Megawati: Tak Mau Disebut Petugas Partai, Silakan Keluar!

OLYMPUS DIGITAL CAMERASANUR – Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri, menyilakan kader yang tak mau disebut sebagai petugas partai untuk keluar. Penegasan ini disampaikan Megawato dalam pidato penutupan Kongres IV PDI Perjuangan di Inna Grand Bali Beach Hotel, Sanur, Denpasar, Bali, Sabtu (11/4/2015).

Megawati mengingatkan, bahwa setiap kader partai adalah petugas partai, wajib dan taat pada setiap amanat yang diberikan partai kepada dirinya. “Saya juga petugas partai, saya juga harus taat pada amanah partai. Kalian adalah petugas partai, wajib menjalankan amanah partai yang diamanatkan kongres. “Kalau kalian tidak mau disebut sebagai petugas partai, silakan keluar dari partai,” tegasnya.

Peringatan Megawati ini ditujukan kepada para kader yang menduduki jabatan publik seperti gubernur, bupati, anggota legislatif serta jabatan publik lainnya agar tidak lupa diri bahwa jabatan publik tersebut adalah amanat partai dan melalui perjuangan partai. “Ingat, orang memilih kamu karena PDI Perjuangan,” kata Megawati.

Dalam pidatonya, Megawati juga menyampaikan, PDI Perjuangan memilih Trisakti, ajaran Bung Karno, sebagai pedoman garis perjuangannya mensejahterakan rakyat.

“Saya instruksikan kepada kalian untuk memilih jalan Trisakti yang memperjuangkan, mengarahkan, mengawal politik legislasi, politik anggaran, membuat kebijakan politik serta program kerja yang membumikan ideologi Pancasila 1 Juni 1945 dan menjalankan amanat serta tegak lurus pada konstitusi,” ujarnya.

Megawati juga mengatakan bahwa PDI Perjuangan adalah partai ideologis yang akan selalu menjadikan ideologi Pancasila 1 Juni 1945, dalam setiap gerak langkah perjuangannya. Kerena itu setiap kader partai harus loyal dan taat memegang teguh garis perjuangan partai serta taat pada konstitusi negara yaitu Undang Undang Dasar 1945.

Dia menambahkan, setiap kader harus mengerti, bahwa PDI Perjuangan adalah partai pelopor yang mempunyai ideologi yang menganut demokokrasi demi terciptanya masyarakat yang berkeadilan sosial seperti nilai yang terkandung dalam Pancasila 1 Juni 1945 dan Undang Undang Dasar 1945. “Demokrasi yang menciptakan masyarakat yang berkeadilan sosial ini sesuai dengan dasar hidup budaya bangsa Indonesia,” urainya.

Pada bagian akhir pidatonya tersebut Megawati menyelipkan sebuah puisi yang indah. “Aku itu merindukan bunga Indonesia berkembang kembali. Kembang yang ditimpa cahaya bulan persatuan Indonesia. Dalam bulan yang terang benderang itu semerbaklah sugandi segala bunga bunga yang harum. Itu, kan, indah sekali, itulah Indonesia. Moga moga begitulah perjuangan kita.” (guh)