihat dengan mata dan pikiran, kadangkala justru tidak bisa menemukan substansi pokok permasalahan hidup,

Tetapi melihat dengan mata hati akan menemukan kehidupan yang sesungguhnya.

Inilah hidup yang kelak kau jaga dan kau syukuri,

Menjaga negeri ini, menjaga semua yang ada, lakukanlah sama ketika engkau melakukan untuk dirimu sendiri,

Mencintai negaramu, lakukanlah dengan cara yang sama ketika engkau mencintai dirimu dan keluargamu,

Karena sesungguhnya kita sama dan bersaudara.

Kita satu dan bersaudara, sama-sama hidup di tanah pertiwi, sama-sama makhluk Tuhan.

Maka sudah selayaknya kita selalu bersama untuk sebuah niatan baik. Berjalanlah anakku, selalu menyertai langkahmu.