Merawat “Roh” Istana Kepresidenan

pdip jatim - lukisan koleksi istana merdeka

KOMPAS/WISNU WIDIANTORO Lukisan karya Basoeki Abdullah berjudul Pergiwa Pergiwati (1956) menjadi salah satu Koleksi Istana Kepresidenan yang dipajang di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (19/5/2015).

JAKARTA – Keberadaan enam Istana Kepresidenan di republik ini sulit dipisahkan dari ribuan koleksi karya seni berharga yang tersimpan di dalamnya. Ibaratnya, Istana Kepresidenan itu merupakan raga dengan sejarahnya yang panjang, sementara koleksi seni itu merupakan roh yang menjadikan Istana itu “hidup”.

Hasil pendataan Sekretariat Negara pada 2010, ada sekitar 16.000 koleksi benda seni berharga yang tersimpan di Istana Merdeka dan Istana Negara di Jakarta; Istana Bogor, Jawa Barat; Istana Cipanas di Cianjur, Jabar; Istana Tampaksiring di Bali; serta Gedung Agung di Yogyakarta. Karya seni yang sebagian besar adalah koleksi era Presiden Soekarno itu terdiri dari 2.700 lukisan, 1.600 patung, dan 11.800 karya kriya atau kerajinan.

Meski hasil taksiran saat itu menyebutkan semua koleksi benda seni tersebut nilainya mencapai Rp 1,5 triliun, bisa saja nilai riilnya lebih dari itu. Di antara koleksi seni itu ada sejumlah mahakarya dari maestro lukis Indonesia yang mendunia, seperti Raden Saleh, S Soedjojono, Affandi, Basoeki Abdullah, dan Dullah. Ada pula karya pelukis dunia, seperti Konstantin Egorovich Makovsky (Rusia), Diego Rivera (Meksiko), dan Lee Man Fong (asal Tiongkok yang menjadi WNI).

Karya Raden Saleh berjudul “Penangkapan Pangeran Diponegoro” (1857) dan “Harimau Minum” (1863) termasuk mahakarya koleksi Istana yang berusia lebih dari satu setengah abad. Lukisan “Penangkapan Pangeran Diponegoro” juga memiliki makna historis dan patriotik. Lukisan itu sengaja dibuat untuk “melawan” perspektif sejarah yang terlebih dahulu dihadirkan pelukis Belanda, Nicolaas Pieneman, melalui karyanya yang berjudul “Penyerahan Diri Diponegoro” (1835).

Lukisan Raden Saleh menampilkan sosok Pangeran Diponegoro dengan sorot mata tajam menantang Jenderal De Kock saat ditangkap secara licik oleh Belanda, sementara Pienneman menghadirkan sosok Diponegoro yang tertunduk layaknya petarung yang kalah dan menyerah.

Dua lukisan Makovsky yang menjadi koleksi Istana juga termasuk mahakarya yang berharga dan cukup tua. Lukisan berjudul “Pribite Nevesti” atau Perkawinan Adat Rusia (1881) dan “Vakchanalia” atau Di Kayangan (1891) merupakan dua dari tiga karya berukuran “besar”, yakni sekitar 3 meter x 4 meter yang pernah dibuat sepanjang karier Makovsky. Selebihnya, karya Makovsky yang lain berukuran lebih kecil.

Minim perawatan

Indonesia boleh jadi bangga karena memiliki Istana dengan ribuan koleksi seni berharga, terutama lukisan karya maestro kaliber dunia. Namun, koleksi berharga itu kurang mendapatkan perawatan yang layak. Ini karena minimnya anggaran negara dan ketiadaan tenaga ahli di Istana yang khusus merawat lukisan itu. Akibatnya, sebagian dari lukisan yang umumnya berusia cukup tua itu rusak, tak terurus, bahkan hilang.

Untuk merestorasi atau memperbaiki lukisan yang rusak itu pun bukan perkara mudah karena harus mendatangkan ahli bertaraf internasional. Anggaran negara yang tersedia jelas tak cukup untuk membayar restorator internasional. Sementara di dalam negeri juga belum ada restorator yang mumpuni untuk menanganinya.

