Para Mesianis

pdip jatim - ilustrasi artikel para mesianisDI Padang Arafah, ketika semua pintu langit terbuka selama enam jam dan seluruh doa dikabulkan Allah, saya membaca Surat Al-Fatihah terus-menerus dan menutupnya dengan doa, ”Semoga Jokowi senantiasa sehat dan teguh agar bisa memandu bangsa Indonesia menjadi lebih adil dan makmur.”

Ketika hal itu saya ceritakan kepada istri dalam perjalanan menuju Muzdalifah, dia berkomentar pendek, ”Itu doa politik!” Saya tersenyum. Rasulullah Muhammad SAW pun ketika berdoa di Arafah juga memohon agar damai di bumi. Dalam batas-batas tertentu, itu juga termasuk doa politik karena kedamaian hanya akan mewujud apabila para pemimpin di muka bumi amanah. Sementara untuk diri sendiri, Rasulullah memohon untuk bisa bertemu dengan Yang Maha-indah di akhirat kelak.

Bagi saya, makna dari kisah suci itu adalah Rasulullah saja tidak meminta apa pun bagi kebaikan diri sendiri di dunia, apalagi yang berkaitan dengan jabatan dan kekayaan. Totalitas hidupnya hanya untuk pembelaan terhadap kaum yang lemah dan kedamaian umat manusia.

Sehubungan dengan hal tersebut, saya merasa heran dengan fenomena beberapa bulan terakhir, yaitu banyak orang berkehendak ingin menjadi anggota kabinet Joko Widodo. Jumlah mereka mungkin ribuan dan masing-masing mengirimkan daftar riwayat hidup berlembar-lembar seakan berlomba dalam ketebalan. Mereka merasa mempunyai kemampuan teknis dan manajerial mencukupi sehingga merasa layak dan terpanggil untuk ikut memimpin dan menentukan jalannya Republik ke depan.

Lebih lucu lagi, ada orang-orang yang merasa sudah ikut bekerja keras—meskipun sebenarnya tidak—dalam mengantarkan pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla menjadi presiden dan wakil presiden terpilih. Mereka merasa pasti ditawari posisi menteri. Gaya orang-orang seperti ini juga menarik diamati. Mereka biasanya mengatakan tidak mau kalau ditawari memimpin departemen A atau B, maunya memimpin kementerian C. Memangnya siapa yang menawari mereka? Semua berputar di ruang imajinasi, jika tidak boleh disebut gede rasa.

Dalam perspektif budaya politik, gambaran itu mencerminkan masih kuatnya realitas mesianisme di masyarakat, terutama kelas menengah atas. Mereka merasa sebagai orang yang terpilih dan yang paling bisa menyelesaikan masalah bangsa. Mereka mementahkan satu sama lain karena merasa sebagai pusat dari gravitasi yang ada.

Para mesianis tersebut secara umum dapat dibagi menjadi dua kelompok. Pertama, kelompok ”batu cadas”. Termasuk dalam kelompok ini adalah mereka yang sebenarnya sudah kalah dalam kontestasi politik, tetapi tidak mau menerima kenyataan. Mereka memakai segala peluang, dari tekanan massa pendukung terhadap penyelenggara pemilu sampai Mahkamah Konstitusi, untuk menggugurkan kemenangan lawan. Apabila cara demikian tak berhasil, manuver politik akan mereka galang secara sambung-menyambung guna mendelegitimasi pemerintahan dan kepemimpinan pemenang.

Kelompok kedua adalah para mesianis ”batu apung”. Mereka adalah figur-figur yang berkarakter mengapung, tetapi merasa mampu mengubah nasib bangsa. Mereka berebut untuk menjadi bagian dari pemerintahan Jokowi. Mereka tidak malu-malu untuk adu cepat mengirimkan daftar riwayat hidup, menyebar namanya di jejaring sosial, bahkan ada yang membayar media agar namanya muncul. Mereka ingin menjadi menteri dan pejabat publik lain.

Dua kelompok mesianis itulah yang dihadapi Jokowi sekarang dan masa depan. Cara berpikir mereka kompleks dan diametral dengan cara pikir Jokowi yang sederhana. Padahal, seperti dinyatakan Albert Einstein, Tuhan itu tidak bermain dadu. Rumus-rumus yang dibuat Tuhan untuk memahami dunia adalah sederhana. Dalam konteks kebangsaan, peri kehidupan dan kebahagiaan rakyat secara praksis bisa diangkat dengan cara-cara sederhana.

Misalnya, gagasan Jokowi mengenai pembangunan daerah yang bersifat tematik. Ide ini sederhana, tetapi kuat bangunan identitas lokal dan daya gerak ekonominya. Subang akan menjadi berdaya dan elok karena mengkhususkan diri pada nanas madu, Probolinggo fokus pada produk mangga arum manis, Malang apel, Indramayu mangga indramayu, Solo batik, Palembang pempek, dan lain-lain. Semua tentu saja dengan pohon industri ikutannya. Suasana dinamis akan semakin membuncah apabila pusat-pusat grosir tematis juga dibangun.

Oleh sebab itu, khusus bagi para mesianis batu apung yang selalu berbelit dan berpikir jelimet, kemungkinan besar usaha mereka masuk ke pemerintahan justru gagal. Kesederhanaan berpikir dan bersikap Jokowi berlawanan dengan polah mereka. Sementara para mesianis batu cadas, sesuai karakternya, akan terus bermanuver untuk mendelegitimasi kepemimpinan Jokowi. Mereka berharap langkah tersebut akan menaikkan popularitas dan ketokohan mereka guna menghadapi pemilu mendatang.

Terlepas dari itu semua, tiba-tiba saya teringat seorang senior bertanya mengapa sejak semula saya mendukung Jokowi. Saya menjawab lirih, ”Dia adalah ujung tombak generasi kami!” Ah, lamunan politik! Saya lalu tafakur membaca Al-Fatihah kembali (sambil teringat pesan Daoed Joesoef agar setelah haji ini nama saya menjadi Sukardi ”Musa” Rinakit).

SUKARDI RINAKIT

Peneliti Senior Soegeng Sarjadi Syndicate dan Pendiri Kaliaren Foundation

Sumber: Kompas