Megawati dan Kisah Wartawan Jepang yang Dikejar Intel

pdip-jatim-peluncuran-buku-megaJAKARTA – Tomohiko Otsuka, mantan kepala koresponden koran The Mainichi Shimbun, surat kabar berbahasa Jepang yang berkantor di Jakarta, memiliki pengalaman unik bersama Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati saat periode 1996an.

Otsuka yang berada di Jakarta sejak 1994 hingga 2000, menyebut kegiatan hariannya tidak menarik sampai terjadi perubahan pada 1996. Ketika itu Megawati baru saja didaulat sebagai pemimpin PDI.

“Sejak itu dimulai kehidupan yang berbahaya dan saya menjadi saksi pergolakan politik di Indonesia,” kata Otsuka seperti dicuplik CNNIndonesia.com pada Jumat (25/3) dari buku berjudul ‘Megawati dalam Catatan Wartawan: Menangis dan Tertawa Bersama Rakyat.’

Saat sedang meliput aksi bentrokan antara pendukung PDI dengan aparat keamanan di depan Stasiun Gambir, 20 Juni 1996, Otsuka menjadi salah satu korban yang mengalami luka ringan.

“Ketika itu saya tidak tahu berdiri di mana dan harus ikut siapa. Tiba-tiba polisi melihat dan memukul saya,” kata Otsuka dalam acara peluncuran buku itu, Rabu (23/3).

Momen Otsuka menerima pukulan terekam kamera salah seorang koresponden CNN. Selanjutnya, seluruh dunia mengenal Otsuka sebagai korban. Megawati yang mengetahui pemukulan Otsuka dari media, bersedia menerima permintaan wawancara khusus dari Otsuka.

“Otsuka ini aneh. Begitu kenal maunya ikut terus,” kata Megawati saat peluncuran buku.

Otsuka yang sering berdampingan dengan Mega, membuat dia menjadi sasaran intel. Ketika Otsuka dan asistennya, Maria Karsia, meliput kampanye Mega pada 15 Oktober 1997 di Denpasar, Bali, petugas di hotel meminta dia meninggalkan paspor sebagai jaminan.

Permintaan yang dianggap tidak wajar, membuat Otsuka menolak permintaan pihak hotel. Saat sedang menyantap jamuan makan malam bersama kader PDIP, Otsuka mendapat kabar bahwa dia sedang dicari aparat intelijen.

“Ibu Mega meminta saya untuk tidak kembali ke hotel dan menyelinap keluar restoran,” kata Otsuka seperti dicuplik dari buku.

Ketika itu, kata Otsuka, Mega menyadari bahwa aparat dapat menangkapnya meski dengan alasan yang tidak jelas. Aparat bisa melakukan kekerasan yang direstui rezim yang berkuasa.

Pada masa itu, kata Otsuka, Presiden Soeharto yang sedang berkuasa menganggap Megawati sebagai ancaman terhadap keberlangsungan kepemimpinannya.

Secara diam-diam, Otsuka pun keluar restoran dan meminta perlindungan ke Konsulat Jenderal Jepang di Denpasar.  Setiba di kantor konsulat, Otsuka terus berkontak dengan staf Mega. Staf itu mengatakan, aparat mencari keberadaannya di setiap sudut hotel. Aparat juga menanyakan keberadaan Otsuka kepada pihak hotel dan kader PDIP.

Dari percakapan itu, Otsuka juga mendapat saran agar merapat ke Mega saat di bandara keesokan harinya. Menurut si pemberi pesan, intel tidak dapat berbuat apapun terhadap dirinya bila berdekatan dengan Mega.

Otsuka pun menyusun rencana dengan bantuan diplomat Jepang. Dia menuju kantor bandara menggunakan mobil plat diplomatik dengan ditemani diplomat.

Aksi Otsuka bak cuplikan film Mission Imposible. Ketika Mega turun, mobil yang ditumpangi Otsuka menyalip dan berhenti persis di belakang mobil Mega.

“Sekian tahun setelahnya, diplomat itu mengatakan bahwa dia mendapat perintah langsung (dari pemerintah Jepang) untuk mendukung dengan segala risiko dan tanggung jawab,” tulis Otsuka.

Aksi Otsuka dan diplomat Jepang bak cuplikan film Mission Imposible. Ketika Mega turun dari mobil di area kedatangan bandara, mobil yang ditumpangi Otsuka menyalip dan berhenti persis di belakang mobil Mega.

Otsuka pun segera turun mobil dan langsung berjalan di sebelah Mega. Intel yang berada di sekitar Mega terkejut namun tak bisa berbuat apapun. Dia pun aman naik pesawat dan tiba di Jakarta.

Otsuka merupakan salah satu wartawan dari 22 lainnya yang membagi kisah pengalamannya bersama Megawati. Mereka merekam pengalaman itu dalam satu buku ‘Megawati dalam Catatan Wartawan’.

Buku ini diluncurkan Rabu (23/3) di Gedung Arsip Nasional yang dihadiri Megawati dan para tokoh politik lainnya. Otsuka yang kini tinggal di Jepang pun hadir di acara itu. (cnn)