Tanpa memerinci besarannya, Kepala Biro Pengelolaan Istana Adek Wahyuni mengatakan, anggaran perawatan benda seni koleksi Istana hanya berkisar ratusan juta rupiah per tahun. Oleh karena itu, perawatan yang bisa dilakukan sebatas membersihkan debu dan restorasi ringan yang tak butuh keahlian khusus. Alhasil, untuk membiayai restorasi berat pada lukisan-lukisan tua, seperti yang dilakukan terhadap dua lukisan Raden Saleh pada 2013, Setneg meminta bantuan pihak lain, seperti Yayasan Arsari Djojohadikusumo dan Goethe Institut.

Persoalan lain, informasi tentang sejarah dari koleksi-koleksi Istana itu masih minim. Upaya pendataan dan penelusuran koleksi Istana pernah dilakukan, tetapi hasilnya belum optimal. “Saya kewalahan dengan koleksi sebanyak itu, sementara di setiap Istana tak ada ahli seni rupa untuk menanganinya,” kata Adek.

Pada era Presiden Soekarno, ada pelukis yang diberi tugas untuk merawat lukisan koleksi Istana. Dullah, Lee Man Fong, dan Lim Wasim adalah tiga pelukis Istana yang ditunjuk Soekarno merawat dalam periode yang berbeda. Sayangnya, hal seperti itu tak lagi dilakukan presiden-presiden berikutnya.

Kecuali, saat presiden kelima RI, Megawati Soekarnoputri. Megawati pernah menunjuk Krisna Danubrata sebagai Staf Khusus Presiden, dibantu Levana Taufan Soekarnoputra, untuk menata dan merawat koleksi Istana beserta desain interiornya. “Ternyata ada lukisan peninggalan Presiden Soekarno yang hilang karena rusak dan mungkin dicuri serta ada yang dipalsukan,” tutur Levana saat dihubungi di Bandung, Jumat (22/5).

Menurut peneliti seni dan pengajar Fakultas Seni Rupa pada Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Mikke Susanto, diperlukan pemeliharaan yang memadai agar setiap tahun tak terjadi penurunan kualitas lukisan koleksi Istana. Untuk itu dibutuhkan perhatian dan kepedulian Presiden guna menyelamatkan dan melestarikan warisan seni di Istana yang tak ternilai harga dan sejarahnya. “Jika Presiden Joko Widodo memberikan apresiasi yang tinggi terhadap karya-karya seni koleksi di Istana, tentu bawahannya juga akan menyesuaikan,” kata Mikke yang pernah jadi konsultan kurator Istana.

Apresiasi dari Presiden itu idealnya tak hanya diwujudkan dengan pengalokasian anggaran yang memadai untuk merawat koleksi seni Istana, tetapi juga dengan usaha memberikan makna akan kehadiran koleksi seni dalam setiap kegiatan di Istana. Usulan itu sederhana, tetapi cukup bermakna. Misalnya, koleksi Istana dijadikan latar belakang saat Presiden menggelar konferensi pers atau bertemu tamu negara. Dengan demikian, “roh” Istana hadir mewarnai dan ikut menghidupkan setiap aktivitas kenegaraan. Jangan seperti waktu Presiden Amerika Serikat George Bush ke Istana Bogor, sejumlah lukisan dan patung di ruang Istana yang sensual ditutupi kain karena dinilai porno.

Langkah konkret yang bisa diambil Presiden untuk menyelamatkan dan melestarikan karya seni koleksi Istana sebaiknya juga membentuk semacam dewan kurator istana. Dewan ini beranggota tenaga-tenaga ahli dan seni yang ditugasi untuk fokus memelihara koleksi Istana. Usulan ini pernah disampaikan kepada pemerintah lalu, tetapi tak direspons. Tanpa kesungguhan, seiring jalannya waktu, tak mustahil karya-karya itu akan semakin rusak dan sirna. (Kompas – C Wahyu Haryo PS)