Megawati, Franky, Jokowi, dan Laut

pdip jatim - ilustrasi megawati franky jokowi dan lautPADA akhir pidatonya dalam acara memperingati Kelahiran Pancasila dan Pidato Bung Karno 1 Juni 1945, di Kompleks MPR/DPR/DPD di Senayan, Jakarta, Rabu, 1 Juni 2011, presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri sambil meneteskan air mata mengatakan, pemusik dan penyanyi balada Franky Sahilatua (alm) adalah sahabatnya.

Ketika itu, Megawati sambil menahan tangis membacakan syair lagu ciptaan Franky berjudul “Pancasila Rumah Kita”. “Lagu itu indah sekali,” kata Megawati saat itu.

Dalam rangka persahabatannya dengan Megawati, Franky tak hanya menciptakan lagu ”Pancasila Rumah Kita”. Lagu lain yang dia ciptakan untuk Megawati adalah “Ayo ke Laut”, “Aku, Laut, dan Kamu”, serta “Di Dermaga Kayu”. Ketiga lagu ini melukiskan devosi Franky pada laut dan Megawati. Namun, ketiga lagu ciptaan Franky sebelum dia meninggal (24 April 2011) tersebut belum sempat disampaikan kepada Megawati. Mungkin Megawati juga belum pernah mendengarkan lagu itu.

Dalam lagu “Ayo Ke Laut”, Franky mengajak bangsa Indonesia memperhatikan laut karena sebagian besar wilayah Indonesia adalah laut. Begini bunyi sebagian dari syair lagu itu:

Di kota-kota banyak derita

Di kota-kota banyak susah

Banyak cerita air mata tumpah

Banyak patah harapan

Ke laut ayo ke laut

Di sana tersimpan harapan

Di sana tersimpan tantangan

Banyak ombak banyak surga

…laut jati diri kita

Lagu ini diciptakan Franky tahun 2008 setelah seorang wartawan bercerita kepadanya bahwa Megawati bermalam dan tidur di kapal saat dalam perjalanan ke Ternate, Maluku Utara, pada Januari 2000. ”Wah, Ibu Mega pasti cinta laut. Saya harus buat lagu tentang laut untuk beliau dan tentu untuk rakyat Indonesia,” ujar Franky di kediamannya di Bintaro, sore itu.

Kebetulan dalam pidato pelantikannya sebagai presiden dalam Sidang MPR tanggal 20 Oktober 2014 lalu, presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) mengatakan, “Kita telah lama memunggungi laut.” Artinya, telah lama bangsa ini tidak banyak memperhatikan laut.

Di depan peserta pertemuan tahunan Kompas100 CEO Forum di Jakarta pada 7 November 2014, Jokowi sekali lagi mengemukakan tentang pentingnnya laut dan banyaknya pencurian ikan dari laut Indonesia.

Ketika itu, Jokowi mengatakan, pada malam hari, sebagian laut Indonesia seperti pasar malam. Di laut Indonesia banyak pencurian dan transaksi ikan segar yang lalu dibawa ke luar negeri.

Banyak orang luar negeri makan ikan segar dari Indonesia, sementara nelayan kecil Indonesia makan bangkai ikan. Laut Indonesia jadi surga bagi mafia ikan, orang asing, dan sekaligus simbol kesengsaraan nelayan kecil Indonesia. (J Osdar) – Kompas