Nyadran di Trenggalek saat Pandemi, Tetap Meriah Meski Digelar Terbatas

TRENGGALEK – Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin mengikuti kegiatan Nyadran Dam Bagong, Jumat (3/7/2020). Di Kabupaten Trenggalek Nyadran menjadi tradisi masyarakat setempat.

Nyadran dilakukan di Dam Bagong mengingat dam tersebut didirikan Adipati Minak Sopal pada jamannya. Nur Arifin  mengatakan, kegiatan ini merupakan salah satu hajat kebudayaan warga masyarakat Trenggalek yaitu Nyadran Dam Bagong.

“Kegiatan ini rutin dilaksanakan setiap tahun sebagai bentuk syukur masyarakat atas rejeki yang diberikan oleh Yang Kuasa seperti halnya kebutuhan air,” kata Nur Arifin.

Seperti diketahui, aliran air dari Dam Bagong ini menyebar ke lahan pertanian masyarakat. Musim panen yang dirasakan masyarakat pun juga tidak pernah ada kendala.

“Air kita tidak kering, sawah-sawah bisa terairi, panenan lancar, kemudian masyarakat bersedekah lewat salah satunya membagikan daging kerbau kepada masyarakat sekitar,” imbuhnya.

Berbeda dengan tahun lalu, Nyadran kali ini dilaksanakan terbatas mengingat masa pandemi Covid-19.

Pengurangan sebagian prosesi nyadranan, seperti arak-arakan, pagelaran wayang kulit dan hiburan tari jaranan cukup berhasil mengurangi jumlah pengunjung yang hadir.

Sebagai pengganti arak-arakan yang meramaikan acara seperti biasanya, panitia hanya menggelar khotmil Quran, ziarah makam Adipati Minak Sopal dan juga sesepuh yang ada di Kabupaten Trenggalek. Trakhir melarung kepala kerbau ke dasar Dam Bagong.

Rangkaian kegiatan Nyadran pun digelar dengan sederhana seperti kirim doa kepada leluhur Minak Sopal dan juga sesepuh yang ada di Kabupaten Trenggalek. Kemudian dilanjutkan dengan melarung kepala kerbau ke dasar sungai Bagong.

Nur Arifin yang juga Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupten Trenggalek ini berharap kegiatan Nyadran tetap dilestarikan sehingga mampu membentuk sikap menghormati jasa leluhur yang berjuang demi kesejahteraan masyarakat dahulunya. (goek)