Milenial Dominasi Peserta Festival Reog Barong di Pantai Serang Blitar

BLITAR – Berbeda dengan kesenian reog konvensional, kesenian reog barong termasuk jaranan banyak diminati para ABG dan millenial di daerah Mataraman Jawa Timur.

Memperingati Tahun Baru 1 Muharram yang dalam kalender Jawa diperingati Tahun Baru 1 Suro, 70-an paguyuban tergabung dalam Laskar Barong Nusantara, mengikuti Festival Reog Barong di Pantai Serang, Blitar.

“Festival Reog Barong ini 70-an paguyuban di bawah naungan Laskar Barong Nusantara yang anggota-anggotanya dari Blitar, Kediri, Tulungagung, Malang, Nganjuk, Jombang dan Jakarta.,” kata anggota Fraksi PDI Perjuangan DPR RI Eva Sundari, Rabu (12/9/2018).

Lefislator dari dapil 6 Jawa Timur ini mengapresiasi festival seni tradisional ini. Menurut Eva, kreatifitas manusia ini yang akan menjadi penentu untuk memenangkan kompetisi lokal dan global yang makin bernuansa robotik akibat kemajuan teknologi.

“Reog barong bisa berperan dalam memajukan ekonomi kreatif berbasis budaya yang pasti diperlukan untuk mendongkrak indeks kompetisi Indonesia,” ujarnya.

Perempuan yang juga Sekretaris Badiklat DPP PDI Perjuangan ini berharap agar pembangunan Jalur Lingkar Selatan wilayah di Kabupaten Blitar segera dieksekusi pemerintah pusat supaya potensi-potensi masyarakat terfasilitasi menjadi kekuatan ekonomi yang efektif.

“Blitar sebagai Bumi Bung Karno, tertantang untuk menunjukkan kecerdasan spiritual seni budaya yang menjadi roh pembangunan di wilayah ini,” kata Eva Sundari menyemangati para pembarong dan pekerja seni lainnya yang hadir.

Sementara itu, Dwi Handoko, Kepala Desa Serang yang masih berusia muda menjadi penggagas festival yang sudah masuk tahun kedua ini. “Ini festival dari, oleh dan untuk rakyat alias swadaya. Seluruh peserta datang secara mandiri dan bahkan berkontribusi kepada panitia desa,” jelas Handoko.

Festival ini istimewa karena para pemain usia muda mendominasi festival, termasuk adanya lonjakan jumlah partisipan perempuan yang sama lincahnya ketika  menari memainkan barong.

Pembuatan barong juga mengalami kemajuan, menjadi karya seni bernilai tinggi, yang salah satunya mencapai 20 juta.

Salah satu barong unik menggambarkan kepala penyu, tampaknya dibuat untuk menguatkan keterkaitan dengan habitat pantai.

“Kami sedang menggagas barong khas Blitar, Dewa Penyu. Kami sedang siapkan koreografi khusus, gamelannya, dan kelak semoga bisa ditarikan secara masal,” terang Dwi Handoko. (guh)