Megawati: Imlek Jadi Perekat Keanekaragaman

pdip-jatim-Megawati-saat-di-ubayaJAKARTA – Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri mengatakan, tahun baru Imlek sudah bukan lagi sekadar budaya etnis Tionghoa. Presiden ke-5 RI ini berpendapat, Imlek justru menjadi salah satu perekat bagi keanekaragaman di Indonesia.

“Peringatan Imlek menjadi bagian dari jembatan persaudaraan seluruh warga bangsa dan cerminan bagaimana prinsip kebangsaan sungguh merasuk dalam sanubari rakyat,” kata Megawati, sebagaimana siaran pers DPP PDI Perjuangan, Senin (8/2/2016).

Saat menjabat Presiden RI, pada 2003 Megawati menetapkan hari raya Imlek sebagai hari libur nasional. Keputusan Megawati itu merupakan terusan dari keputusan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang menerbitkan Keputusan Presiden Nomor 6 Tahun 2000 mengenai pencabutan instruksi Presiden Soeharto pada tahun 1967 yang membatasi gerak kelompok Tionghoa.

Menurut Megawati, perayaan Imlek juga menjadi salah satu bukti bahwa Indonesia bisa bersatu dalam kebhinnekaan. Imlek, jelas dia, menjadi fundamen yang kokoh bagaimana persatuan Indonesia hadir dengan seluruh keanekaragaman yang ada.

Sementara, Sekjen DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto mengatakan, Imlek menjadi bagian hari besar yang dihormati bersama lengkap dengan seluruh tradisi kebudayaannya. Hal ini, jelas Hasto, tidak terlepas dari kepeloporan Gus Dur dan Megawati Soekarnoputri.

Sedang di era Presiden Joko Widodo sekarang, kata Hasto, imlek menjadi salah satu momentum untuk mempercepat berbagai kerja untuk menghadapi persoalan yang ada. Menurutnya, imlek tahun ini yang memasuki tahun monyet api menjadi simbol untuk melahirkan berbagai pemikiran yang memuat solusi sekaligus memacu semangat kerja.

“Ini sejalan dengan tahun 2016 sebagai tahun monyet api. Kecerdikan, kelincahan, semangat, dan api perjuangan yang disimbolkan dengan monyet api tersebut diharapkan mampu menjadi inspirasi dalam mengatasi berbagai persoalan bangsa ini,” papar Hasto. (goek/*)